Mengerti Injil Dalam Perjanjian Lama : Scrap Kotbah Tanggal 14 Maret 2010

Teks : Yesaya 54, 7-10

Untuk mengerti tujuan dari teks ini, kita harus dulu memahami dan mahfum apakah itu kabar baik atau Injil. Kabar kesukaan ini – yang kita percayai dan imani – akan menjadi entry point bagi kita mengerti mengapa Allah seolah meninggalkan umat-Nya.
Hanya dengan mempercayai dan mengamini kasih dan penyelamatan ini maka kita dapat merasa dan memberitakan kabar kesukaan ini.
1. Bahwa Injil adalah kabar kesukaan dimana Allah sendiri menunjukkan kasih-Nya kepada umat manusia melalui diri Yesus Kristus.
2. Bahwa kasih setia-Nya yang rahmani lebih besar ketimbang murka dan penghukuman-Nya.
Kerangka Kotbah :
Yang menjadi latar belakang memahami “satangkirisap” “sesaat lamanya..” “small/brief moment” adalah ayat 5-6. Kisah-kisah dalam PL seringkali menggambarkan betapa hubungan Allah dengan umat-Nya adalah ibarat hubungan suami dan istri yang kudus. Hubungan suami istri itu memang menuntut sebuah kesetiaan. Allah tidak mau dimadu, diduakan atau dikhianati. Sekarang pilih dia atau Aku, pilih allah lain atau Aku, kata Tuhan Allah.
Dosa yang paling keji di hadapan Allah adalah jika umat-Nya itu kemudian beribadah kepada allah dan dewa-dewa bangsa lain. Dosa paling tercela bagi umat Allah bila mereka beribadah juga kepada allah lain. Jadi karena itu dapat difahami mengapa seringkali Allah digambarkan meninggalkan umat-Nya; ibarat seorang suami meninggalkan istrinya yang selingkuh, berbuat kekejian.
dan kita tahu apa artinya Allah meninggalkan umat-Nya? Itu berarti kematian, dan kehancuran. demikianlah umat yang ditinggalkan Allah. Manusia itu ibarat mayat berjalan, bernyawa tapi tak berarti lagi, sebab roh Allah meninggalkan dia.
Saat Allah meninggalkan umat-Nya, barulah mereka tersadar ibarat seorang seorang perempuan yang ditinggal oleh suaminya dan sekarang dia baru bersusah hati (ay 6); saat seorang perempuan yang ditinggalkan suami, adalah saat dimana dia mendapat kesusahan dan bencana. Ia adalah istri yang ditinggalkan bahkan pada saat dia sebenarnya masih muda belia.
Itulah saat-saat dimana kita bertanya, jadi “apa dosaku”? Saat seseorang jatuh ke dalam kesusahan, penderitaan, sakit dan lainnya kita bertanya apa dosaku?? Mengapa aku harus mengalami ini?? Bukankah itu yang sering terjadi.. Tapi ternyata kita memang adalah orang yang berdosa. Dan setiap hari kita tidak luput dari dosa.
Untunglah berita itu tidak berakhir disitu. Justru disitulah awal dari kabar baik itu, bahwa kasih setia Allah lebih besar daripada murka-Nya. Bahwa kasih setia itu abadi (khesed) dan rahimin; Inilah injil Perjanjian Lama. “Hanya sesaat lamanya Aku meninggalkan engkau..”

Demikian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s