Boha do hita? Beha do hita? Bagaimana kita…?

Nah, lho ini bahasa jeneralisasinya parsermon bukan!? Saat memberi koment atau dimintai pendapat tentang bahan sermon hari ini pasti lebih gampang membuat uraian kata seperti ini. “Jadi sekarang, bagaimana gereja …. bla bla bla”; atau sekadar “Nah, boha do hita, .. beha do huria...” Betapa pun, orang akan menganggap bahwa memang dia mempersiapkan diri untuk menghadiri sermon hari ini. Jadi dengan memaparkan sedikit “analisa” kalau bisa dibilang analisa, keluarlah “senjata” bagaimana ini ini, untuk menghubungkannya dengan situasi sekarang atau sekadar aktualisasinya. Mudah bukan?!

Istilah “sermon” sendiri dalam gereja Protestan lebih berarti persiapan para pelayan untuk evanggelium sebagai bahan kotbah, dan beberapa tempat Epistel sebagai bahan kotbah atau renungan dalam partangiangan (kebaktian) wijk atau lingkungan di jemaat-jemaat. Biasanya sermon diadakan di tingkat distrik, ressort dan jemaat. Di beberapa tempat sermon diadakan dengan sajian yang dipersiapkan salah seorang anggota sermon berdasar roster yang telah ditentukan; meski kadang banyak yang tidak bersiap dan kelihatannya tidak bertanggungjawab. Masalah disini – maksudnya di distrik V sum timur – yang masih disitu. Belum lagi tentang isinya, tapi masih masalah siapa penyaji dan siapa moderatornya. Yang paling sering adalah beberapa orang tertentu yang harus menjadi moderator dimintai amang praesses karena sering datang lebih awal.

Kadang-kadang sermon itu penuh sesak – mengingat banyaknya pelayan full timer di distrik ini – dan diadakan di aula milik biro sending HKBP Jl Gereja Pematangsiantar. Anda tahu, ada sekitar 120 pendeta di wilayah ini, ditambah lagi dengan guru huria, bibelvrouw dan diakones serta para calon pelayan. Adi jumlahnya bisa mencapai 250 orang. Pernah aula ini tidak bisa menampung, sehingga banyak juga yang mengadakan sermon di depan Kolportase Sending HKBP. Nah, bagaimana kita, bagaimana gereja ini kelihatannya merasuki setiap orang, yang senior bilang begitu apalagi yang junior – apa iya, yah – jangan-jangan “bagaimana kita!?” ini jugalah yang ada di setiap kotbah setiap mimbar hari minggunya!?
Wah, bagaimana ini..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s