Lagi-lagi KOMPAS ePaper

Setelah pikir-pikir, memang mungkin benar satu waktu era digital akan menggantikan masa kejayaan paper cetakan, bahkan harian nasional yang beroplah nasional dan tiras gigantik. Bukan tidak mungkin semua orang akan disuguhi dengan layanan layar yang terus menerus, ya terus tanpa henti yang paling mutakhir. Akhirnya kembali ke kita memilah-milah mana berita dan peristiwa yang paling berguna untuk kita ikuti.
Ini tentang perasaan membolakbalik dan memelototi huruf-huruf, angka dan gambar di harian Kompas. Selama ini saya selalu membelinya di kedai Pak Kumis Siregar di Jl Diponegoro Pematangsiantar. Harganya pun sebenarnya tidak murah, Rp. 3.500 eceran. Pun setelah bertahun-tahun, akhirnya kertas itu menumpuk, seperti sekarang. Dijual isinya, tidak laku. Dijual ke botot, akh sayang. Akhirnya, saya dengan perasaan kasihan pada diri sendiri harus me-scan semua dokumen isi Kompas itu yang saya anggap tak harus uzur dimakan waktu. Macam-macam segmentasinya. Ada Opini (kolom yang paling saya suka, hehe .. karena Pak Yonky Karman sering menulis disitu tanpa kehilangan kritik Perjanjian Lama-nya), ada berita ekonomi khususnya UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah), kadang-kadang juga ulasan progresif Kompas yang yahud, tentang apa sajalah itu; juga karena saya pernah dua kali memenangi Teka Teki Silang (TTS) Harian Kompas loh, hehe.. Mana mungkin saya membuang bagian itu. Ada juga rubrik Muda, secara khusus info tentang Teknologi Mutakhir yang independen diuji oleh harian itu. Pun tak ketinggalan apa yang dimuat di Klasika – bagian paling akhir dan memang memuat hampir penuh dengan iklan komersil – disini kerap kita temui tips, saran dan nasehat bijak singkat tentang apa saja : perabotan, mobil, komputer dlsb. Banyak (tapi cerpen janda-janda metropolitan itu tak pernah loh saya baca – kata “janda”-nya agak vulgar ya). Jangan lupa membaca juga (wajib!!) dibaca edisi Ultahnya, 28 Juni ya,.. betul!?
Jadi bagaimana lagi, semua itu mungkin akhirnya akan dibawa par-botot itu hari-hari ini, bersama dengan kertas-kertas lain di Kantor Ressort ini – memang banyak loh kertas-kertas disini, ada surat menyurat dari Kantor-kantor HKBP, ada surat edaran yang biasanya bertumpuk-tumpuk tak mungkin bisa dibacakan, ada koor dan foto kopi partitur yang tak jadi-jadi dipelajari. Bah! Memang mungkin sudah waktunya semuanya disimpan digital, tak harus seperti sekarang mengikat bertumpuk-tumpuk kertas ini.
Jadi, ada apa dengan Kompas ePaper!?

**

1. Paper Vs Screen Minded
Dengan era ePaper ini kertas konvensional koran ini akan digantikan dengan layanan kertas yang tampak di layar. Denga sentuhan flip mode, maka kita akan dapat membolakbalik kertas digital itu layaknya duduk di kursi dan dan koran di tangan mencari berita dan informasi perlu.
Kita semua mungkin belum nyaman dengan ini. Dulu di kampus buku-buku tua yang sudah beratus kali difotokopi harus kita baca, juga jurnal-jurnal tua bahkan laklak. Semua tugas dikerjakan dengan kertas dan ditulisi serta dibaca karena kita memegang kertas. Soal kenyamanan. Tapi tak apa, mungkin ke depan kita sudah harus terbiasa dengan layar komputer ini, tokh pesatnya teknologi ini seharusnya membantu kita bukan, jadi kita tetap tak akan kehilangan “kertas” bacaan.
Sekarang, sudah banyak pendeta sudah naik ke atas mimbar membaca teks dari communicator-nya. Mengajar PHD ke kaum Ibu dengan in focus lengkap dengan layar sentuh pula, bah.. Tak apalah, membuka pengumuman terbaru – meski tidak baru-baru amat – di situs resmi HKBP sudah lebih baik, katimbang menunggu surat-surat, pengumuman dimaksud dari pos. Wallahu ..
Pun SK mutasi pelayan ini mungkin akan didigitalkan, hehe … tudia ho pinda, pdtnami!? – sehingga semua orang tahu, bukan!? Akh, sudahlah saya juga harus berdamai dengan ini, screen mulai menggeser posisi kertas-kertas ini.

2. Pengarsipan.
Ini kelebihan Kompas bukan!? Dengan layanan tombol archieve di ePaper Kompas, maka kita dapat membuka berita-berita lampau. Semuanya mungkin disediakan dengan layanan Microfost SilverLight ini. Historisitas ini memang diperlukan guna menjadi acuan pada waktu yang akan sekarang dan mendatang.
Hampir sama dengan kerja kita bukan!? Buku-buku tingting, bericht dan Buku Bolon Register di jemaat juga sering menjadi masalah, mungkin hilang atau tidak dapat terbaca lagi. Di perpindahan dan mutasi pendeta tak ada memori pelayanan, bah!?
Tentang ini memang Kompas yahud. Seperti tak ketinggalan jaman, membaca arsip harian ini tetap memberi inspirasi, padahal beritanya harian dan kontennya waktu itu.

Postingan Terkait :
KOMPAS ePaper Resmi Diluncurkan

Advertisements

3 comments

  1. hmmm, rupanya amang ..(edited) melek teknologi ya. 🙂
    tapi hebat juga pendeta pake communicator waktu khotbah (asal jangan online n nyomot khotbah orang aja kali ya) hehehe.
    tapi teringat teknologi yang amang bahas, kenapa ya HKBP tidak mengoptimalkan semuanya dari web hkbp itu? saya justru melihat kemunduran. masakan dokumen resmi hkbp disimpan di server ziddu. lo koq kayaq ngeluh jadinya. hehe.
    kembali ke topik:
    bukankah sebagai sebuah organisasi besar hkbp juga ditenagai oleh orang-orang besar dan berpikiran maju? kenapa hkbp tidak mensinergikan pelayanannya dengan perkembangan TI. bahkan yang paling menjengkelkan, hkbp tidak punya fitur RSS.
    salam amang. 🙂

    1. he eh, betul itu tentang ziddu.
      komunikator, memang masih gitu kebanyakan “hampir” online (mungkin).
      tapi melek, ah ga ah. tidak melekmelek kali lah, asa songon na jago do haha ..

      salam jg

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s