Saksi Kristus : 2 Timoteus 1, 6-12

Setiap orang diminta menjadi saksi bagi kebesaran Kristus di dunia ini, tentang apa yang diterimanya dari Tuhan sebagai berkat. Setiap orang mungkin tidak bisa berkotbah melalui mimbar, tapi tiap orang bisa menjadi teladan melalui perbuatan, dan fikirannya.
Alkisah, seorang tukang cukur adalah seorang Kristen yang minggu kemaren mendengar kotbah di gerejanya bahwa tiap orang dapat bersaksi membawa orang kepada Tuhan bahkan melalui pekerjaannya. Ia berambisi untuk bisa “berkotbah” melalui cukurnya. Lihat saja, saat pasiennya yang pertama hari itu datang, dia langsung ingin mempraktekkannya. Tapi apa daya, hingga selesai tak sepatah kata kesaksian pun keluar dari mulutnya, dia tak tahu apa yang harus dikatakan.
Kemudian tak lama datang pula pasien kedua. Dan kali ini pun berat hatinya, segan pula kepada orang ini untuk mengatakan kesaksian tentang pengorbanan Tuhan itu. Begitu sulitnya rupanya untuk bersaksi, berbicara tentang kekristenan apalagi berkotbah.
Sampai akhirnya dia memutuskan untuk menyanyikan saja lagu “Tudia Ho Dung Mate Ho” dari BE. Artinya kira-kira begini, “Kemana setelah mati ?” Maka tak lama setelah datang orang yang ingin bercukur itu, langsung dia bernyanyi-nyanyi “tudia ho, dung mate ho.. jempek tingkim ujungna ro… “ BE No 528. Bah, padahal saat itu dia sedang mengasah pisau cukurnya, siap untuk mencukur, .. dan akhirnya tunggang langgang lah pasiennya, karena takut mendengar “nyanyian maut”nya. Jadi kesaksiannya tak kesampaian.
Cerita ini saya dengar pertama dari Pdt Marulak Sormin (HKBP Siallang buah), dulu waktu di masih di kampus Pematangsiantar. Nilai ceritanya mungkin begini, bersaksi dengan tepat sehingga cukup bermanfaat.
Bukankah itu yang hendak Paulus tanamkan kepada anak rohaninya Timoteus ini. karena itu dia menegaskan ada tiga karunia roh yang diberikan kepada sang saksi yang benar :
1. Roh Kekuatan (yang membangkitkan kekuatan, jadi bukan ketakutan dan gentar)
2. Roh Pengasihan (kasih)
3. Roh Pengusaan diri (ketertiban).

 

Kekuatan berdiri tegak melawan iblis. Saya tahu, bagian yang paling goyah di tubuh manusia adalah lutut. Maka, kekuatan di lutut kita berdiri tegak mengatakan “Tidak!” kepada iblis dan kejahatan adalah sebuah karunia dari Tuhan. Dari diri kita manusia, tak mungkin kita memiliki kuasa seperti itu. Maka perlulah kita berdoa kepada Tuhan agar diberikan karunia roh seperti itu.

Karunia roh itu mungkin tidak dengan sendirinya memberikan kita untaian kata yang dapat mengalir dari bibir kita; tapi kekuatan dan bukan ketakutan membangkitkan semangat tak kenal letih untuk terus bersaksi. Tapi dasarnya adalah kasih atau pengasihan. Sebab apalah gunanya kesaksian seribu bahasa jika bukan didasari oleh kasih, seperti Kristus mengasihi kita.
Kemudian dari itu, kesaksian yang benar bukan berarti harus in trance, sampai-sampai tak sadarkan diri bukan!? Tak harus tangis, angguk bahkan terbahak-bahak tak terkendali baru namanya kesaksian. Ia memerlukan ketertiban. Memang orang Kristen harus tertib, atau dapat disejajarkan dengan istilah penguasaan diri “Pangarajaion diri”. Kata rasul itu dalam 1 Kor 14, 40 “ Tetapi segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur”. Kesopanan dan keteraturan, kesanalah arah kesaksian orang Kristen yang benar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s