Alai gok ma dibasabasahon Debata, nampuna pangkirimon i, tu hamu ragam ni halalas ni roha dohot dame di bagasan haporseaon, asa lam sumurung hamu marpangkirimon, pinargogoan ni Tondi Porbadia! Rom 15, 13

Sakit itu enak dan perlu, kata tetangga kami si Pentus Samosir. Karena hanya dengan sakit kita tahu bagaimana namanya sehat atau tidak sakit. Ini kan bahasanya khas kami, parhuta2 hian kata calon bapak ini. Atau, hanya dengan pernah rugi berjuta-juta seorang di Jorlang tahu bagaimana nikmatnya memanen jahe tanpa ada yang busuk dan Rp. 10.000,- pula perkilonya. Amangoi tabo na i!

Menurut saya kata kunci dalam teks ini adalah “pengharapan”, dan pengharapan didalam iman percaya. Memang, pengharapan tetap diperlukan dalam menjalani hidup ini. Tanpa pengharapan mana mungkin kita bertahan disini, di rumah ini, persekutuan, pekerjaan dan keadaan ini. Pengharapan dalam iman-lah yang menghidupkan sehingga kita beroleh sukacita ini dan pekerjaan kita menjadi berkelimpahan manfaatnya untuk banyak orang. “Sukacita” kita diperoleh dari rasa sakit, tertekan, perih, dan terpuruk, supaya sehat, bebas, manis dan kegemilangan ini semakin nikmat di dalam Tuhan. Hmm..

Inilah yang membedakan pengharapan kita dengan tamu Allah lainya, sebab kita adalah anak-anak Allah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s