todays9 : Belas Kasih Kepada yang Lemah Didasari kasih Kepada Tuhan

Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi TUHAN, yang akan membalas perbuatannya itu (Amsal 19, 17)

Na pasali Jahowa do manang ise na mardenggan basa tu na pogos, jala Ibana mamaloshon denggan basana i tu ibana.

*

Hari ini kita diingatkan penulis kitab Kebijakan ini, tentang satu sisi kemanusiaan kita. Adalah penting menyadari bahwa Allah menanamkan “chip” belas kasihan kepada diri setiap kita. Hal itu sejak awal telah ditanamkan Tuhan dalam diri kita sebagai makhluk ciptaan. Lihatlah, kita mulai tergerak dan ikut merasakan penderitaan orang yang kesusahan, yang kemalangan, atau yang kehilangan orang-orang yang mereka kasihi. Kita mudah merasa simpati dan berempati. Benarlah perkataan Rasul Paulus dalam Roma 12, 15 “Menangislah bersama mereka yang menangis, dan tertawa bersama orang yang tertawa”. Hal itu ada di diri kita; ikut merasakan perasaan sesama.

Dalam dunia peribadatan orang Yahudi ada tiga hal penting yang harus dilakukan, yaitu Doa, Puasa dan Berderma (Sedekah). Dari ketiga hal itu yang paling utama adalah memberi derma atau sedekah kepada orang-orang miskin atau orang lemah. Para rabbi Yahudi juga mengajarkan bahwa melakukan ketiganya adalah hal baik yang mesti dilakukan secara sungguh-sungguh. Namun orang Yahudi melihat ada motivasi lain dengan memberi sedekah, misalnya bahwa mereka melakukannya saat dilihat atau disaksikan orang lain. Ada cerita yang berkembang di kalangan Yahudi, jika seseorang memberikan derma maka itu harus diwarta-wartakan, atau diumumkan di depan khalayak. Bahayanya kasih seperti ini, jika tidak ada yang melihat maka orang tidak memberi derma atau pertolongan.

**

Sebagai umat yang hidup oleh belas kasihan Tuhan! Kita menyadari bahwa menolong sesama atau memberikan bantuan kepada mereka yang lemah adalah wujud dari ucapan syukur kita. Karena kita dikasihi maka kita juga harus hidup dalam belas kasih kepada sesama, terutama yang lemah, yang sakit dan mereka yang kekurangan. Di dalam Tuhan kita menjadi sesama. Hanya di dalam kasih kepada Tuhan  maka kasih kita kepada sesama menjadi sungguh-sungguh berarti. Karena Allah adalah kasih itu sendiri (1 Yoh. 4, 8+16). Bukan untuk mencari pujian diri sendiri, atau minimal bukan untuk mencari kepuasan diri sendiri. Jadi kasih kepada Tuhan-lah mendasari kita mengasihi orang lain.

Perbuatan baik apa pun yang didasari atas kasih kepada Tuhan, meski tersembunyi, meski tidak diketahui orang lain, tidak diwartakan itu semua jelas terlihat di hadapan Tuhan (Mat. 6, 4).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s