Natalitas

Berbeda dari tahun-tahun yang lewat, tahun ini Natal dirayakan di segala penjuru dunia dengan rasa ketidakpastian akan mesa depan. Ketidakpastian memang dirasakan setiap akhir tahun, tetapi tidak sebesar yang ditahun ini.
Dunia kini tidak hanya menghadapi ancaman terorisme dan berbagai bencana alam, termasuk pemanasan global, melainkan juga krisis keuangan global yang episentrumnya persis terletak di pusat kapitalisme global : Amerika Serikat.
Indonesia ikut terseret ke dalam krisis itu, dan pemutusan hubungan kerja besar-besaran terjadi di dalam industri kita sampai pada tingkat yang sangat mengerikan. Banyak orang, di antara mereka buruh, petani, pedagang kecil, atau mungkin kerabat atau tetangga kita, merasa ditinggalkan sendirian dan tidak berdaya.
Lama kita dibiasakan untuk tidak melihat mesa depan dalam bangsa sendiri, melainkan menggantungkannya jauh-jauh di Amerika Serikat. Ketika Amerika Serikat diterpa krisis, banyak dari kita yang lalu kehilangan gantungan.
Bile kita sudi membuka pintu hati menyelami makna Natal, barangkali ketidakpastian yang menghantui itu justru mendekatkan kita pada makna Natal, yakni natalitas, lawan mortalitas.
Setiap kelahiran mewahyukan bahwa mesa depan itu mungkin. Kematian mengakhirinya. Di antaranya adalah ketidakpastian. Manusia itu mortal karena bisa berakhir, namun ia juga natal karena bisa mulai sesuatu yang baru.
Kita boleh disebut lahir lagi setiap kali kita mampu mulai baru dan bermasa depan.
Seperti dikisahkan, ketika bayi Yeses lahir di dalam kandang hewan, tempat yang jauh dari kemewahan, mereka yang berada dalam establishment tidak mampu melihat mesa depan dalam bayi itu. Hanya para gembala, yakni para nomad yang bermukim dalam ketidakpastian mesa depan, menangkap maknanya.
Apakah kiranya yang dilihat oleh rakyat jelata ini? Memberi dan bukan mengambil — itulah yang dilakukan Allah dengan menjelma menjadi manusia. Itulah juga pesan yang ditangkap orang-orang sederhana itu saat berkunjung ke palungan. Mereka kembali sambil memuji dan memuliakan Allah. Rasa syukur akan pertolongan Allah memberdayakan mereka untuk natal, yaitu mampu mulai sesuatu yang baru.
Anda dan saya membutuhkan natalitas. Tabun 2009 bukanlah tahun yang mudah. Kita perlu perasaan berdaya untuk menghadapi krisis, untuk merasa memiliki mesa depan. Untuk itu kita harus berhenti mengambil dan belajar memberi, meskipun politik dan ekonomi mengajar kita untuk menjadi pengambil-pengambil.
Kita juga harus juga harus berhenti saling takut dan mengisolasi diri dengan sekat-sekat agama, suku, politik ataupun ekonomi agar kita mampu bertindak sebagai bangsa. Kita juga harus berhenti mengeluh dan mencerca diri, meski banyak yang tidak selesai di negeri ini.
Krisis global tak boleh membuat kita sebagai bangsa menjadi mortal, berakhir. Namun, bangsa ini menjadi natal, mampu mulai hanya dengan tidak menelantarkan para anggotanya yang paling marjinal.
Selamat Natal 2008 dan Tahun Baru 2009.

F BUDI HARDIMAN
Pengajar di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara
dimuat di KOMPAS, 27 Desember 2008

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s