Caleg Kami

Betul kata Limas Sutanto, memang pemilihan umum legislatif kali ini sangat mahal harganya, bukan saja karena harus dikeluarkan begitu banyak biaya pelaksanaannya. Konon, diperlukan Rp. 4,3 triliun untuk pelaksanaan pemilihan legislatif ini di seluruh Indonesia.
Selain itu, pemilian umum legislatif ini juga mengorbankan kesehatan jiwa banyak orang. Bukan hanya mereka yang berhubungan langsung sebagai caleg, tapi juga ts-nya (maksudnya tim sukses) seorang caleg. Di kampung kami, sekarang ada banyak orang yang tidak seperti biasanya, pergi ke ladangnya pagi-pagi benar dan kembali lagi nanti setelah hari gelap. Tanya punya tanya, kabarnya calegnya kalah (atau lebih manusiawi : tidak menang) dalam pemilihan umum legislatif di daerah pemilihan IV Kabupaten Simalungun. Tak seperti biasanya, sebelum pemilihan umum itu yaitu pada masa-masa kampanye tertutup dan terbuka dia tidak pernah absen nongkrong di lapo itu. Sambil mengangkat kakinya diatas bangku panjang itu – karena memang bangku yang terbuat dari bilah kayu itu tidak pernah diduduki tapi hanya ditongkrongi – dia bisa menghabiskan hari-harinya disitu bicara tentang caleg yang dia unggulkan itu.
Tapi berhubung caleg unggulannya kalah, dan kadung sudah menerima uang ini itu mempromosikan dengan janji takutlah dia sekarang menampakkan batang hidungnya.
Ada lagi yang paling miris; sekarang sang caleg kalah menarik ladang dan huma yang disewakan tak berbayar kepada orang-orang. Dengan kunjungan a la premanisme mereka mendatangi rumah-rumah warga, mengintimidasi dan menuduh bahwa si pengolah tanah itu membelot tidak mendukungnya. Akh, ternyata banyak orang dikorbankan perasaannya karena hasil pemilu yang baru lalu. Tahu namanya tidak akan terdaftar, tertegunlah dia akan banyaknya dana yang sudah dikeluarkan untuk pemenangan ini, menjadi anggota dewan.
Hasil pemilihan umum ini sering pula berhubungan dengan emosi-emosian. Siapa saja yang lewat dari bagian kampung itu, ban sepeda motornya pasti kempes. Ini ulah para remaja dan pemuda yang sengaja diprovokasi oleh situasi itu, timbullah tindakan anarkis. Masyarakat menjadi resah karena aksi-aksi si-ts arogan. Mudah-mudahan persoalan seperti ini tidak terbawa-bawa ke gereja, meski mungkin sangat rentan terjadi. Memang caleg kami belum siap.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s