Ai anggo pungu dua manang tolu pe marhitehite Goarhu, sai dongananku do nasida; Mateus 18, 20

Dua tiga orang bisa berarti banyak bagi orang Batak. Jika ada dua orang maka seperti kata anekdot itu orang Batak akan marsatur (main catur). Setelah itu ada 3 orang berkumpul, mereka akan marende (bernyanyi atau mungkin berkoor karena trio), baru setelah ada empat mereka berusaha membuka dan mengusahakan mendirikan gereja. Tapi setelah lebih dari itu mereka akan marbadai (bergaduh; maksudnya bertengkar dan mulai berantam).

Kita selalu mengatakan teks ini dengan kehilangan penekanan pemaknaan atas kata “didalam Aku”, yaitu persekutuan, perkumpulan dan paguyuban didalam Kristus. Sehingga perkumpulan, serikat, STM, kongsi dlsb. tsb hanya didasarkan pada perasaan sama-sama menderita, satu daerah asal, primordialisme belaka. Dasar persekutuan itu ternyata tidaklah begitu teguh saat menghadapi tantangan dan rongrongan dari dalam diri dan luar dirinya.

Alas itu mesti kita kembalikan, yaitu persekutuan di dalam dan hanya di dalam Kristus. Dengan mengedepankan Kristus sebagai dasar atau alas perkumpulan atau persekutuan itu maka damai yang dari Tuhan akan diam disitu. Damai, berarti tidak ada yang saling menyakiti, ingin selalu didahulukan dan mencari puji-pujian diri sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s