Jamita Minggu Trinitatis, 15 Juni 2014

Turpuk : 1 Musa 1, 1-2+4a
Kejadian 1, 1-2+4a

Andigan do mamungka 2 tamba 2 sama dengan 4 ? Sadihari do adong i!? Tontu, andorang so tubu pe si Maxwell manang ahli matematika na asing, nunga tibu hasintongan i.
Idaonnta ma nuaeng jamita di bagasan barita panompaon on.
Kalimat pertama dari Alkitab kita adalah „Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi”. Ini bukanlah hasil penyelidikan, atau sebuah topik untuk debat atau sebuah proses pencarian, namun inilah iman yang dinyatakan dalam kitab suci.
Kalimat ini menyatakan bahwa ada permulaan! Tetapi permulaan dari apakah !? Permulaan dari alam yang dicipta atau permulaan sang Pencipta ? Ini bukanlah permulaan dari Allah Pencipta. Tetapi ini adalah mula dari alam yang dicipta. Inilah awal sekali, awal yang mula. Kejadian 1 adalah permulaan dari ciptaan, dan disinilah waktu dimulai.
Waktu adalah tempat atau wadah dari semua eksistensi. Segala sesuatu yang dicipta ada di dalam waktu. Allah mencipta, maka segala sesuatu menjadi ada. Allah menempatkan keberadaan segala sesuatu dalam waktu yang dicipta-Nya dalam ruang yang diciptakan-Nya. Ruang [space] dapat diukur, tetapi tidak demikian dengan waktu. Maka segala ciptaan berada dalam wadah ruang dan waktu.

„Langit dan bumi” dalam ayat 1 menunjuk kepada segala sesuatu yang dapat dilihat. Keberadaan kita adalah di dalam langit dan bumi. Itulah yang disebut sebagai alam. Semua agama dan kepercayaan memiliki pandangan tentang alam ini, tetapi Alkitab mencatat kalimat pertama ini, yaitu, bahwa Allah Pencipta.

pr1 advr below 600x125Allah Pencipta! Maka hanya Allah yang tidak dicipta, yang lain adalah ciptaan. Allah mencipta waktu dan ruang sebagai wadah dari segala sesuatu ciptaan. Allah tidak dibatasi oleh waktu dan ruang. Hanya Allah yang melampaui waktu dan ruang. Maka mencari Allah dalam rentang waktu [Kapankah Allah ada ?] adalah salah, sebab kita tidak akan menemukan Dia. Sama, jika kita ingin mencari Allah dalam batasan ruang [Dari mana datangnya Allah ?] kita salah dan tidak akan menemukan Dia. Kita berada di dalam waktu dan ruang, jadi bagaimana kita mencari tahu yang melampaui waktu dan ruang itu ? Ini sangat sulit.
Itulah sebabnya banyak orang akhirnya berfikir bahwa alam semesta ini terjadi dengan sendirinya. Inilah yang menjadi konsep evolusionisme, yang mereka yakini sebagai hasil dari penelitian ilmu pengetahuan. Dan evolu-sionist menganggap bahwa mereka yang percaya kepada penciptaan tidak berdasar ilmu pengetahuan. Dan ini meruncing menjadi ekstrem seolah evolusionisme berdasar pada ilmu sedang yang menerima penciptaan berasal dari takhyul. Benarkah kekristenan, imannya itu tidak kena mengena dengan ilmu. Apakah pendapat kita tentang ini ?
Pertama, kita perlu menegakkan konsep self existence. Kapankah 2+2 = 4 mulai ? Jawabnya, pernyataan ini tidak perlu permulaan. Itu selalu benar. Itu juga tidak akan berubah seiring dengan berjalannya waktu. 2+2=4 tetap. Sebelum para ahli matematika lahir pun, kenyataan itu sudah ada dan benar.
Itulah pikiran tentang self existence. Keberadaan yang dari dirinya sendiri tanpa memerlukan pencipta. Seperti itulah Allah, yang adalah Dia yang tidak dicipta. Dia tidak membutuhkan penyebab sehingga menjadi ada. Dia adalah kebenaran itu sendiri. Namun disinilah ketegasan ajaran Alkitab, bahwa Allah bukanlah materi, Dia adalah Roh dan Dia Sendiri-lah kebenaran itu. Kebenaran yang Berpribadi. Agama dan kepercayaan lain tahu bahwa kebenaran itu adalah sesuatu yang kau percaya kepadanya, tetapi Alkitab mengatakan „Allah adalah kebenaran dan kehidupan” [Yoh. 14, 6]. Itulah sebabnya hubungan mereka yang mencari kebenaran itu dengan Dia ada hubungan yang hidup, bukan hubungan yang mati.
Kedua, Allah melihat bahwa segala yang dicipta itu adalah baik [ayat 4]. Dalam cerita penciptaan berulang kali dikatakan bahwa Allah melihat ciptaan-Nya itu baik adanya. Namun sesudah kejatuhan manusia dalam dosa, ciptaan itu menjadi rusak. Termasuk manusia, yang melakukan dosa dan kejahatan. Bahwa ciptaan itu menjadi tidak baik, tetapi Tuhan pencipta itu baik pada diri-Nya. Sama seperti Alkitab, orang bisa saja salah mengertikan atau menafsirkannya tetapi yang pasti tidak ada yang salah dengan Alkitab itu karena itu diwahyukan Tuhan Allah melalui Roh-Nya [2 Tim. 3, 16].

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s