Scrap Kotbah 22 Agustus 2010 : 1 Kor 3, 1-11

1. Sangat baik untuk mengevaluasi pertumbuhan iman kita. Sudah sejauh manakah kita mengalami pertumbuhan iman kita? Apakah kita masih termasuk bayi-bayi rohani? Masihkah kita ini sebagai kristen susu ataukah kita ini sudah menjadi orang kristen yang dewasa? Yang sudah memakan makanan keras? Artinya apakah kita sudah menjadi dewasa sebagai orang kristen yaitu, kristen makanan keras.
Pertanyaan dan evaluasi ini penting, supaya kita dapat dapat menjadi lebih produktif. Supaya pertumbuhan iman kita bisa lebih menjadi berkat bagi orang-orang di sekitar dan di gereja kita. Supaya kita jangan menjadi kontra produktif, atau jangan-jangan menjadi laknat atau kutuk karena kita belum dewasa dalam iman kita.

2. Minggu kita ini, adalah minggu di mana kita bisa merayakan mengingat bahwa kabar baik telah terbit di tanah Batak 149 tahun yang lampau. Mungkin sebagian dari kita sudah ada yang menerima baptisan kudus 70 tahun yang lalu. Pernah nggak kita mengevaluasi pertumbuhan iman kita. Ini perlu, tapi jangan kita buat untuk membanding-bandingkan atau bahkan untuk menghukumi sesama kita. Tapi kita bertanya sejauh manakah pertumbuhan dan tingkat kedewasaan kita supaya kita semakin rendah hati.

Nas kita hari ini adalah bagian dari surat penggembalaan rasul Paulus kepada jemaat di Korintus, di mana pada saat itu terjadi perpecahan dan pertikaian di tengah jemaat itu. Pertikaian dan perpecahan di tengah jemaat, antara warga jemaat dengan sesama warga; antara parhalado dengan parhalado yang mengakibatkan terjadinya pertikaian dan perpecahan adalah indikasi dari ketidakdewasaan iman. Perpecahan dan pertikaian dalam rumah tangga – sebagai gereja kecil – adalah indikasi dari ketidakdewasaan.

3. Bahkan dalam ay 3 dikatakan, ada iri hati dan perselisihan di tengah jemaat itu. Itu semua mengakibatkan adanya perpecahan dan perselisihan di antara mereka. Ini juga adalah indikasi dari ketidakdewasaan iman. Kita bisa saja berbeda pendapat. Mungkin kita harus mengakui bahwa kita tidak bisa sepakat dengan sesama, dengan anggota lainnya dalam semua hal. Tapi janganlah perbedaan pendapat itu kemudian mengakibatkan perpecahan dan perselisihan. Beda pendapat itu sah! Tapi jangan karena perbedaan itu rumah tangga menjadi kacau balau, jangan karena perbedaan itu kesatuan dan persatuan dalam jemaat kemudian berantakan.

4. Bahkan dikatakan dalam Ibr 5, 13-4 kristen susu itu belum mengerti; mereka belum memahami benar apa artinya itu kebenaran. Mereka belum memiliki indera yang terlatih untuk dapat membedakan mana uang benar dan mana yang jahat. Ada orang-orang kristen susu yang belum mengenal betul apa artinya nilai-nilai. Mereka belum mampu membedakan mana kasih yang instingtif dan mana kasih yang diperintahkan. Sama seperti anak kecil yang belum bisa membedakan mana kasih yang redemptive naluri dengan daya tarik (attraction).
Mereka belum bisa membedakan semua ini.

5. Indikasi ketidakdewasaan iman juga tampak sebagaimana dalam sikap para anggota jemaat di Korintus pada saat itu tentang peranan dan keperluan para pelayan Tuhan. Peranan para pelayan Tuhan. Misalnya sikap membeda-bedakan antara Paulus, Apolos dan Petrus. Akh, tak terpake itu. Kristuslah yang benar… akibatnya mereka membanding-bandingkan para pelayan Tuhan itu. Sikap itu juga tampak kepada para pendeta. Ini saya katakan bukan karena saya adalah pendeta. Tapi ini sering terjadi di tengah persekutuan kita. Mereka lupa bahwa mereka (pelayan Tuhan) itu adalah pekerja, bukan pemilik di ladang Tuhan. Mereka apalagi tidak memiliki kuasa menentukan itu semua. Mereka sering digambarkan sebagai pekerja, bisa diibaratkan sebagai “tukang bangunan”.

6. Indikasi yang lain dari ketidakdewasaan iman adalah masih banyak orang yang tidak tahu dasar yang benar dari persekutuan kita ini. Sebagai orang percaya masih banyak warga jemaat yang memandang persekutuan itu berdasar pada keinginan manusia dan dunia ini. Padahal sebagaimana dikatakan dalam ay 11, tidak ada dasar yang teguh dari persekutuan orang percaya itu selain dari Tuhan Yesus Kristus sendiri. Dialah Firman yang telah menjadi daging (Yoh 1, 14). Itulah Yesus. Tidak ada yang lain.

Sdr. Yang dikasihi Tuhan kita,
7. Bagaimana dengan kita? Apakah kita sudah termasuk sebagai orang kristen yang dewasa. Sduah cukup dewasakah kita? Sesudah 149 tahun gereja HKBP apakah kita sudah cukup dewasa, jika sekaran gmasih terjadi penutupan gereja karena pertiakain dan perselisihan parhalado dengan warganya. Masih ada kasus begu ganjang, berikut pembunuhan dan pembakaran rumah. Hanya karena iri hati, karena tidak adanya nilai-nilai yang menghargai kebersamaan dan pertumbuhan iman yang benar.
Amen.

Advertisements

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s