Iman tanpa perbuatan adalah mati (jameseriaL)

Yakobus 2, 26
Renungan Natal Renafil : Remaja & Naposobulung HKBP Philadelfia 2011, Tambun Bekasi

Horas!
Apakah jawabannya? Ucapan ini terasa penting di saat kita lebih sering mengatakan “Syalom!” yang tentu saja bukan “bahasa” kita. Horas kiranya terasa bermakna saat kita merasa sebagai orang Batak memang ucapan ini lebih tepat pada saat-saat perayaan seperti ini. Supaya anak-anak muda dan generasi mendatang orang Batak tidak lupa akan sambutan itu. Horas!
Perkataan “Horas”, berarti “selamat sejahtera”, “damai” atau “keamanan” dan “kesejahteraan”. Rupanya kata “Horas” dekat juga dengan perkataan “Koras”, yang kurang lebih artinya “keras”, “kencang” (suara dan intonasi). Itu sebabnya banyak orang menganggap orang Batak itu keras – tapi tentu saja setiap suku ada saja orang keras. Itu tipikal orang Batak, yang terkesan keras, atau mungkin dianggap kasar. Saat kita mengatakan horas!, mungkin saja itu dengan nada yang tegas, dengan suara yang keras dan penekanan di penggalan “ho”. Bukan seperti intonasi saat mengucapkan “Kolonuon” atau “Mangga!”

Tapi saya fikir, keras berbeda dengan tegas. Keras karena secara tegas mau mengatakan itulah orang Batak, yang tampil apa adanya, kalau bukan blak-blakan mengungkapkan apa yang ada dalam hatinya. Jadi biar pun orang Batak terkesan keras, tokh sebenarnya hatinya lembut. Tegas – dan itu tampak juga dalam wajah orang Batak yang meski di parserahan ini tampaknya masih “marsuhisuhi bohina” (wajahnya punya sudut-sudut tentu, hehe..). Mungkin perempuan orang Batak tidak secantik si Chelsea yang baru jadian itu – maksudnya Chelsea Olivia – tapi tentu saja perempuan Batak punya hati yang lembut. Itu termasuk ketulusan, saya fikir. Jadi tampil apa adanya, bukan dipoles-poles. Itu otentik.

Selain itu, kesan keras itu juga tampak dalam sikap hidup dan dedikasi kerja orang Batak. Kemauan kerja keras dan bersungguh-sungguh adalah salah satu pegangan hidup mereka. Sebab itu di mana pun orang Batak, akan bekerja keras, ulet dan gigih dalam usahanya, termasuk dalam menyekolahkan anak-anaknya. Mereka bilang, “Anakhonhi do Hamoraon di au” (Anak adalah harta kekayaan terbesar). Sebab itu sekuat tenaga dan kemampuannya, mereka akan menyekolahkan anak-anak mereka ke tingkat yang paling tinggi.

Masalahnya, sekarang ini banyak orang Batak Kristen yang lebih suka memisahkan hidup dan pekerjaan sehari-harinya dari hidup peribadahannya. Mereka menganggap bahwa pekerjaan dan hidup sehari-hari adalah bagian yang terpisah dari hidup peribadahan. Padahal dalam hidup kita dan persekutuan setiap harilah tampak iman kita. Dari pekerjaan yang kita lakoni tiap hari, tamapak iman kita yang disebut sebaga8i orang percaya. Karena itu Paulus berkata dalam Kolose 3, 23-24, “Segala sesuatu yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan, bukan untuk manusia”.

Jadi ada tiga pelajaran penting dari pembacaan firman malam ini :

1. Bekerjalah bersungguh-sungguh. Orang percaya menerima pekerjaan adalah anugerah. Berbahagialah orang yang memakai tangan, kaki dan pemberian Tuhan lainnya kepada kita untuk mengerjakan pekerjaan itu. Jansen sinamo bilang, bekerja adalah rahmat Tuhan.
Bekerjalah karena Tuhan sendiri mengawasi kita. Tuhan kita adalah hidup dan bekerja, dan selama hari masih siang Tuhan bekerja (Yoh 9, 4).
2. Taat menjadi pelaku firman. Bahwa ketaatan yang tertunda – atau ditunda-tunda, entar, ntar – adalah ketidaktaatan. Sama seperti orang yang hidup tapi adalah mayat hidup; demikian iman tanpa perbuatan (Yak 2, 17). – rick warren, pdl.

3. Berdoalah bersungguh-sungguh. Reformator Martin Luther mengatakan ora et labora, berdoa dan bekerja (keras). Bahwa berdoa sungguh-sungguh lebih sulit dari bekerja; dan tentu saja seorang pendoa yang sungguh-sungguh adalah seorang pekerja keras. Dia akan bekerja dan kemudian menyerahkan pekerjaannya dalam doa kepada Tuhan. Ora et labora juga berarti bahwa doa bukanlah jalan terakhir kalau pun kita gagal. – malcolm brownlee Tuhan memberikan semua berkat-Nya bagi kita untuk melakukan kehendak-Nya; membuahkan hasil – yaitu buah-buah iman (Gal 5, 22).
Itulah sukacita natal untuk kita semua.
Selamata Natal, Amen.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s