Ai lan do angka naung parjolo hian gabe parpudi, jala parpudi hian gabe parjolo; Markus 10, 31

Teks ini selalu mengingatkan saya pada arahan Tuhan Yesus kepada pengikutnya, bahwa lebih baik menjadi dihormati dan terhormat bukan!? Ya, sebaiknya menjadi terhormat daripada menjadi tidak terhormat.

Dalam perumpamaan tentang jamuan itu, si tokoh kita ini datang sesuai dengan undangan yang sampai padanya. Kemudian dengan perasaan merasa dihargai, diperhitungkan ia kemudian berencana menjawab undangan itu dengan baik. Ia mengenakan pakaiannya yang terbaik, menyediakan waktunya sebaik mungkin supaya tidak terlambat. Dan, benar saja ia tidak terlambat (bukan seperti kebanyakan, datang saat jamuan makan akan dimulai kemudian tinggal menyalam tuan rumah yang punya hajatan, bukan?). Lihatlah, masih banyak kursi yang kosong untuk ditempati. Lalu duduklah dia, hm.. kursi itu memang terasa empuk karena memang ada dibarisan terdepan dekat dengan tuan rumah itu. Sampai beberapa lama dia menanti orang-orang yang diundang oleh tuan rumah itu, ada yang biasa-biasa saja, dan banyak pula yang dia kenal karena menjadi calon legislatif pada pemilu depan.

Sampai seseorang mengejutkan dia, rupanya seorang suruhan tuan rumah mengamit dia memintanya bergeser sedikit ke bangku nomoq dua, karena bupati dan rombongannya akan tiba sekarang. Bah, bagaimana ini!? fikirnya. Acuh tak acuh beringsut juga di agak ke belakang. Tak lama kemudian dia benar melihat rombongan itu lengkap dengan keroco2nya, dan dengarlah musik itu mulai mengalun seolah menyambu padahal tdi dia tidak disambut.
Lalu datang lagi pelayan tadi, mengamit lagi minta dia bergeser ke samping sedikit agak ke pinggir berhubung rekan-rekan sekerja tuan rumah tiba. Akh, biarlah fikirnya. Duduklah para toke rekan si empunya hajatan, dan asyik mereka riuh rendah bersalaman dan bercakap-cakap. Tak gabung kamusnya dengan mereka, kebetulan tak ada yang dikenalinya. Sudah lah sebaiknya aku pindah saja ke belakang, dimana banyak orang biasa-biasa saja, namun kelihatannya lebih baik karena riuh rendahnya semakin orang yang datang ke jamuan itu. Tapi tak apalah, katanya dalam hati.

Demikian selalu ada yang terdepan dan terdahulu, meski awalnya lebih lambat. Teks ini selalu mengajarkan kita kebijakan Allah dalam hidup. Ada yang dahulu, ada pula yang kemudian seturut kehendak-Nya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s