Psalmen [Mazmur] 43, 1-5 Nyanyian bani Kora : chorus choir, koor mungkin asal katanya itu

Pembicaraan kami tentang Mazmur doa ini adalah sekitar dualisme raga dan roh, jiwa, tondi. Jika pemazmur “berkata” kepada jiwa, roh, tondi-nya sendiri, apakah itu berarti bahwa memang ada dua keberadaan yang berbeda dan terpisah. Jiwaku remuk, hancur dan rusak, sedangkan wajahku dan raga merasa nyaman karena memuji Tuhan Allah. Kata Tuhan Yesus sekali waktu, “Berjaga-jagalah dan berdoalah, … roh memang penurut, tetapi daging lemah (Mt 26, 41)”. Teksnya lebih kental : girgir do ia tondi, alai gale do ianggo daging. Berbedakah keduanya? Kita pernah mendengar konsep yang sama di tradisi Yunani, raga adalah penjara bagi jiwa. Pertanyaan tentang ay 5??

Bahasan yang sudah diperdebatkan orang sepanjang waktu. Tentang keberadaan roh, jiwa dan raga manusia itu sendiri. Orang Batak pernah mengatakan jika seseorang meninggal dunia maka “dagingna gabe tano, hosana gabe alogo, mudarna gabe aek, obukna gabe ijuk dan tondina gabe begu”. Ada pandangan sejak animisme bahwa memang tondi, jiwa atau roh manusia adalah bagian yang terpisah dan sedikit lebih tinggi keberadaannya dibanding semua yang kasat mata ini. Karena itu, orang Batak juga mengatakan “nunga mulak tondi tu ruma”; atau berdasar itu orang Batak dulu meyakini ada jalan untuk “mangelek tondi”.

Tapi sejak awal memang Allah menciptakan manusia itu utuh; daging dan jiwa/ rohnya. Bahkan Ia sendiri yang menghembuskan nafas itu sebagai kehidupan dan jiwa manusia; sehingga daging yang diciptakan-Nya juga dari tanah itu berjiwa, bersemangat. Karena itu kita meyakini, rintihan pemazmur kepada jiwanya adalah rintih kepada dirinya sendiri; karena beratnya himpitan dan olok-olok dari orang-orang yang mengejek dia.

Mazmur ini sebagaimana kita ketahui adalah ungkapan, rintihan jiwa yang menginginkan Tuhan menjadi juri, pengadil baginya ditengah riuh rendahnya suara-suara dari orang yang mengejek dia. Mereka yang tidak mempercayai Allah, yang melakukan tindak ketidakadilan yang menganggap aneh pemujaan si pemazmur. Tak ada jawab lain, tak naungan lainnya selain kembali kepada Allah. Pemazmur begitu merindukan bait Allah di Yerusalem – karena dia sedang berada di luar negeri, di Syria saat itu – sehingga ibadahnya dianggap aneh oleh orang-orang di sekelilingnya yang tidak menyembah Allah. Dualisme juga kita temui disini, namun dalam arti positif; raganya berada diSyria namun hati dan jiwanya berada di bait kediaman Allah, tempat yang dirindukannya sebagai tempatnya mendapat kesukaan.

Kembali dan pulang kepada Allah. Pernyataan yang klise kedengarannya; namun itulah jawab dari segala permasalahan hidup. Dalam hidup yang terlunta-lunta tiada arah, kembali kepada Allah adalah jawaban. Di tengah harap akan pertolongan dan bantuan sembako Sdr-sdr kita sekarang akibat “tsunami” Situ Gintung, Tuhan adalah jawaban. Tuhan adalah jawab, bahkan disaat kelihatannya tak ada lagi harapan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s