Scrap Kotbah Tanggal 16 Jan 2011 : Yohanes 1:43-51

Percaya Teman
Percaya dan saling mempercayai adalah dasar dari setiap relasi manusia. Tanpa saling percaya bagaimana dua orang dapat bersepakat untuk memasuki rumahtangga? Tanpa adanya saling percaya dan menerima tidak mungkin ada perjanjian kesepakatan untuk hidup bersama?! Mana ada teman tapi tak memercayainya sedikit pun.
Tapi kata percaya dewasa ini menjadi kata yang sulit bagi orang. Tiap-tiap kita mungkin sekarang sulit percaya kepada sesuatu yang belum kita lihat dan saksikan. Parahnya lagi, ini nih ada duit baru ada barang, kata orang Sumatera di Pajak Horas.
Ya semakin sulit karena begitu banyak yang menjadi pertimbangan kita dalam menentukan dan mengamini satu-satu. Tak pelak ini membuat kita menjadi manusia yang sulit percaya sebelum dicheck kebenarannya. Manusia Tomas, yang tidak akan percaya sebelum melihat dan menjamahnya.
Atau seperti kata pepatah, “tidak ada yang lebih baik mengenalimu, ketimbang google..” Ya, sekarang segala sesuatu harus dikonfrontasi dengan google, mesin pencari sedunia ini. Apa saja yang kita cari dan ingin ketahui dapat dilihat dengan sekali dua sentuhan pada layar dengan mengetikkan beberapa patah kata kunci. Di dasar hati kita memang mau dan kepingin percaya dan ini adalah untuk Tuhan.
Nah, di dasar hati terdalam itu sekarang Tuhan berbicara kepada kita. Bahwa kebenaran tentang Dia akan diungkap dan dinyatakan kepada mereka yang menerima Dia sebagai juruselamat. Yang dengang penuh harap dan pergumulan mau menerima-Nya sebagai juruselamat. Dan memang kita butuh juruselamat, bukan guru selamat. Itulah Tuhan!

Teman Percaya
Dalam close reading (ini istilahnya Gerrit Singgih), kita tahu Yesus punya wibawa saat Dia memanggil seseorang untuk menjadi pengikutnya. Church do not see your leadership, but how long have you been a followers.. dan gereja ada sebagai upaya memuridkan. Ada juga gereja untuk mencari teman, koq.
Seseorang akan dikenali dari siapa temannya. Dari teman atau sahabatnya seseorang diketahui apa hobi, perjalanannya dan mungkin banyak hal lain yang tidak diketahui umum.’
Tidak peduli seberapa banyak teman temin. Tidak masalah dua atau tiga, yang penting kita dapat bersama bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan.
Toh saya tidak harus me-accept setiap orang yang mengajukan friends kepada saya bukan!? Lagi pula untuk apa ada seribu bahkan ribuan orang yang menjadi “teman” kita, tapi mereka bukan siapa-siapanya kita.


Come and See..

Itu ajakan seorang sahabat. Persahabatan Natanael dengan Filipus ibarat persahabatan Yonathan dengan Daud. Persabahatan yang penuh penghargaan dan penerimaan, bukan karena sederajat dan sama-sama terpelajarnya. Mereka saling menerima dan terbuka. Ajakan seorang teman untuk sama-sama menggapai kehidupan dan kebaikan.
Dengan kesabaran dan mengenyampingkan prasangka buruk itu, Filipus pasti akan mendapat upahnya, karena dia menerima Natanael plus kekritisan dan ketidakmudahannya untuk percaya. Tapi perlu juga dicatat, meski tidak diberitakan apa yang “dilihat Yesus terjadi di bawah pohon ara..” (ay 48); yang kita tahu Natanael membaca dan tahu apa nubuatan tentang Mesias itu. Itu datang dari pembacaan dan pergumulan akan keingintahuan dan pre-accept-nya akan Sang Rabbi. Jadi percaya-nya bukan tanpa dasar. Justru karena berdasar pada alas yang kokoh dia datang berbicara kepada Yesus dan sekarang percaya.

Advertisements

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s