Tidak Ada Alasan Untuk Berhenti

Suatu hari aku memutuskan untuk berhenti. Berhenti dari pekerjaanku. Berhenti dari hubunganku dengan sesama dan berhenti dari spiritualitasku. Aku pergi ke hutan untuk bicara dengan Tuhan untuk yang terakhir kalinya. “Tuhan”, kataku “Berikan aku satu alasan untuk tidak berhenti?”
Dia memberi jawaban yang mengejutkanku. “Lihat ke sekelilingmu!”, kata-Nya. “Apakah engkau memperhatikan tanaman pakis dan bambu yang ada di hutan ini?” “Ya”, jawabku.
Lalu Tuhan berkata, “Ketika pertama kali Aku menanam mereka, Aku menanam dan merawat benih-benih mereka dengan seksama. Aku beri mereka cahaya; Aku beri mereka air, pakis-pakis itu tumbuh dengan sangat cepat. Warna hijaunya yang menawan menutupi tanah, namun tidak ada yang terjadi dengan benih bambu, tapi Aku tidak berhenti merawatnya”.
Dalam tahun kedua, pakis-pakis itu tumbuh lebih cepat dan lebih banyak lagi. Namun tetap tidak ada yang terjadi dengan benih bambu tetapi Aku tidak menyerah terhadapnya. “Dalam tahun ketiga, tetap tidak ada yang tumbuh dari benih bambu itu tapi Aku tetap tidak menyerah begitu juga dengan tahun keempat”.
*
“Lalu pada tahun kelima, sebuah tunas yang kecil muncul dari dalam tanah. Dibandingkan dengan pakis itu kelihatan begitu kecil dan sepertinya tidak berarti. Namun enam bulan kemudian, bambu ini tumbuh dengan mencapai ketinggian lebih dari 100 kaki. Dia membutuhkan waktu lima tahun untuk menumbuhkan akar-akarnya. Akar-akar itu membuat dia kuat dan memberikan apa yang dia butuhkan untuk bertahan. Aku tidak akan memberikan ciptaan-Ku tantangan yang tidak bisa mereka tangani”.
“Tahukah engkau anakKu, dari semua waktu pergumulanmu sebenarnya engkau sedang menumbuhkan akar-akarmu? Aku tidak menyerah terhadap bambu itu; Aku juga tidak akan pernah menyerah terhadapmu”.
Tuhan berkata “Jangan bandingkan dirimu dengan orang lain. Bambu-bambu itu memiliki tujuan yang berbeda dibandingan dengan pakis, tapi keduanya tetap membuat hutan ini menjadi lebih indah”. “Saatmu akan tiba”, Tuhan mengatakan itu kepadaku. “Engkau akan tumbuh sangat tinggi”
“Seberapa tinggi aku harus bertumbuh Tuhan?” tanyaku. “Sampai seberapa tinggi bambu-bambu itu dapat tumbuh?” Tuhan balik bertanya. “Setinggi yang mereka mampu?” aku bertanya “Ya”, jawab-Nya. “Muliakan Aku dengan pertumbuhanmu, setinggi yang engkau dapat capai”.
Lalu aku pergi meninggalkan hutan itu, menyadari bahwa Allah tidak akan pernah menyerah terhadapku dan Dia juga tidak akan pernah menyerah untuk Anda.
**
Jangan pernah menyesali hidup yang saat ini Anda jalani, sekalipun itu hanya untuk satu hari. Hari-hari yang baik memberikan kebahagiaan; hari-hariyang kurang baik memberikan pengalaman; kedua-duanya memberi arti bagi kehidupan ini.
Tuhan memberkati Anda.

Advertisements

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s