todays: Demi TUHAN yang hidup, sesungguhnya, apa yang akan difirmankan Allahku, itulah yang akan kukatakan! [2 Taw. 18, 13]

Tetapi Mikha menjawab, “Demi TUHAN yang hidup, sesungguhnya, apa yang akan difirmankan Allahku, itulah yagn akan kukatakan!” [2 Taw. 18, 13]

Dulu anak-anak di kampung kami, di Asahan punya kebiasaan membuat kesaksian dengan mengatakan “sungguh!?” tanya temannya. “Sungguh!” Sungguh mati! Itu adalah semacam sumpah atau janji yang dibuat anak-anak. Lalu untuk menunjukkan kesungguhan itu maka dia meludahi tangannya sendiri hehe.. [bukan tangan temannya!] Inilah sejenis sumpah bagi anak-anak, kalau yang disampaikan atau dikatakannya itu benar. Bahkan ada yang sangat takut kepada namanya kalau sumpah pocong. Anak-anak begitu takut.
Tapi ternyata bukan hanya anak-anak yang suka sumpah. Orang dewasa juga sering suka sumpah. Demi Allah! lagi katanya. Kalau sumpah demi nama wak haji mungkin tidak mempan. Sumpah demi KEpala Desa mana kuat. Demi bupati!? Tidak kenal. Maka sekalian sumpah harus demi yang paling besar, demi Tuhan, demi Allah!
Inilah salah satu kesulitan kita. Menyaksikan yang benar itu sangat susah. Tidak ada saksi. Maka orang perlu bersumpah, berikrar demi ini dan demi itu. Supaya kesaksiannya diterima dan dianggap benar. Maka banyaklah orang bahkan demi kesaksian palsu mereka berani bersumpah.
Pertanyaannya, bolehkah orang Kristen bersumpah !? Bolehkah?
Memang alkitab mencatat bahwa ada orang yang bersaksi dan bersumpah. Mereka bahkan bersumpah demi Allah yang hidup. Misalnya Abraham juga pernah bersumpah demi Allah yang hidup, saat dia bersaksi tentang persahabatannya dengan Abimelekh [Kejadian 21, 22ff]. Demikian juga Yakub dalam Kejadian 31, 53 [itu kepada orang ‘asing’ yaitu Laban mertuanya]. Pada masa Perjanjian Baru juga rupanya orang sering bersumpah, dan itu sering dilakukan. Maka tentang itu Yesus berkata, “Katakanlah ya jika ya, katakan tidak jika tida!” Selebihnya itu berasal dari si jahat [Matius 5, 37]. Itu saja!
Jadi bolehkah orang Kristen bersumpah !? Misalnya dalam pelantikan di jabatan, orang boleh bersaksi, atau di pengadidlan itu adalah hak kita untuk meyakinkan bahwa apa yang akan kita saksikan adalah benar dan valid.
Tetapi jauh lebih penting adalah mengatakan ya jika ya, tidak jika tidak. Itu menjadi pedoman bagi kita orang percaya untuk menyatakan kesaksian dan berkata benar. Firman ini tentu menjadi prohibition bagi kita, berkata dengan benar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s