2 Musa (Keluaran) 4, 10-7 : (Masih) Tentang Siapa ?

moses_flipApakah Musa dan Harun tidak saling mengenal? Atau apakah ada persaing-saingan antara kedua abang beradik itu? Apa memang Musa tidak tahu atau tidak mau terima bahwa memang Harun sang kakak lebih pintar ngomong?
Begitu kira-kira pertanyaan dari antara kami di Sermon Ressort tentang teks yang akan diwartakan pada hari Minggu 18/10 ini. Memang kami – ya, kami – masih di sekitar pertanyaan itu. Bukankah Allah yang menetapkan Musa sebagai pemimpin di tengah-tengah bangsa-Nya itu menjadi penuntun, menjadi penengah sekaligus pemenuh kebutuhan mereka? Bukankah Musa yang seharusnya berbicara kepada raja Firaun itu, bukannya Harun? Kenapa Harun nantinya yang akan berbicara?
Memang tentang siapa, siapa dari kita yang mengatakannya masih menjadi sangat penting, dan memang mungkin begitu penting. Masakan saya yang sudah bertahun-tahun disini sebagai orang tua di gereja ini, di perkumpulan ini, di sektor ini tidak diberi kesempatan untuk mengatakannya? Masakan dia yang baru datang dan lebih muda dari saya yang harus menyampaikannya?
Memang orang Batak mengenal jambar hata, dan itu salah satu bagian penting dari suatu paguyuban orang Batak. Salah menempatkan jambar hata ini bisa terjadi kesusahan dan pergolakan dalam tubuh kumpulan ini, dan hanya karena tidak diberi kesempatan atau tidak dipersilahkan.
Masih tentang SIAPA, bukan tentang APA yang akan disampaikan. Padahal disini yang paling perlu adalah apa yang akan disampaikan Allah kepada Firaun, kepada bangsa itu, kepada para hamba-Nya, bukan lebih pada siapa yang harus mengatakannya.
**
Tidaklah suatu kebetulan Musa begitu kuat berusaha menolak suruhan Allah kepada dia, dan tentu saja bukan tanpa alasan. Dia sudah mengenal Firaun yang keras dan kejam – karena kekejamannya dia berani memperbudak generasi ke generasi orang Ibrani di negerinya, peraturan yang dibuat untuk menindas bangsa itu. Musa sudah mengenalnya jauh sebelumnya, saat dia dibesarkan dan hidup di istana Firaun. Di kemudian hari kekesalannya memuncak saat menyaksikan langsung perbuatan orang Mesir kepada bangsanya, sehingga dia membunuh sipir Mesir itu.
Pula dia merasa tak didengarkan oleh bangsa Israel itu. Sudah terbayangkan olehnya jerih menyampaikan perintah Allah kepada bangsa yang masih lebih suka bersungut-sungut itu, dan menuntut lebih. Alih-alih didengarkan, dia akan didepak oleh tua-tua yang merasa sok pintar itu.
Sekarang, dia sudah berketetapan hati tidak mungkin menerima tugas yang terlalu berat ini. Karena itu dia sekuat tenaga berusaha mengelak dan menolak suruhan Allah. Meski Allah sudah berusaha meyakinkan dia dengan “peragaan” tongkat menjadi ular itu.
Demikian Musa berusaha, tetapi Allah punya mau. Sekarang di dalam murka, sekaligus kegeramannya Allah meyakinkan dia tentang suruhan-Nya : bukan berarti Dia lepas tangan. “.. Aku akan menyertai lidahmu dan mengajar engkau!…” (ay 12). Terlalu dini mengatakan Allah menyuruh kita melakukan sebuah pekerjaan diluar kemampuan kita, memundak beban di luar kekuatan kita. Ia selalu turut bekerja dalam segala hal, untuk mendatangkan kebaikan (mis Roma 8, 28). Tak pernah membiarkan hamba-hambanya bekerja dengan kemampuan sendiri, dan memang kita tidak pernah disuruh untuk itu.
Nilai plus Musa adalah pergumulannya yang keras untuk memenangkan panggilan Tuhan. Pada awalnya menolak sebab mengingat berat beban yang akan ditanggungnya sebagai perpanjangan lidah Allah; namun akhirnya berketetapan hati untuk setia menyampaikan firman Allah. Ko amar Yhwh, katanya. Itu jauh lebih baik katimbang awalnya merasa yakin mampu dan bisa, tapi tidak menjalankan suruhan itu dengan sepenuh hati.
Untuk itulah Allah menganugerahkan hikmat dan keberanian kepada dia dan sang kakak Harun menyampaikan firman Allah di hadapan Firaun dan bangsa itu. Itulah “tongkat” sebagai senjata, perlengkapan guna melakukan tugasnya. Tongkat itu adalah lidah untuk menyampaikan kabar baik sebagai murid, siapa pun kita, apa pun dan dimana pun, bukan karena aku, kau dan dia. Tapi “apa’ yang akan aku, kau dan dia sampaikan sebagai kabar baik. “Tuhan Allah telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu” (Yes 50, 4).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s