Kebebasan Orang Kristen Menurut Roma 14, 1-12

wwIni adalah petikan pernyataan hasil penelitian Eric Schmidt dan Jared Cohen dalam buku mereka “The New Digital Age” tahun 2013. Semangat proliferasi pengguna high end technology telah memungkinkan orang menjadi hadir di semua tempat. orang dapat pula menampilkan dirinya sebagai “yang berbeda-beda” pada space dan kesempatan yang berbeda. Lihatlah, semua orang bisa menjadi siapa saja, dan kapan saja tanpa harus dibatasi oleh wilayah, status sosial [dengan pergumulannya] dan juga waktu.
Beberapa orang di antara kita telah menjadi “pribadi” yang lain pada saat perjumpaannya dengan orang lain di dunia virtual. Seseorang bisa menjadi begitu monster dan menyeramkan jika kita membaca postingan atau sekadar komentar super pedasnya di berbagai thread. Waktu kita tahu siapa dia, kita tidak menyangka dia bisa sekeras itu dalam mempertahankan pandangannya itu !? Padahal dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa membayangkan dia adalah seorang yang supel dan murah hati. Bagaimanakah orang Kristen menanggapi tren kebebasan di virtual world [dunia virtual] seperti itu ? Bagaimana pula kita menghadirkan diri sebagai pribadi, dalam physical world [dunia fisik] ini sesuai dengan iman Kristen ?
Di sinilah dunia kita sekarang. Kesempatan berinteraksi dengan sesama kita dalam perjumpaan kita menjadikan semua ini, kita bisa menjadi orang yang berbeda di dunia fisik dan berbeda pula di dunia virtual.
Baiklah, cukup tentang The New Digital Age. Meski itu penting, tapi itu adalah fenomena saja, yang mungkin beberapa tahun akan kita jelang, masa depan adalah tempat dimana kita semua – tiada yang terkecuali manusia ini – lepas dari padanya.
Kini kita akan melihat dalam dunia yang berubah-ubah itu apakah pegangan kita menetapkan suatu interaksi dengan orang lain. Bolehkah kita menghakimi sesama kita jika dia masih terlalu lambat berjalan dan belum maju-maju juga rohaninya ?
Apakah boleh kita memaksakan kemauan kita terhadap apa yang kita percayai dan kini kita lalukan ? Di Roma fasal 14 ini pada bagian-bagian awal kita akan menemukan satu kata kunci yang penting dalam pertumbuhan iman orang percaya.
Saudara, tidak semua orang sama cepatnya dalam pengertian akan firman Tuhan dan tentang iman. Mereka yang sudah maju rohaninya, hendaknya janganlah meremehkan orang yang lemah imannya; atau memakai keyakinannya itu untuk melemahkan orang Kristen lain yang masih “kecil” imannya. Itulah sebabnya rasul Paulus mengatakan, “Janganlah mempercakapkan orang yang lemah imannya, tetapi terimalah dia!” [Roma 14, 1]. Istilah “mempercakapkan” disini dapat diartikan sebagai memperdebatkan atau mempersoalkan [dengan tuduhan]. Kalau begitu, siapakah orang yang lemah itu ? Siapakah sesama kita yang “lemah imannya” ? Mungkin saja itu adalah orang yang baru saja mengenal Kristus atau orang yang baru bertobat, sehingga pengenalannya akan firman Tuhan dan kehendak-Nya belumlah begitu besar dan kuat. Tetapi ada juga orang yang sudah maju imannya, dan dia “kuat” dalam hal pengertian firman Tuhan. Hendaklah orang itu memeliharakan juga saudaranya itu, melalui tidak mempercakapkan, tidak memperdebatkan sampai tidak usah mempermasalahkan hal-hal yang relatif dalam tata hidup orang Kristen. Untuk hal-hal yang relatif, tidak usah berdebat dengan dia; atau jangan memaksakan pendapat dan kebiasaan kita kepada mereka, sebab itu justru bisa membuat mereka menjadi lesu dan semakin lemah pula semangatnya dalam pengenalan akan firman Tuhan.
Tetapi jika itu bersifat fundamental, hal yang mendasar sekali dan mutlak dalam iman Kristen, janganlah kita takut untuk membicarakan atau memperdebatkannya dengan orang lain. Jadi marilah kita sama-sama memutlakkan apa yang mutlak, tetapi jangan merelatifkan apa yang mutlak. Misalnya tentang ajaran, gereja adalah tubuh Kristus dan organisme yang hidup oleh karena Roh Kudus. Ini mutlak. Ajaran Trinitatisme, ini mutlak. Jangan direlatifkan.
Demikianlah, jika kita sudah mengenali prinsip awal penting ini maka kita bisa melihat bagaimana kita berinteraksi dengan orang lain. Tidak usah kita menghabiskan waktu dan energi untuk hal-hal yang relatif; tak mungkin kita paksakan kepada orang. Salahlah orang yang mengatakan, saya makan daging. Kalau ada orang yang tidak makan daging, hanya sayur dia tidak akan selamat ! Itu pasti memutlakkan apa yang relatif [Roma 14, 2-3]. Jika ada orang yang cukup dengan sayur, baiklah itu. Tidak usah dipaksakan. Maka dengan siapa pun kita bisa berinteraksi, bergaul dan berdoa supaya semua orang sama-sama bertumbuh dalam imannya. Pokok ini sangat penting.

Selasa, 30 Juni 2015 Ya itu yang berserah kepada Tuhan tidak akan capek dengan sendirinya dan itulah yang membuat mereka kuat dan (Kolose 3, 23)

Android3

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s