Pargogoi hamu ma tangan angka na dauk; Jesaya 35, 3a

Untuk beberapa hal orang Jawa memang lebih beruntung dibandingkan dengan orang Batak, ujar Pdt TGT Rajagukguk, M.Litt (in theol.)*. Jika orang Batak dengan penekanan yang seolah berulang “lompa ma jolo aek las i” misalnya kata seorang suami kepada istrinya, untuk merebus air matang membuat kopi karena ada tamu yang datang, dengan tepat orang Jawa mengatakan “rebuskan(lah) air”. Jadi orang Jawa lebih mudah dan lebih tepat untuk memahami untuk membuat kopi mereka akan merebus air yang dingin mentah sehingga menjadi matang hingga 100 derajat. Sedang orang Batak harus memasak air yang sudah panas (aek las) menjadi lebih panas lagi menurut arti kata itu. Dan biasanya air panas yang masak orang Batak lebih lama matangnya dibanding dengan orang Jawa yang merebus air mentah menjadi matang. Kenapa ? Karena untuk membuat dua cangkir kopi mereka akan merebus dua gelas air mentah pula sehingga cepat matang dan kopi segera dihidang; sedang orang Batak (apalagi di kampung kami ini) bah, si ibu yang disuruh membuat kopi dua gelas akan memasak sepanci besar air supaya fikirnya air untuk nanti setelah makan, untuk minum nanti malam sampai besok. Jadilah air panas (aek las) orang Batak lebih lama matang daripada air rebus orang Jawa.

Teks ini tidak berbicara tentang air rebus hingga matang. Tapi teks ini berbicara tentang penguatan tangan-tangan yang lunglai, yang lumpuh layu karena tidak ada daya untuk bekerja. Tidak berdaya karena himpitan dan susahnya hidup. Orang yang tadinya tahu jadi tidak tahu. Mampu menjadi tidak mampu karena hebatnya tekanan dan beban yang menghimpit. Hidupnya hanya pasrah dan nrimo, atau sekadar mental palastik-palastik. Ini kata Pdt Em. Jansen Sitorus; kan orang Batak paling suka mengumpulin barang-barang walau tidak tahu dia apa gunanya. Mengumpulkan kertas-kertas, plastik, bosi-bosi dll. Sampai penuh rumahnya dengan barang rongsokan tapi hanya karena sayang, seang tetapi akhirnya bolong atau terbuang sia-sia.

Minggu Judika juga mengingatkan kita menguatkan tangan yang tak mampu untuk digerakkan karena himpitan perkara yang susah. Tuhan-lah yang mampu memberi keadilan seadil-adilnya. Ada yang lurus menjadi bengkok karena permainan uang; sebaliknya menjadi kelihatan benar hanya karena banyak uang. Ilmu ekonomi juga pernah mengenal seruan Adam Smith tentang tangan-tangan tak kelihatan (invisible hands) yang mengatur penawaran dan permintaan secara sistemik; hingga ekonomi dapat berjalan. Akh, teori. Karena bagaimana pun arahnya tangan tak terlihat itu bagusnya berjalan dengan sendirinya apakah kita tidak terbeban untuk mengarahkan berjalannya distribusi dan perekonomian ke arah yang lebih menguntungkan masyarakat banyak, bukan hanya keuntungan pada segelintir orang kaya menjadi lebih kaya lagi. Tuhan-lah menjadi juri dan penghakim ditengah-tengah kita; pada-Nya kita patut berseru minta tolong.
O Tuhan Togutogu ma

*Pdt Tunggul Ginda Tua Rajagukguk, M.Litt (In Theol) pendeta HKBP melayani sebagai Mahaguru di STT HKBP Pematangsiantar dan pensiun pada 11 Maret 2009 lalu, namun akan tetap mengajar di persemaian itu hingga akhir semester ini. M.Litt (in theology) dari Birmingham, Inggris. Pernah melayani di Dept Sending (PI) HKBP di daerah-daerah sending HKBP, seperti Enggano, Pasir Pangarayan, dan Medan. Bidang Missiologi yang didukungnya penug cerita meski pensiun tanpa festschrift. Dikaruniai 5 orang anak, 4 putra dan 1 putri; istri E br Sitindaon, dan 1 orang cucu dari kel Bernard Damanik, SE-Danke Rajagukguk,SH.

Advertisements

7 comments

    1. Syalom, Kalau boleh Referensinya lebih banyak lagi, supaya bertambah orang-orang yang diberkati dengan penyertaan Tuhan.
      GBU

  1. Horas ma di Amang Pandita i. Ra nunga agak lupa hamun tu goarhu, anak muridmuna. Alai di bagasan goar ni Tuhanta i Yesus Kristus, sada do hita sude di bagasan holongna. Sai dipargogoi Tuhanta ma hamuna dohot sude keluarga. Sian ahu, Pulma Sinaga, Balikpapan.

    1. horas ma tutu anggia, i ma da. Nunga matua daging 🙂 ; jadi di soposurung do tahe hita rap. Ah memang na mura ma antong iba lupa

    1. i ma da, saluut tu bapa i. nantoari huida, hipas do nasida. sarita dht barita na masa i hot songon na di ruang kuliah i, grrr…
      mudah2n torop pdt sahat tu na suda gogo; slmt melayani ma nang di pdt i.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s