todays: Kemarahan Yang Kudus [Lukas 19, 45-46]

Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mulailah Ia mengusir semua pedagang di situ, kata-Nya kepada mereka : “Ada tertulis : Rumahku adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun [Lukas 19, 45-46]

Mengapa dikatakan sebagai kemarahan yang kudus !? Atau kemarahan yang agung?
Tuhan Yesus begitu marah melihat ada orang-orang yang berdagang di bait suci. Pada waktu itu tindakan pertama sesudah kedatangan-Nya ke Yerusalem adalah membersihkan bait Allah dengan mengusir orang-orang yang berjualan di pelataran bait Allah. Pada waktu itu, ramai orang datang dari berbagai penjuru untuk merayakan hari raya pondok daun. Maka ada orang yang sengaja hendak mengambil keuntungan dengan memperjualbelikan uang, binatang-binatang untuk korban dan juga perlengkapan-perlengkapan lainya kebutuhan orang.
Yesus begitu marah, dan kemarahan-Nya adalah dengan alasan yang jelas. Bahwa orang-orang yang berjualan di situ sengaja dengan mempergunakan kesempatan itu untuk melakukan penipuan dan timbangan yang tidak jujur. Seringkali praktek ini terjadi di dunia Palestina; dan banyak penulis meneliti bahwa memang itulah yang terjadi di bait Allah pada waktu itu.
Waktu kita memperhatikan lukisan tentang kemarahan Yesus : dengan menjungkirbalikkan semua barang-barang dagangan orang, burung merpati dan gemerincing koin-koin logam [perlu dicatat bahwa keempat Injil juga menuliskan peristiwa ini].
Pada tempatnyalah Yesus marah!? Kalau Yesus begitu murka dan dengan memakai seutas tali menjadi cemeti mengusir orang-orang itu, tokh tidak ada yang benar-benar keberatan bukan. Itu hanya menunjukkan bahwa Tuhan dalam keadilan dan kebenaran melakukan tindakan-Nya. Tak pernah Ia mundur sedikit pun, meski itu harus berarti perlawanan dan pertentangan dari orang Farisi.
Ada kalanya kemarahan seperti ini kita alami, kemarahan yang agung dari Tuhan. Terkadang Ia mencambuk kita, hanya untuk menghalau kita untuk tidak semakin jauh tersesat dan meninggalkan-Nya. Itulah kemarahan yang kudus, yang mengingatkan kita tentang cinta kasih Tuhan; Ia menghajar orang yang dikasihi-Nya. Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak [Ibrani 12, 6]. Tak pernah dibiarkan-Nya anak-anak-Nya bertumbuh di dalam kekeliruan dan tetap melakukan kesalahan. Dia selalu mengajar dan menghajar kita pada waktunya untuk menggarap kita menjadi semakin taat kepada Tuhan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s