Saksi Mati

Di dunia peradilan kita qmembutuhkan saksi. Untuk suatu perkara pelik pasti saksi mata, saksi hidup, saksi langsung dari peristiwa itu sangat dibutuhkan. Dengan adanya saksi seperti itu maka keputusan dan vonis dapat diambil sejelas mungkin mendekati kebenaran.

Yang namanya saksi tentu hidup. Tapi tahukah kita, ada kalanya bahkan saksi yang sudah mati pun menjadi sangat penting. Yang sudah mati disuruh menjadi saksi!? Bisa emangnya!? Tapi itulah yang terjadi dalam cara-cara orang yang ingin melangsungkan adat istiadat belaka.Untuk dapat disebutkan sebagai “Saur Matua” maka seseorang yang meninggal dunia keturunannya minimal semua sudah berumah tangga. Sebab jika masih ada anak yang belum menikah, maka adat untuk orang itu tetap disebutkan sebagai “Sari Matua”. Dan disinilah kejadian itu berlangsung. Saat ada satu anak yang belum menikah, maka di hadapan mayat orang yang meninggal itu bahkan diadakan “pasupasu raja” anaknya diberkati oleh tua-tua untuk menjadi satu keluarga. Hanya supaya orang yang mati itu bisa disebut sebagai “Saur Matua”. Jadilah orang yang meninggal itu menjadi saksi. Itulah “saksi mati”. Lalu orang itu berkata, “Lihatlah, sekarang anakmu sudah diberkati dihadapanmu, kau menjadi saksi!” Hah, Bahkan orang yang hidup pun tak cukup menjadi saksi sebuah pernikahan. Orang yang sudah mati, terbujur kaku, tak tahu dan tak bisa apa-apa lagi diminta menjadi saksi. Itulah salah satu kesulitan polemik adat orang Batak!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s