Gaptek : Gapgap Teknologi

HKBP sebenarnya sudah sejak lama berusaha merumuskan dirinya sebagai bagian dari organ untuk inklusif dan terbuka. Tapi rupanya hal ini menjadi liar saat ketemu dengan primordialisme sempit. Ada orang yang fikir bahwa inklusif itu harus semua dirangkul. Akhirnya dengan dasar inklusifitas ini, HKBP seharusnya terbuka dengan budaya dan paradigma baru dalam setiap gerak pelayanannya. Jadi setiap budaya dan kebiasaan baru, asal jangan bertentangan dengan dogma HKBP harus diapresiasi dan diterima.

Tapi pada sisi lain, ada yang berpendapat inklusifitas itu justru harus menunjukkan sikap tegas gereja dalam menghempang budaya-budaya dan kebiasaan yang tidak sesuai. Bukankah ini sebenarnya nilai lain dari inklusifitas itu!? Secara tidak sadar akhirnya HKBP jatuh pada sikap eksklusif. Pengalaman gereja sebenarnya sudah jamak mencatat hal ini.

Umpamanya, HKBP sudah sejak lama menggagasi ibadah dengan liturgi alternatif, liturgi kontemporer atau kontekstual. Atau apa sajalah! Dewasa ini hampir semua HKBP menerima adanya ibadah khusus ini, semacam jawaban terhadap revivalisme, kebangkitan gerakan-gerakan kebangunan rohani. Dan dalam hal ini dipakailah banyak fungsi multimedia – audio dan visual – sehingga kesannya tidak ketinggalan jaman. Semua orang sudah melakukannya, masa kita tidak!?

Jadi bagaimana sebenarnya multimedia dipakai di ibadah minggu? Nah, di sinilah kita bertemu dengan sikap bagaimana menerima kemajuan teknologi itu. Sepanjang itu untuk membawa pencerahan, supaya lebih terang, kenapa tidak pakai multimedia itu? Tapi dasar, kalau memang cynical yang ada apa pun ceritanya, termasuk multimedia ini tidak boleh. Apa pun itu asal tidak “sesuai” dengan kita tidak boleh di gereja ini. Jadi ibadah tidak boleh ada keterangan dengan visual, dengan gambar-gambar apalagi film (hehe, takut itu filmnya ngporno..) Itu harus dibuang sejauh-jauhnya. Nah, begitulah otak yang korslet, penuh kepentingan dan superioritas tak kalah seram.

Selain itu yang paling perlu pemahaman ibadah yang benar juga harus terus dikembangkan. Yaitu pemahaman tentang ibadah minggu sebagai wujud dari perayaan Kebangkitan Tuhan, hari kemenangan Kristus atas dosa dan maut dan tentang perayaan pada hari minggu. Selain itu kita juga sudah diperlengkapi dengan penghayatan demi penghayatan atas ibadah minggu itu sendiri.

Jadi pemakaian multimedia dalam ibadah minggu sebenarnya bukan hal baru lagi di sini. Asal jangan mau menjelaskan, tapi makin tak jelas!? Atau mau ibadah lebih khusuk, malah kasak kusuk seperti orang kebakaran jenggot sehingga ini menjadi gaptek : gapgap teknologi, gabus teknologi.

Advertisements

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s