Kisah Para Rasul 28, 1-10 : Irama Kepatuhan Kepada Tuhan

Fasal terakhir ini bercerita tentang Paulus yang dalam status narapidana akan dibawa berlayar ke pengasingan. Mereka harus berlayar melalui samudera, yang kemungkinan besar sering terjadi badai dan angin “Timur Laut” (27, 14). Beberapa kali terseok-seok dan akhirnya kandas juga di beberapa pulau dan sekarang Pulau Malta. Sebenarnya Paulus sudah mengingatkan perihal bahaya ini kepada sang Kapten Yulius, yang dengan penuh resiko membawa para tahanan itu.
Keajaiban demi keajaiban terjadi. Saat mereka akhirnya terdampar “dengan selamat” (ay 1) di daratan Malta itu. Penduduknya orang Fenisia, yang pada umumnya penduduk tidak menerima atau minimal tidak beritikad baik menerima mereka, apalagi setelah mengetahui bahwa mereka adalah tawanan sebagai kawanan dari orang-orang jahat.
Tapi, tidak. Mereka dikatakan dengan sangat ramah menerima mereka yang terdampar, karena dinginnya cuaca menyalakan api. Saat itu Paulus juga dipatuk tangannya oleh seekor ular berbisa (beludak). Tapi tidak terjadi apa-apa. Beberapa saat para penduduk menyangsikan kemanusiaan jahat si Paulus, pastilah dia akan mati. Hukum karma. Orang ini mungkin selamat dari laut, tapi alam pasti tidak akan membiarkan dia selamat, pikir mereka. Tapi ternyata sampai beberapa lama, dan akhirnya mereka mengakui bahwa Paulus orang benar, bahkan dianggap sebagai allah atau dewa.
Sampai penyembuhan yang dilakukan Allah melalui Paulus kepada para penduduk di Pulau itu, semuanya adalah rangkaian keajaiban yang dilakukan Allah menunjukkan kuasanya kepada mereka. Ini menjadi kesaksian, bahwa mereka yang taat kepada Allah akan selalu ditolong dan di nafkahinya.
Kepatuhan demi kepatuhan yang ditunjukkan Paulus, serta kesetiaannya kepada Tuhan tampak dalam perlindungan Tuhan kepada dia dalam pekerjaan dan perjalanannya. Ia tahu ada kekuatan alam, ada hukum alam meski tidak harus tunduk kepada dia.
Banyak orang yang berfikir memang alam sudah menghukum; ternyata manusia juga yang membuat kenapa seolah alam menghukum dengan banyaknya terjadi bencana banjir dan longsor. Tinggal di daerah sulit dan tandus tidak akan memberikan kehidupan, sulit hidup : air, makanan, dan lain sebagainya. Itu memang hukumnya. Hukum alam. Tapi tidak mesti tunduk kepadanya. Mungkin itu logis, masuk akal. Tapi seringkali pula Allah bekerja bertolak belakang dengan logika manusia. Tidak bisa tidak ini bisa terjadi hanya karena irama kepatuhan demi kepatuhan manusia kepada Dia; yaitu menerima rencana Allah itu. – terlebih kepada para pelayan yang sekarang sudah siap-siap untuk melawan SK dari pusat, “Untuk apa pindah ke situ? Bagaimana anak? Istri? Makankah?”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s