Josua 1, 6-9 : Tuhan Menyertai

Nada-nada pesimis dari sungut-sungut bangsa itu sebenarnya sudah tampak sejak awal, jauh sebelum Allah sendiri memilih dan mengangkat Yosua menjadi pemimpin menggantikan Musa.
Bangsa yang tegar tengkuk (Kel 33, 3. Ul 9, 13), yang sungut-sungutnya membuat Allah murka dan sering berpaling dari mereka. Namun kasih-Nya sejak awal dan rencana penyelamatan-Nya untuk membuat bangsa itu sebagai bangsa milik-Nya menggambarkan Allah yang tetap mengasihi bangsa dan pemimpinnya itu.

Dalam rangkaian kepatuhan melakukan taurat Allah, teks ini sangat berguna bagi kita :
1. Kuatkan dan teguhkanlah hatimu! Bukankah ayat ini cukup menggembirakan di saat-saat kita sangat menderita kekosongan dan kegalauan hidup. Saat dimana orang-orang merasa kesepian di tengah-tengah keramaian orang.
Mungkin tidak salah betul pendapat sebagian kalangan, bahwa meski banyak tantangan dan kritik bahkan yang sangat tajam dan menggoyahkan kita, keputusan harus tetap diambil bukan sesuai dengan keyakinan dan nurani kita!?
Jadi meski anjing menggonggong, dia juga tahu kafilah akan tetap berlalu. Jadi biar bagaimana pun keras dan sulitnya, keputusannya ada pada kita. Apakah akan tetap melaksanakan rencana itu atau melaksanakan rencana lainnya, atau mundur sekalian.
2. Tuhan tidak menginginkan orang-orangnya hidup dalam kegalauan, ketidakpastian dan terombang-ambing. Satu hal yang pasti, bahwa Dia tetap menyertai orang-orang yang berpegang teguh pada perintah-perintah-Nya. Cukup klisekah bahan ini pada zaman ini? Mungkin bagi sebagian, ya. Tapi, betapa klise dan sederhana ungakapan itu, ini menjadi pegangan, katimbang tidak ada pegangan. Jadi, meski tidak terlampaui dengan baik, meski masih tetap ada tinggal sisa-sisa ketidakpuasan dalam pekerjaan dan pelayanan, kita tahu Tuhan akan membantu kita.
Minimal kita tahu, Tuhan ada di pihak kita. Dan kebersamaan dengan Tuhan mendatangkan kekuatan dan keyakinan untuk tetap terus melangkah.

Update :
Tokoh Josua (Yosua) adalah pribadi yang dekat dengan Tuhan dan dengan fluktuatif sikapnya menunjukkan guru adalah pengalaman terbaik. Ia adalah orangnya Allah yang hidup di tiga medan : di perbudakan Mesir, di perjalanan bersama bangsa itu di padang gurun dan hingga sampai ke tanah Kanaan. Tokh Musa tidak pernah sampai ke tanah perjanjian itu. Bersama dengan Kaleb, keduanyalah yang berangkat dari Mesir sampai ke tanah perjanjian.
Banyak mujizat Allah dilihatnya, dirasa dan dihidupinya dari awal hingga 110 tahun umurnya. Bahkan dia pernah menghentikan beberapa saat matahari sebelum terbenam. Misalnya tentang kisah “Waterloo-nya Joshua, the ultimate battle”.
Kisah ini dituliskan dalam bahasa Batak, dari “Buku Hasudungan Ni Roha : Padan Na Robi”.
pdf : HAMONANGAN NA MANIMBUKBUK

Best viewed with Safari 3.2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s