Kata “Mereka” berulang yang membingungkan di Yohanes 17, 14-23

Dalam teks ini, Yohanes 17, 14-21 memuat beberapa kali kata “mereka”, bah Batak “nasida”, yang dipakai oleh Yesus sendiri, dalam percakapan-Nya dengan Bapa.
Dalam konteks doa ini tampak bahwa ada hubungan yang begitu akrab antara sang Anak dengan Bap yang ada di sorga. Nilai moralnya adalah, bahwa ungkapan-ungkapan yang dipakai Tuhan bukan terhalang oleh “jarak” dan “waktu”. Keduanya dalam tanpa kutip, sebab keduanya hakikatnya tidak bisa membatasi mereka, dan bukankah Dia yang menciptakannya.
Untung dalam sub-judul Batak LAI ay 6-19 dikenakan dengan istilah “Mangondingi siseanNa”. Jadi “mereka” sudah barang tentu para murid-Nya, hamba dan para pemberita Firman yang memberitakan tentang Firman Allah kepada dunia ini, namun dunia ini tidak menerimanya. “Mereka” terkait juga dengan Firman Allah itu sendiri, yang dibawa mereka. Jelaslah bahwa “mereka”dapat berarti para pemberita Firman dan murid-murid-Nya serta berarti juga Firman yang mereka sampaikan.

Update :
Teks sendiri adalah Johannes 17:14-23, bukan hingga ay 21. Kata atau perkatakaan mereka, nasida (Batak Toba) ditemukan 19 kali dalam perikop ini : 1 kali dalam ay 16, 17 dan 18; 2 kali dalam ay 15, 19, 20 21 dan 22; 3 kali dalam ay 14 dan 23. Sebagaimana dikatakan kata ini adalah kata ganti untuk para murid Tuhan, para penginjil dan pemberita Firman Allah dan berikut Firman Allah yang mereka sampaikan. Dunia tidak menerima, bahkan menolak mereka – bukan berarti hanya menolak pribadi si pemberita Firman, – sebagaimana sering terjadi – – tapi penolakan kepada Firman Tuhan.
Doa imamat Yesus ini membuktikan bahwa Dia juga turut mendoakan mereka yang belum dan tidak percaya – isi dunia ini – hingga saatnya, kepada Sang Bapa. Ia tidak menginginkan kuasa Allah untuk menarik dan mengangkat mereka keluar dari penderitaan dan tantangan ini. Justru Dia meminta Allah memberikan kekuatan kepada mereka supaya mereka bertahan dan dapat menyaksikan kebenaran dalam dunia yang penuh penolakan.
Nilai moral kedua, adalah meski memakai kata “mereka”-“nasida”, bukan “kami, kita” “hita, hami, hanami“, bukan berarti mereka ada di luar kita, kami. Doa ini terang menjelaskan bahwa kondisi mereka yang belum percaya juga turut didoakan Tuhan. Ini sisi inklusifitas dari doa orang percaya, membangun kebersamaan dan persekutuan dengan sesama. Dengan itu kita tidak dibingungkan dengan terdapatnya tiap ay kata “mereka”, sebab mereka yang dimaksud bukanlah siapa-siapa, tapi mereka sebagai bagian dari kita. Mereka adalah sesama kita. Sebab itu juga tak membingungkan kita tentang siapa mereka yang menerima atau menolak, terima atau tidak terima, mereka adalah bagian dari kita.

2 comments

  1. Yang menariknya lagi, ada repetisi berulang yang terdapat dalam perikope Yoh 17:14-23 itu. Misalnya ayat 14 dengan ayat 16 dan ayat 17 dengan 19. Apakah ini masalah peredaksian yang kurang sempurna Amang atau karena ia punya tekanan khusus di dalamnya?

    1. satu kekhususan Injil Yohanes menurut saya adalah penekanan kedatangan Kristus ke dunia. Dunia – manusianya – yang tidak mengenal Dia, sebab mereka disana (1, 10; 8, 23) yang gelap, bobrok dan ringkih, karena itu Dia datang sebagai terang (9,5; 8, 12; 12, 46), yang dikuduskan dan memperdamaikan (14, 27). Pembedaan ini mungkin mau menarik garis tegas tentang tugas penginjil dan pemberita Firman tentang bukan dirinya yang ditonjolkan – yang memang duniawi – tetapi Firman Allah yang datang dari atas.
      Begitu saja, bagaimana..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s