Romans 12, 1-3 : Persembahan Hidup

Sisolisoli uhum, siadapari gogo. Kiranya bermakna juga apa yang kita perbuat demikian juga setimpal akan kita terima, yaitu tentang hasil segala yang kita tuai. Andai saja apa yang kita perbuat dan kita berikan kepada sesama bahkan kepada Tuhan sesuai dengan motivasi dan nilai materi apa yang kita berikan, apakah kita layak sekarang dan hari ini disini ?
Memang mungkin nadanya balas dendam, tapi tidak salah kita katakan sebenarnya kita tidak pantas menerima apa yang ada pada kita sekarang, andai saja Tuhan memberikan sesuai dengan apa yang dapat kita persembahkan kepada-Nya.
Konsep persembahan a la Paulus ini menjadi pembuka dari ruang pemahaman tentang ibadah yang benar, atau lebih afdol “Hadaulaton marroha”. Persembahan harus diyakini bukan sebagai alat menyenangkan hati Tuhan – sebab Dia terlalu kaya mengharap persembahan dari manusia (apalagi dengan lembaran-lembaran lusuh dari tangan kita, yang paling kecil pula nominalnya!! Bah ..) apalagi menganggapnya sebagai alat untuk memaksakan kehendak kepada Tuhan menuruti permintaan kita – sebab ini bukan zakat seperti dipahami sebagian.
Ini membutuhkan pengorbanan : waktu, tenaga dan materi yang notabene berasal dari Tuhan, sebagai kewajiban kita mensukuri berkat dan anugerah Tuhan.
Tentang mempersembahkan “tubuh, daging” ini bukan saja menyangkut tubuh jasmani kita; sebagaimana diutarakan Paulus guna menentang konsep dualisme Yunani dan sekitarnya tapi lebih pada mempersembahkan seluruh kehidupan kita sebagai dupa harum bagi Tuhan. Bukankah daging dan tubuhmu adalah bait Allah? (1 Kor 3, 16). Ini termasuk melatih dan menundukkan tubuh kita merdeka dari keinginan-keinginan dan nafsu duniawi (2 Kor 9, 27; dlsb).
Puncak persembahan yang ditunjukkan Yesus sendiri mempersembahkan daging – hidup-Nya adalah teladan bagi kita semua mau memberikan hidup dan segala yang diberi Tuhan kepada kita sebagai persembahan kepada Dia (BE No 204, 2).
**
Ibadah yang benar kemudian juga tampak dengan metamorfosa seorang kristen, dari anak-anak menjadi dewasa, dari susu menjadi makanan keras, dari buta dan tidak mengerti menjadi faham dan terus berutumbuh menjadi dewasa sesuai dengan firman Allah. Perihal perubahan, peralihan dan lain-lain perombakan pola hidup kristen ini sudah sering kita dengar. Sudah banyak kita dengar, meski tidak semudah untuk melakukannya. Ini menunjukkan perlunya terus menerus memperbahrui diri sehingga mengenal dengan baik apa yang Tuhan inginkan dari hidup kita; itulah pertimbangan tentang kehendak Allah dalam hidup kita (ay 2).
Nilai plus untuk Paulus berbicara tentang perubahan ini sebab dia sendiri memberi teladan tentang perubahan itu : dari pembunuh dan penghambat Injil sekarang pemberita Injil. Dulu dia Yahudi yang mengagung-agungkan Taurat, sekarang menjadi penganut kasih karunia oleh Allah. Dan itu semua bukan tanpa pengorbanan.
Wilayah ketiga dalam terra ibadah yang benar adalah berada dan menempatkan diri pada tempat dan posisi yang seharusnya. Tuntutan firman ini sudah kerap pula kita dengar, betapa seharusnya kita berada sekarang pada porsi yang seharusnya. Lebih mudah membacanya dengan “.. Unang ma torbang rajumi hamu dirimu, lobi sian na patut; alai intap ni na tama ma parrohaonmuna: Ganup marguru tu godang ni haporseaon na tinurpukkon ni Debata tu ibana” (ay 3). Nyatanya, godaan ini dan itu disini bisa menerbangkan ego kita sendiri, bisa melambungkan prestise dan tidak berada pada posisi yang seharusnya. Tidak lugas.
Jadi maksud Paulus – dalam rangkaian persekutuan dan kepebagaian dalam teks-teks berikutnya (ay 4 ff) – adalah sikap untuk menempatkan diri kita pada posisi menerima orang lain sebagai sesama, sebagai anggota, sebagai bagian dari sebuah persekutuan. Ini juga mengingatkan kita tentang prinsip toleransi, bahwa seharusnya kita dapat menerima seseorang pada kebenarannya sesuai dengan apa yang diyakininya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s