Mengamalkan Kasih Persaudaraan [1 Petrus 1, 17-23]

Jamita untuk minggu 4 Mei 2014 ini adalah lanjutan dari jamita minggu lalu, 27 April 2014. Sekuel surat-surat ini begitu terasa dalam kiriman Rasul Petrus ini. Jika pada minggu lalu, kita dibekali dengan pikiran bahwa kebangkitan Kristus menjadi dasar dari kehidupan dan pelayanan kita di gereja dan persekutuan orang percaya. Kebangkitan Kristus menjadi motor menggerakkan seluruh persekutuan dan hidup yang bernilai, meskipun orang-orang percaya tidak lekang dari kesusahan dan penderitaan oleh majikan atau pemerintah yang lalim [2, 18], ada saudara yang tidak setia sehingga tantangan terhadap keluarga-keluaraga orang percaya [3, 1. 6]. Tetapi rasul pengharapan ini pun mengingatkan supaya janganlah ada orang mengalami penderitaan karena dosa atau perbuatan jahat yang dilakukannya[3, 17]. Dengan pandangan seperti itulah maka sekarang rasul menekankan salah satu aspek penting kehidupan bersama dengan saudara. Bagaimanakah kita bisa menjadi saksi Kristus di dunia ini jika, persekutuan sesama orang percaya tidak menjadi teladan atau tiruan bagi dunia ini ?
Bagaimana gereja bisa menyuarakan kebenaran dan keadilan, jika di dalamnya masih ada orang yang saling menyalahkan atau gontoxgontokan perselisihan yang tidak habis-habisnya !? Maka benarlah, kata seorang pengkotbah bahwa kekuatan yang paling kuat menghancurkan gereja sebenar-benarnya bukan berasal dari luar gereja itu, tetapi dari dalam. Melawan kekuatan dan kejahatan dari luar [eksternal] maka gereja harus bersatu dan saling bergandengan tangan; tetapi jika kesulitan itu berasal dari dalam dirinya sendiri, bagaimanakah ia bisa bertahan!? Ini menjadi semacam usaha self destruction, kekuatan untuk menghancurkan dirinya sendiri. Nah, bagaimanakah menghayati kasih persaudaraan yang benar di dalam gereja menurut Rasul Petrus ?

Pertama,

Padunya kekudusan dan kasih persaudaraan.

“Karena kamu telah menyucikan dirimu oleh ketaatan kepada kebenaran, sehingga kamu dapat mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas..” [ayat 22]. Tahukah Saudara, satu-satunya orang yang pernah memadukan kedua hal ini di dalam dunia adalah Yesus Kristus. Saat hidup kudus, suci dan tak bercela hingga akhir di kayu salib, ia memancarkan kasih kepada seluruh manusia. The only one man whose do that is Jesus Christ. Memadukan dan menjodohkan hidup suci dan kasih, adalah pekerjaan yang berat luar biasa. Ada banyak orang yang berusaha mendirikan hidup kudus, misalnya dengan hidup selibat, puasa dan menjauhkan diri dari segala macam kejahatan dan pengaruh dunia ini tetapi saat saudaranya datang memberitahu bahwa saudaranya sekarang sudah menjadi raja; maka bangkitlah amarahnya. Dia tidak rela saudaranya sendiri mengambil takhta kerajaan. Tentu hidup suci bukan dengan usaha-usaha manusia seperti itu. Justru karena kita hidup di dalam dunia, berbaur dengan dunia ini tetapi tidak berkompromi disitulah usaha menunjukkan hidup kudus menjadi lebih berarti. Apakah Tuhan menempatkan kita di dunia lain, di tempat yang steril dari kesulitan dan godaan!? Tidak! Kita harus berada disitu untuk menunjukkan kehidupan yang suci. Jika kitab ini dilingkupi oleh semangat pengharapan orang yang sudah ditebus, maka dalam bagian ini kita juga melihat bagaimana tepat perkataan Tuhan Yesus. “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah!” [Matius 5,]. Pengharapan “melihat Allah” dalam jawaban bagi mereka yang memelihara hidup kudus. Itulah pengharapan orang kudus yaitu melihat Allah. Maka untuk poin pertama ini, benarlah perkataan-perkataan orang terdahulu dari kita “Orang kudus bukanlah karena dia tidak pernah melakukan dosa; tetapi mereka adalah orang yang memakai sensitifitas yang besar terhadap dosa-dosa yang kecil!” Jadi jika terhadap dosa-dosa yang kecil kita memakai sebuah sensitifitas yang tinggi, yang kuat sehingga kita tidak mudah jatuh dan bingung menentukan sikap; [maka] apalagi terhadap dosa-dosa yang lebih besar!? Inilah maksud dari perkataan ini. Maka biarlah orang memakai kepekaan yang besar, yang kuat dan akurat untuk menentang dosa kecil atau yang kelihatan remeh.

Kedua,

Kasih persaudaraan adalah Menerima perbedaan.

Cinta kasih adalah bisa menghargai orang lain yang berbeda, yang benar-benar distinctif. Bukan menghasihi yang paling agung, paling cantik dan kaya. Mengasihi yang cantik!? apa susahnya. Mengasihi yang baik, siapa tidak bisa!? Tapi karena berbeda, karena aneh menurut kita maka itu adalah kesempatan bagi kita mengasihi dengan sngguh-sungguh. Tuhan Yesus pernah mengatakan Aku memberikan perintah baru kepadamu : Kasihilah satu dengan yang lain, itulah tandanya kamu adalah murid-Ku. Mengapa ini menjadi baru; atau tetap baru. Ya, karena memang jika dalam PL mengasihi lebih bersifat individual, maka Perjanjian Baru menekankan mutual love. Mengasihi seorang atau sesama satu sama lain. Tetapi pengharapan orang yang mengasihi kita juga menjadikan kasih seperti itu menjadi berbeda.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s