Kenosis Intelligence

Itulah sebabnya egosentrisme (yaitu didefinisikan sebagai kecenderungan menempatkan diri kita sendiri sebagai di pusat segala sesuatu, baik melalui pandangan, perkataan, keputusan, gagasan dan tindakan) serta egoisme (yang didefinisikan sebagai kecenderungan menempatkan kepentingan diri sendiri di depan kepentingan orang lain) telah menjadi musuh utama dalam hal spiritualisme seperti ini.
Alkitab memberikan contoh yang paling baik] tentang pengosongan diri ini dalam Filipi 2, 1-5 yaitu Kristus sendiri sebagai teladan. Dia mengosongkan diri dan mau menjadi manusia sebagai rupa hamba. Maka disini kita akan melihat contoh sebagai gambaran yang paling utama dan tertinggi [ultimate figure]. Namun konsep ini bukan berarti bahwa kenosis adalah sesuatu yang tidak dapat diikuti atau diteladani; sebab meski pun Tuhan telah menunjukkannya Ia juga ingin kita menjadi serupa dengan dengan Dia dalam hal yang sangat mendasar ini. Inilah yang dilihat sebagai pengosongan diri, penyangkalan diri – sekali lagi diri sendiri.

Apakah yang dimaksud dengan kenosis intelligence ? Frase ini berarti kecerdasan kenosis yaitu kecerdasan mengosongkan diri. Istilah mengosongkan diri bukan berarti membuang diri dan tak berarti apa-apa, justru ini untuk menegaskan betapa dalamnya kita menghargai diri

diri sendiri sebagai yang dicipta oleh Tuhan Allah. Bagaimana orang menganggap penting dan berharga pemberian Tuhan melalui tubuh kita, jiwa serta perasaan kita sendiri sebagai bagian yang utuh sehingga semangat kita, pencarian hingga pencapaian kita adalah bukan untuk membangga-banggakan diri kita sendiri tetapi adalah untuk Tuhan.

**
Istilah “diri”, “diri sendiri” telah ditanamkan Tuhan Allah pada kita sebagai ciptaan. Istilah “diri” ini adalah sesuatu yang telah ditemukan manusia sejak lama. Segala pencapaian dan milestone dari pemikiran manusia telah menempatkan diri manusia sebagai pusat dari segala sesuatu materi yang ada di dunia ini.
Kita pernah melihat foto atau gambar dari sebuah bangunan yang besar dan menjulang. Kita tidak dapat membayangkan tingginya atau besarnya bangunan itu dengan baik jika tidak ada skala yang baik. Tetapi kita langsung mengerti besar dan tingginya bangunan itu jika ada gambar seorang manusia disitu. Dengan adanya manusia itu maka ukuran bangunan itu menjadi lebih mudah difahami. Itulah bukti nuklirnya manusia menjadi pusat pengukuran itu.
Demikian juga dengan sujektifitas manusia juga dijadikan sebagai pusat pengukuran dari nilai seni, artistiknya sebuah karya misalnya. Pendengaran manusia menjadi barometer sesuatu musik yang dianggap indah dan baik.
Namun Filipi fasal 2 ini menggambarkan kepada kita tentang pentingnya pemberian diri secara total bagi orang lain. Nah, diri sendiri ini dimaksudkan dengan utuh dan total sebagai pengosongan untuk memberikan tempat atau ruang kepada orang lain. Proses ini diterangkan dengan perkataan ini

“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus ..” [Filipi 2, 5].

Tantangan kenosis intelligence ini menepis stigmatisasi dan kompertementalisasi atas pihak lain, ini juga merubuhkan tembok egoisme, egosentrisme, egofilia hingga narsisme.

Selasa, 31 Juni 2015 ORang yang berserah kepada Tuhan tidak akan capek dengan sendirinya dan itulah yang membuat mereka kuat dan memang mereka super kuat serta afdol (Yesaya 32, 40)

Android3

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s