todays: Janganlah kamu menoreh-noreh dirimu ataupun menggundul rambut di atas dahimu karena kematian seseorang [Ulangan 14:1]

“Kamulah anak-anak TUHAN, Allahmu; janganlah kamu menoreh-noreh dirimu ataupun menggundul rambut di atas dahimu karena kematian seseorang” [Ulangan 14:1]

Betapa relevannya perkataan ini bagi anak-anak Tuhan!? Betapa peraturan-peraturan dari Tuhan sendiri adalah peringatan penting bagi anak-anak-Nya sepanjang masa.
Pernah dulu, ketika bangsa itu sedang berduka mereka mencukur kepala, membuat jelaga ke kepalanya tanda perkabungan yang sungguh. Memang tindakan seperti itu adalah tanda duka dan perkabungan yang sangat dari seseorang yang ditinggal mati oleh suami atau istri atau anaknya sendiri. Itu dilakukan oleh Ayub, dia kehilangan seluruh anaknya. Nama Ayub dalam bahasa Batak adalah Job; dan sama seperti namanya itu anak-anaknya, 7 laki dan 3 perempuan mati pada satu saat, job. Habis! Musnah semuanya. Dia mengoyak pakaiannya, mencukur kepalanya dan duduk di atas abu. Demikian juga Yakub, yang diberitahu pada awalnya oleh anak-anaknya, bahwa anak kekasihnya Yusuf telah mati! Dia merobek pakaiannya dan duduk di tataring dan menaruh abu itu ke atas kepalanya, dan bahkan dia tidak mau dihibur.
Apakah mereka melawan perintah itu!?
Mereka tidak menoreh-noreh, menggores-gores tubuh mereka karena kehilangan itu. Tidak perlu tato seperti itu, apalagi untuk gagah-gagahan. Seni bahkan dapat diperbuat di kanvas lainnya. Bahwa mereka berduka, duduk di jelaga itu toh seperti Ayub dia tidak sedikit pun kedapatan bersalah karena tindakannya [Ayub fasal 1]. Sebaliknya dia berkata, dengan telanjang aku datang dari rahim ibuku, dengan telanjang aku kembali kepada Dia.
Memang pengalaman karena ditinggal orang tua, kekasih, suami atau istri maupun anak-anak saya kira adalah pengalaman yang paling getir yang kita alami; kita menangis dan berlinang air mata membayangkan perpisahan itu. Kepahitan itu kadang membuat kita jerih menjalani kehidupan ini. Tapi apakah pengharapan. Disebutkan dalam lanjutan ayat ini “sebab engkaulah umat yang kudus bagi TUHAN, Allahmu, dan engkau dipilih TUHAN untuk menjadi umat kesayangan-Nya dari antara segala bangsa yang di atas muka bumi ” [ayat 2].
Ini bisa menjadi penghiburan bagi kita juga pada masa ini; meski menghadapi hal yang paling pahit seperti ditinggal orang yang kita kasihi, hormati dan masih kita harapkan kehadirannya – siapa yang tidak mengalami itu!? So, demikianlah orang bersandar diri kepada Tuhan. Dia yang memberi, Dia mengambilnya; terpujilah Dia!

Bacaan Pada Khotbah Minggu, 16 Maret 2014 :
Siapakah Nikodemus [Yohanes 3:1-17]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s