Ketekunan Dalam Iman & Doa

Renungan Atas Roma 12, 9-12

Saudara yang kekasih,

Pada masa ini bukankah ketekunan menjadi sebuah pengertian yang penting? Ketekunan dalam arti menjadi setia, tetap atau konstan dalam pekerjaan kita. Dalam kasih, dalam penghormatan kepada sesama, dan konstan pula dalam melihat peranan kita masing-masing sebagai pribadi, sebagai sesama bagi yang lain.

Betapa sering kita kesulitan dalam pekerjaan kita karena memang kita kurang tekun. Betapa sering pula kita merasa pekerjaan dan peranan kita tidak maksimal hanya karena kita kurang tekun.

Orang Batak punya istilah untuk ketekunan ini, “Sinunut do raja ni ompuna”. Jadi ketekunan disertai dengan kesabaran adalah sesuatu yang dipandang menjadi sebuah kebajikan dan kebijaksanaan bagi orang Batak.

Alkitab juga memandang ketekunan ini sebagai sesuatu yang penting (mis. Kol. 1, 23; 1 Tim.4, 16; Yak. 5,11; dll.). Itulah sebabnya kita membaca, “Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala..” (ayat 11) dan “.. bertekunlah dalam doa!” (ayat 12). Doa itu menjadi sebuah “usaha” rohani yang tidak henti-hentinya kita lakukan. Karena selain itu kita tahu, doa juga tampak dalam usaha kita, dalam kesungguhan kita bekerja dan melayani.

Jika dulu orang Batak di perantauannya dikenal sebagai orang yan gigih dan ulet dalam pekerjaannya, itu harus kita syukuri. Orang Batak yang pantang menyerah dalam berusaha. Atau mungkin orang Batak yang gigih menyekolahkan anak-anaknya sampai ke tingkat yang tinggi. Orang Batak identik dengan jugul – jugul di sini berarti tekun, ulet dan pantang menyerah. Namun sekarang, orang-orang dari suku lain di nusantara ini kini kelihatannya sudah melakukannya. Mungkin agar sebutan ini tidak lagi hanya sebatas sebutan, kita harus bersungguh-sungguh dalam ketekunan bekerja, belajar dan berusaha.

Be Constant and Persistent. Jadilah tekun. Tekun sebagai seorang ibu yang mengajar anak-anaknya dengan kesetiaan dan doa, meski dia tidak mempunyai metode-metode mendidik banyak seperti yang lain. Tekun merawat orang-orang yang ada di sekitar kita, yang sakit, yang lemah, yang membutuhkan perhatian demi perhatian dari kita.  Jadilah tekun sebagai seorang anak di sebuah keluarga.

**

Sebagian orang menyadari ketekunan itu berarti fokus, terfokus pada satu hal atau pekerjaan. Itu baik. Sebab jika kita melakukan banyak hal pada saat yang sama kita cenderung tidak maksimal. Karena itu orang melakukan kerja yg semakin spesifik dan khusus. Orang berkarya dalam bidang yang lebih khusus; orang meneliti sesuatu yang lebih khusus. Tapi jangan lupa, bahwa sebagai pengikut Tuhan kita punya tujuan yang tertentu, yang fokus yaitu keselamatan, karena menerima Kristus sebagai juruselamat.

Tuhan Allah pernah menyalakan api kehidupan ke dalam diri manusia saat menciptanya. Api itu adalah roh dan semangat untuk menjadi umat Allah, roh untuk hidup sebagai ciptaan. Nah, api itulah yang perlu kita pelihara supaya jangan padam, kata Pdt Dr Justin Sihombing (Ephorus HKBP 1942-1962). Sama seperti seorang di tungku perapian dan memasak perlu menjaga agar nyala apinya tetap baik, demikian Allah memelihara kehidupan kita dengan semua berkat dan penyertaan-Nya. Tugas kita adalah juga memeliharakan berkat Tuhan itu dengan tetap menjaga nyala roh yang berkobar-kobar dalam apa pun yang kita hadapi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s