Kotbah Minggu 5 Juli 2009

Teks 1 : Kejadian 1, 11-3
Nas ini merupakan nas dalam rangkaian tahun gerejani di Sekber UEM – yang notabene HKBP adalah tuan rumahnya – menyangkut keutuhan ciptaan : manusia dan lingkungannya.
Kata Pdt BM Siregar – GKPA meski teks ini ada diawal lembaran-lembaran Alkitab kita, ia bukan berarti pendahuluan saja, tapi lebih dalam menjadi penjelasan tentang pokok penyelamatan Allah yang berkelanjutan (sustainable caring) atas manusia.
“Kuasa dan kehendak Allah” adalah titik mula dan sentral nas; dan ungkapan “.. sungguh amat baik” (1,31) sebagai hasil pekerjaan Allah menjelaskan semua orientasi pada tumbuhnya benih iman bagi setiap orang percaya.
Implikasinya bagi kita jelas tentang tugas mengurangi global warming, turunnya permukaan air laut dan deforestasi.

Teks 2 : 1 Korintus 12, 12-27
Tema : Mencapai Kesatuan Tanpa Mengorbankan Identitas.
Ayat-ayat dalam perikop ini jelas menggambarkan betapa tiap anggota tubuh itu memiliki fungsi dan pekerjaan masing-masing yang sesuai dengan tugas yang diberikan kepadanya. Sesuai namanya, tangan berarti untuk menjangkau, meraih dan memegang sesuatu. Demikian kaki, berfungsi menopang tubuh untuk dapat berdiri dan berjalan sesuai dengan tujuan kita. Semua anggota berarti jika dia melakukan tugasnya sesuai dengan kemampuannya. Demikian juga tiap tugas yang diembannya adalah tugas yang mulia dan sangat berarti dalam kehidupan.
Gambaran itu yang disampaikan apostel Paulus dalam rangkaian peringatan dan ajarannya tentang kesatuan tubuh Kristus. Gereja adalah persekutuan membangun tubuh Kristus, dan tiap anggotanya sama berartinya bagi sang Kepala, Tuhan Yesus Kristus. Dalam setiap tugas dan pekerjaan itu kita dihargai, dan kita memang berharga di hadapan Tuhan.
Sekarang disini. Disini tuntutannya juga sama. Hendak sehati sefikir didalam Dia. Tolok ukurnya jelas, di dalam Tuhan. Bukan karena ikatan kesamaan dan perbedaan sebagaimana menjadi kamus manusia. Bukan karena sama suku, sama latar belakang dan alasan primordialisme lainnya.
Di dunia kehidupan sehari-hari : di rumah tangga, di masyarakat, bernegara dan di tengah gereja. Semuanya dapat sehati sefikir, memikirkan sesuatu yang menjadi kepentingan bersama, tanpa harus menghilangkan identitas kita.
Kepelbagaian ini memperkaya kita – tapi bukan semata lips service – ia menjadi tolok ukur. Tuntutannya lebih tak sekadar konformitas; sisi dimana harus tampak “fanatisme” positif tentang identitas kita, terlebih sebagai umat yang sudah ditebus Tuhan kita.
*Doa Syafaat untuk Pilpres : Filipi 1, 27 “hidup berpadanan dengan Injil..”
Demikian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s