Jamita Minggu, 16 Februari 2014 [5 Musa 30: 15-20]

Tentu hanya untuk menjadi berbeda dengan yang lain tidak susah. Itulah namanya asal beda, asal tidak serupa dengan orang lain. Ada orang yang ditanya saudaranya, kenapa kamu tidak seperti temanmu ? Lalu dia menjawab, “Kenapa mesti seperti itu!?” Hah, bertanya pula dia kembali. Mengapa kamu tidak mandi? Dia bilang, mengapa mesti mandi. Ada banyak pertanyaan-pertanyaan yang dijawab lagi dengan pertanyaan kembali.
Pada masanya orang akan menemukan kembali orang-orang seperti itu. Orang tua pada waktunya akan mendapat jawaban-jawaban yang tidak tertebak dari anaknya. Jawabannya kok di luar dugaan gitu loh ma! Kata seorang guru kepada orang tua murid, saat ditanya apa kado buat kakak yang berulang tahun. Dedek, kasih hadiah apa untuk ulang tahun kakak ? Orang dewasa mengira si anak akan menjawab bahwa dia akan memberikan mainan atau baju yang dijadikan hadiah dan lain-lain yang biasa diberikan. Tapi si anak menjawab, “Yang terrrbaik!!” Loh!? Sampai disitu kira-kira sudah berhasilkah pendidikan anak di keluarga kita !? Saya tidak akan membahas peranan keluarga dan interaksi di dalamnya terhadap perkembangan anak, dan seterusnya disini.
Topik di atas, what makes it different adalah sesuatu yang menjadi pencarian dari kita semua. Orang tentu tidak ingin tampil asal beda. Orang tentu memiliki alasan-alasan mengapa memilih ini atau itu ? Jadi bukan hanya semacam sikap, pokoknya beda asal lain dari yang lain. Atau seperti fanatisme picisan sebuah kelompok remaja atau geng-nya. Yang penting kita punya ciri khas! Tentu bukan ini yang dimaksudkan di sini. Tapi pada pilihan yang memenuhi pertanggungan jawab.
**
Sebuah bangsa seperti Israel, saya bayangkan tentu sedang menghadapi masa yang sulit sampai pada waktu itu. Mereka harus berhadapan dengan banyak budaya dan peradaban yang menyilaukan mata mereka. Perjumpaan-perjumpaan (encounters) seperti itu membuat mereka tidak boleh tidak harus memilih. Jadi apa dan mana yang harus dipilih!?
Satu sisi mereka sebagai bangsa terus menerus diingatkan dengan ritus penyembahan dan peribadahan kepada Tuhan Allah. Ibadah-ibadah dengan ketat mengingatkan mereka akan perlunya hidup kudus dan bersikap adil dihadapan Tuhan. Ibadah-ibadah itu harus menjadi kekuatan bagi mereka dalam melakukan aktifitas hidup mereka, yang sebagian besar hidup dalam dunia agraria. Keberhasilan dalam dunia pertanian itu bagi bangsa-bangsa di Timur Tengah Kuno dipercayai sebagai yang sangat erat berhubungan dengan penyembahan kepada dewa-dewa mereka. Dewa yang marah tidak akan memberkati tanah dimana mereka mananam benih, bahkan dewa yang marah itu akan mengutuk dengan memberikan wabah dan hama serta musuh bagi tanaman mereka. Hal ini tidak susah kita mengerti, sebab sampai sekarang ada yang mengatakan dewi padi, ada penjaga keberhasilan di cocok tanam di berbagai tempat di dunia ini.
Itulah sebabnya Musa menghadapkan kepada bani Israel suatu pemilihan yang penting pada waktu mereka sudah akan tiba di Kanaan [Ulangan 30, 15-20]. Mereka harus berbeda dengan bangsa-bangsa lain yang mereka jumpai, hanya karena mereka adalah umat yang dipilih Allah sendiri. Tuhan Allah sendiri menuntun mereka day by day sampai sejauh ini menjadi umat-Nya tinggal di negeri jauh.
Inilah yang mereka harus perbuat untuk tetap hidup berkenan di hadapan Tuhan, yaitu mengasihi Tuhan Allah, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan berpegang pada perintah, ketetapan dan peraturan-Nya, supaya mereka hidup, bertambah banyak dan diberkati Tuhan [Ulangan 20, 16]. Satu lagi, mereka akan diberkati di “negeri [tempat] dimana pun mereka masuk untuk mendudukinya” [Ulangan 20, 16].
Bukan kebetulan tentunya, tahun 2014 bagi bangsa ini menjadi tahun pemilihan sehingga Khotbah Minggu 16/2 ini Keluaran 20, 15-20 dijadikan nas renungan. Sebab memang setiap saat kita sedang berdiri pada sebuah pemilihan. So what makes us differ ? Yang membuat kita berbeda karena pilihan kita! Karena terikat kepada Tuhan.

Related Articles :
Scrap Kotbah 22 Agustus 2010 : 1 Korintus 3, 1-11
Khotbah Minggu, 2 Februari 2014 : Mikha 6, 1-8
Khotbah Untuk Minggu 9 Februari 2014 : Matius 5, 13-20
Khotbah Minggu 16 Februari 2014 : Ulangan 30, 15-20

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s