Tongtong manang sadihari pe hutangianghon hamu sudena; sian las ni rohangku do huula tangiangki; Pilipi 1, 4

Berdoa selalu dengan dan dalam sukacita. Pokok-pokok iman kristen menempatkan doa sebagai sentral ibadah dan memang hanya dengan doa-lah komunikasi orang percaya itu dengan Tuhannya. Tidak ada yang lain. Melalui doa itu pula sebagaimana sering ditegaskan relasi kita dengan sesama tampak, sebagai saudara dan disini di dalam hati (Paulus menunjuk ke arah jantungnya!) Mungkin karena tidak berkeluarga, perasaannya menganggap bahwa saudara-saudari kandungnya adalah sesama orang percaya, dan dalam hal ini adalah jemaat Filipi.

Saya selalu teringat waktu ompung itu pernah mengatakan, tak pernah ada satu hari pun terlewati kalian tak kudoakan. Artinya, sebagai orang tua dia merasa salah satu kewajibannya adalah mendoakan, membawa dalam doanya semua anak dan cucunya. Bah, padahal mungkin karena repotnya dia sudah tidak ada waktu lagi untuk berdoa hanya juga saat mau makan. Itu saya fikir adalah doa yang dilakukan dengan sukacita, doa yang diawali dengan ingatan akan rasa bangga dan sukacita memiliki anak dan keluarga besar.

Ya memang sih, namanya juga orang tua, kata Anda pasti mendoakan anak-anaknya. Wajar dong ortu mendoakan anak-anak dan seluruh keluarganya, baru tetangga, teman kerja, dan lan sebagainya. Tapi apa iya, setiap orang tua sudah mendoakan anaknya setiap hari? Pernahkan terlewat satu hari tak mendoakan mereka.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s