HKBP Pematangsiantar Memberangkatkan 19 Caleg Dengan Filipi 4, 6

Hari ini kebaktian subuh di HKBP Pematangsiantar memberangkatkan warga jemaatnya yang menjadi caleg di beberapa partai. Ada yang mencalegkan diri di Kota Pematangsiantar, Tingkat II Kabupaten Simalungun, di beberapa wilayah pemilihan dan Tingkat I Prov Sumatera Utara hingga ke tingkat Pusat. Ada 19 orang Caleg warga gereja ini bertarung nanti di Pemilu 9 April 2009.

Sengaja pula dipilihkan Nyanyian dari BE No 691. Teksnya kira-kira sama dengan nyanyian dalam kidung jemaat No “Bagi Yesus Kuserahkan”.
Teks Akitab yang dipilih adalah Filipi 4, 6; Janganlah kamu kuatir apa saja; tetapi serahkanlah seluruh permintaaanmu hanya kepada Tuhan
Andai saya memilihkan teks untuk memberangkatkan para calon anggota Legisatif ini akan saya usulkan Filipi 1, 27. Mengapa ?
Ayat ini terasa lebih menggigit kepada mereka yang sekarang harus mempersiapkan diri secara simultan menghadapi Pemilu 9 April mendatang. Sebab teks ini juga berbicara bagaimana seorang kristen seharusnya menjadi pejuang Kristus dalam setiap gerak hidupnya; per lu ditekankan bahwa perjuangan ini bukan hanya dalam rangka caleg atau non caleg. Ia harus diakoni di setiap pekerjaan dan persekutuan yaitu membuat pekerjaan itu sepadan dengan apa yang dipolitiskan atau katakanlah memang mengisyaratkan nuansa politis oleh Yesus Kristus. Perlu digarisbawahi bahwa memang pekerjaan “politik” dimaksud disini kita lakoni setiap hari, dalam setiap pekerjaan dan pikiran kita untuk memudahkan pekerjaan pelayanan.

Mungkin doa memberangkatkan para caleg dari warga gereja HKBP Pematangsiantar ini dianggap wajar, biasalah!! Dimana lagi mereka akan mendapat tempat untuk memperkenalkan diri sebagai caleg. Dari dulu memang gereja ini sepertinya tidak tegas untuk menanggapi keadaan seperti ini, memasukkan politik praktis ke gedung dan persekutuan gereja. Para calon seperti ini ditunggu, karena biasanya warga dan masyarakat menganggap orang-orang ini seharusnya menyumbang ke gereja dan masyarakat. Tapi sebagian lagi alergi dengan menghadirkan para calon legislatif ini dalam acara kebaktian minggu yang sepatutnya ditujukan sebagai pemujian kepada Tuhan saja. Ini mungkin harus disesuaikan dengan keadaan jemaat itu; apakah memang pelayanan seperti ini sudah selayaknya diadakan. Ini tetap menjadi dilema dalam gereja ini.
Pernah dulu ada pendeta HKBP yang juga menjadi anggota MPR/S, misalnya Pdt Tunggul Somuntul Sihombing, Dr hc; juga Pdt Dr PW Togar Simanjuntak. Sekarang di tahun 2009, dengan aturan Pemilu yang baru juga ada dari kalangan pendeta HKBP ikut disitu. Misalnya Anda pernah dengar Pdt Sumurung Samosir DPD, Pdt DRPartungkoan Simanjuntak PPRN. Ditambah lagi banyak para penatua yang mencalonkan diri, tak terhitung banyaknya calon dari kalangan ini.

Advertisements

3 comments

  1. pemberangkatan para caleg oleh gereja’ hkbp harusnya dari sejak dulu. Sudah tidak jamannya gereja ragu, takut, akan kritikan yg datang. menurut saya gereja harus lebih proaktif bukan hanya sekedar berdoa, tetapi mulai menata dengan baik para caleg yang pdt dan bukan pdt, supaya jemaat hbkp yg menjadi wakil legislatifnya dapat menyuarakan firmanNya. Gereja terpanggil menyuarakan kebaikan, kebenaranNya. Saatnya HKBP bekerjakeras untuk menata anggota jemaatNya yang mau jadi caleg HKBP, ditata, dipersiapkan. pengaruhnya sangat berdampak luas untuk kehidupan gereja HKBP dI MASA DEPAN. Jadilah HKBP pelopor, sinar terang, dan yg menggarami para caleg. persoalan sekarangt yg mendesak adalah para caleg yang dr batak terutama dalam satu wilayah pemilihan terlalu banyak sehingga dikuatirkan suara menjadi terpecah dan akhirnya tak satupun duduk dlm anggota DPR/DPRD.HKBP jadilah pelopor mengatasi persoalan ini. Jangan kita apriori dan menolak jika ada pdt menjadi caleg. mari kita semua berjuang utk jemaat dan HKBP, demi kemuliaan Yesus. Siapapun kita yang ada dan mencintai HKBP. dan juga sbg org Kristen berkumandanglah demi Yesus. SYAL9OM

  2. Bagi saya ibadah pemberangkatan para pendeta, eh salah, para Caleg wajar2 saja. Yang salah adalah ketika pendeta-pendeta yang merangkap caleg itu masih percaya diri melayani di gerejanya. Juga yang salah ketika kantor pusat HKBP tidak menonaktifkan para pendeta caleg tersebut sehingga sekarang statusnya semakin tidak jelas. Pendeta ya pandetalah, caleg ya caleg.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s