Scrap Kotbah Tanggal 2 Agustus 2009

Teks : 1 Raja 21, 1-16
Cerita tentang si bajik Nabot dan si jahat Izebel
Rangkaian cerita sejarah dalam kitab sejarah ini – bersama dengan kitab-kitab sejarah lainnya : 1 dan 2 Tawarikh – menceritakan betapa murka Allah kepada orang yang dengan semena-mena memakai dan menyalahgunakan kekuasaan, pengaruh dan kebisaannya mempengaruhi orang lain untuk tujuan yang keji dihadapan TUHAN.
Cerita ini berawal dari keinginan Raja Ahab – yang namanya saja Raja, tapi merajai dirinya sendiri, roha arta dohot portibi, apalagi istrinya tak bisa – untuk memiliki kebun anggur yang kelihatannya menggiurkan dan menyenangkan hatinya, yaitu milik Nabot.
Tapi apa lacur? Nabot masih memandang bahwa firman dan Taurat Allah adalah firman yang hidup dan berlaku hingga sekarang; tapi tidak bagi Raja Ahab. Taurat itu baginya hanya sekadar huruf mati. Tak berlaku kini. Itu pula dasar Nabot menolak permintaan raja itu, untuk menjual tanah kebun anggurnya. Baginya tanah itu sebagai warisan dari orang tuanya, jauh lebih berharga dari emas dan perak penukarnya, jauh lebih berarti daripada sekadar tukar guling. Lebih dari itu ia menghidupi hukum TUHAN bahwa tanah adalah itu adalah milik-Nya. “Tanah jangan dijual mutlak, karena Akulah pemilik tanah itu, sedang kamu adalah orang asing dan pendatang bagi-Ku”, kata TUHAN Allah dalam Im. 25,23. Berulang-ulang ditegaskan dalam lima kitab pertama itu, Tuhan-lah pemilik tanah itu sebenarnya. Tidak ada hak bangsa itu menjual tanahnya, karena memang Dia-lah pemiliknya; dan bangsa itu adalah pendatang baginya.
Lagi pula keluarga-keluarga klan di Israel seharusnya menghargai perintah TUHAN untuk tidak menjual apa yang menjadi warisan turun temurun, menjualnya untuk kebutuhan konsumtif. Beberapa teks mengatakan ada orang yang terpaksa menjual tanahnya dikarenakan hutang yang tidak terbayarkan – bahkan ada pula yang terpaksa menjual anggota keluarga dan dirinya sendiri untuk melunasi hutang-hutangnya – misalnya 2 Raja 4, 1-7; Neh. 5, 5. Tanah itu pula yang seharusnya ditebus dan dibebaskan pada tahun ketujuh yaitu tahun sabat dan pada tahun Yobel.
Perbedaan itu memisahkan mereka – Nabot dan raja Ahab. Hal itu menyusahkan hati raja yang bebal itu hingga dia sangat gusar dan tidak mau makan. Sampai datang istrinya, permaisuri dari Finisia itu yang hatinya juga jahat. Mendengar keluhan suaminya, dia merencanakan rekayasa pembunuhan Nabot supaya dapat menyerobot tanah milik Nabot orang Yisreel itu. Lalu dia mengirimkan surat perintah kepada para tua-tua dan orang seisi kampung Nabot, mengadakan puasa dan menghadirkan dua saksi licik dan sangat jahat untuk bersaksi bohong demi kematian Nabot. Dan akhirnya, entah kenapa hal itu berlaku Nabot diseret dan dilempari hingga mati dengan batu karena tuduhan krusial menghujat Allah dan raja. Dakwaan yang sangat berat dan hukumannya adalah mati dilempari dengan batu. Yang tidak diceritakan dalam 1 Raja adalah bahwa dalam peristiwa pembunuhan terencana itu, dua anak Nabot juga ikut dieksekusi bahkan mungkin anggota keluarganya (lih 2 Raja 9, 26). Orang taat itu dan seluruh keluarganya harus mati karena ada orang yang mempergunakan kekuasaannya dengan semena-mena dan demi kepentingan sesat duniawi.
Tak perlu mengulas lagi dosa Izebel – dasarnya adalah orang jahat dan tidak percaya kepada Allah – namun peranannya sangat mempengaruhi Ahab, raja yang tidak mengingat jabatannya adalah dari TUHAN yang seharusnya dia mengayomi dan melindungi masyarakat, sekarang mempergunakannya sebagai kekejian bagi TUHAN. Dan karena itu dia dan seluruh keluarganya mati dengan kekejian dan cerita yang tak terberitakan karena kehinaannya (21, 19-21, juga istrinya Izebel 2 Raja 9,37).
**
Setiap orang diberi TUHAN kesempatan untuk bekerja dan berkarya dalam hidupnya. Karena itu Dia memberi berkat kesehatan, kekuatan, kuasa untuk dirinya dan terlebih menguasai dirinya. Harta benda, kuasa dan kemegahan niscaya fana. Dia tidak kekal, terbatas dan ringkih. Karena itu setiap orang juga diberi kesempatan untuk memakai apa yang diberikan TUHAN padanya untuk melakukan keadilan, tidak memakainya dengan semena-mena dan melakukan kejahatan bagi TUHAN.
Sama seperti peran seorang istri, yang seharusnya menjadi istri yang bijaksana (Amsal 31), yang mengarahkan isi rumahnya serta suaminya untuk mendekat kepada TUHAN. Bukan seperti Izebel yang memakai kesempatan itu bersekongkol dengan suaminya, sadar atau tidak untuk melawan TUHAN.
Misalnya, termasuk peringatan pada kecintaan pada harta benda di dunia ini. Orang yang terlalu cinta kepada uang dan benda (mis. 1 Tim 6, 10b) di dunia akan gelap mata, buta matanya untuk keadilan dan kebenaran.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s