Belajar Iman Dari Bapa Orang Percaya : Scrap Kotbah Tanggal 21 Maret 2010

Teks : Kejadian 22, 9-14

Inilah kesempatan untuk belajar iman dari tokoh iman, yaitu Abraham. Dia disebut bahkan sebagai “Ompu ni nasa na porsea”.
Jika kita membaca kitab Roma 4, 1+3+5+12+16-17 kita akan menemukan keterangan awal yang jelas tentang bagaimana seorang Paulus juga meyakini bahwa memang Abraham adalah seorang tokoh beriman.
Ada banyak hal yang harus kita contoh dari tokoh Abraham, hal-hal yang patut kita miliki dari yang pernah dimiliki oleh Abraham. Ada banyak hal yang harusnya kita miliki dan punyai dari seorang Abraham.
Memang kita sudah mengetahui apa definisi yang paling bertanggungjawab dari kitab suci tentang iman, sebagaimana dalam Ibrani 11, 1. “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan, dan bukti dari segala yang kita tidak lihat”.
Tapi apakah sebenarnya hakekat dari iman itu ?

Kita pernah mendengar dari Soren Kierkegeaard, bahwa iman itu ialah “keberanian lompatan” dari yang pasti kepada yang tidak pasti. Dari kepastian ke ketidakpastian. Itulah iman sebagaimana kita baca dalam teks ini, sebuah keberanian untuk melompati tuntutan dari kepastian ke ketidakpastian; sebab Allah-lah satu-satunya yang pasti.
Benar, Abraham adalah juga manusia seperti kita. Ia juga pernah ragu-ragu akan janji Allah kepadanya. Dalam 12, 1-3 janji Allah kepada Abraham bahwa Dia akan menjadikannya sebagai bangsa yang besar, yang keturunannya bahkan melebihi pasir di tepi pantai; Dia bahkan pernah disuruh berjalan ke sebuah negeri yang bahkan dia sendiri belum tahu yang akan ditunjukkan oleh Tuhan; dan kelanjutan-kelanjutan janji Allah.
Apa yang dia miliki sekarang ? Bukankah itu masa depannya! Di tanah yang sudah menjadi miliknya, dan di mana sanak saudaranya tinggal diam, di mana usahanya sebenarnya sudah ada. Masa depannya yang gemilang ! Tapi Tuhan menyuruh Abraham meninggalkan semuanya itu. Panggilan Allah ini seolah-olah membuang waktu dan tenaga. Ini sia-sia saja. Ini ibarat dikejar tidak dapat, dikandung tetapi bercucuran!
Dia kemudian pernah memiliki Ismael, anaknya dari gundiknya Hagar. Kemudian baru pada umur 99 tahun dia memiliki Ishak. Sekarang Ishak adalah masa depannya, anak satu-satunya. Tapi itu pun bukan tanpa ujian dari Tuhan. Dalam 22, 1 Allah berkata, persembahkanlah anakmu kepada-Ku..! Bah, ini tidak masuk akal. Satu-satunya anak, harapan dan masa depannya sekarang harus diberikan pula kepada Tuhan ALLAH sebagai persembahan. Ia sendiri harus menyembelih anaknya sebagai persembahan kepada Tuhan. Tuntutan Allah ini tidak pernah didiskusikan dengan istrinya. Jika saja dia sekarang memiliki 3 atau 5 orang anak lebih. Tapi ini anak satu-satuya!

Tiga hari perjalanan dari Bersyeba ke Bukit Moria adalah perjalanan yang penuh dengan pergumulan. Perjalanan itu menjadi semakin berat dengan pertanyaan Ishak, itu menjadi puncak cobaan dan ujian itu. “Di manakah anak domba yang akan menjadi korban bakaran kepada Tuhan?!” Abraham menjawab, Tuhan akan menyediakan anak domba korban bakaran kepada Dia! Bagai disayat sembilu hatinya, membayangkan dia sendiri akan menyembelih anaknya menjadi korban persembahan kepada Tuhan. Ini akan menjadi peristiwa yang tidak akan dilupakannya seumur hidupnya.
Memang permintaan dan tuntutan Allah itu bukan tidak masuk akal. Di dunia timur kuno pada saat itu, kita mendengar juga bahwa para raja di sana seringkali harus mempersembahkan anaknya sendiri kepada allah dan dewa Molokh mereka di bukit Himnon, misalnya dalam 2 Raja 10, 3; 21, 3. seringkali rupanya orang Israel melihat sendiri bagaimana orang-orang asing di tempat mereka mempersembahkan salah satu anaknya menjadi persembahan kepada Molokh, dan ada juga mereka yang mengikutinya, namun itu menjadi kekejian bagi Tuhan ALLAH (Im. 20).
Inilah tiga hari di mana Abraham melalui perjalanan menuju ke kematian anaknya sebagai persembahan, tiga hari melalui jalan-jalan yang mendaki dan kadang curam, di mana itu menjadi puncak pergumulan dari kepercayaannya sebagai seorang percaya. Bukankan itu yang dialami oleh Sang Anak Domba, bahwa dia harus melalui tiga hari yang seolah penuh dengan kekelaman, dimana dia diserahkan kepada kematian. Itulah perjalanan dari dan kepada iman.

Advertisements

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s