Rangkai Rencana Allah : Rut 2, 8-16

Teks ini hendaknya jangan difahami dengan allegoris, misalnya dengan mengatakan bahwa Boas adalah gereja; atau Rut adalah orang-orang yang patut dikasihani, dlsb. Sebab dengan menafsirkannya demikian kita akan terjatuh pada bahaya kekakuan teks ini sekaitan dengan tema minggu, panarihonon tu na hurangan (kepedulian kepada yang kekurangan).
Teks ini sendiri jelas terdapat dalam sebuah kitab sejarah bagi bangsa Israel, dimana didalamnya kita menemukan sejarah, yaitu sejarah keselamatan yang direncanakan oleh Allah (heilegeschicte). Kitab ini memuat sebuah “cerita pendek” dari cerita panjang lebar dimana Allah memulihkan bangsa-Nya menjadi bangsa pilihannya, dimana Dia sendiri akan memberi keselamatan kepada mereka. Kitab yang pada awalnya diragukan orang, mengapa termasuk dalam kanon kitab suci hingga sekarang. Keberatan itu dapat diterima sebagaimana akan dibahas beberapa bagian yang sulit dari teks ini.
***

1. Rut berasal dari suku bangsa Moab, yang seperti kita tahu berasal dari keturunan yang dipinggirkan dan memang dipinggirkan karena dianggap lahir dari aib. Suku ini datang sebagai keturunan dari incest antara Lot dengan kedua putrinya di padang gurun. Benar apa yang dimaksud Ruth dengan tindakannya yang menganggap bahwa dia berasal dari suku lain, yaitu suku yang tidak diperhitungkan : Lalu sujudlah Rut menyembah dengan mukanya sampai ke tanah (ay 10). Ia adalah orang asing bagi bangsa Allah itu; karena itu dia menganggap bahwa pengasihan Boas adalah hal luar biasa baginya.
Dengan itu, kitab Rut menjadi sekeping bagian cerita dari rangkaian cerita penyelamatan Allah. Dari mereka orang-orang yang di posisi sebagai penyambung rangkaian itu diberikan Allah suatu pertemuan supaya rencana selamat itu berkelanjutan, termasuk dengan keikutsertaan orang “asing” yang tidak diperhitungkan.

2. Hendaknya teks ini tidak dapat lagi dilihat dari kacamata konteks sosial dewasa ini – sama seperti tidak dilihat sebagai alegori. Seorang janda dengan seorang laki-laki dewasa. Bukan demikian. Sebabnya, yang dilakukan Boas kepada Rut semata adalah tindakan yang biasa dan tidak bertentangan dengan hukum Taurat; bahkan apa yang dilakukan Boas sebenarnya bukan tindak luar biasa. Hal menolong fakir miskin dan orang-orang termarjinal dinyatakan dalam Taurat dan peraturan di tengah bangsa itu.
Dialog antara Rut dan Boas kemudian tentang kesediaan Boas untuk “pagodang” – mengambil Rut sebagai istri didukung perkawinan ipar (levirate marriage) – adalah tindakannya untuk menjadi penebus, bahkan untuk meneruskan marga Elimelekh. Dalam hal ini Boas setia kepada perintah Allah, dia mengasihi dan melakukan perintah Allah. Hal yang berbeda dan mungkin tidak akan ditemukan dalam masyarakat dewasa ini, apalagi dalam kerangka pelayanan gereja. Masih setiakah kepada hukum Allah?

3. Segi diakonia – kepedulian Boas kepada Rut – adalah sebagian kecil dari rangkaian tindakan pemulihan yang dilakukan Allah kepada bangsanya. Tema ini harus diperluas juga. Boas adalah wujud “sillam hamessiason” (Dr Darwin) dari padanya sebagaimana pun kecil dan konvensionalnya tindakannya – menyuruh hamba-hambanya untuk untuk meninggalkan dengan sengaja onggokan jelai, dari mana Rut bisa mengambilnya dengan sesukanya (ay 15-16). Ia adalah bayang tindakan Mesias yang datang untuk menyelamatkan dan menolong orang-orang. Sekali lagi tindakan diakonia – berbelas kasih kepada orang miskin – adalah tindakan untuk memulihkan seseorang : dari yang tidak mampu menjadi berdaya, dari yang sakit menjadi sembuh.

Bahan Sermon Rut 2, 8-16 : Pdt Dr Darwin Lumbantobing (Ketua STT HKBP Pematangsiantar)

Advertisements

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s