Ise do na jadi nangkok tu dolok ni Jahowa? Jala ise do na hum jongjong sogot di hajongjongan ni habadiaonna i? Halak partangan na lidang dohot na ias roha; Psalmen 24, 3-4a

Hari-hari ini adalah hari-hari sibuk. Penuh dengan pekerjaan menumpuk, dan terus menumpuk. Ada banyak pekerjaan yang segera harus diselesaikan dan tuntas, karena ini sudah menjelang akhir tahun. Biasanya akan ada kaleidoskop tentang apa yang harus segera dibuat laporannya, semacam laporan tahunan dan evaluasi tentang pekerjaan dan program yang telah dicanangkan sepanjang tahun ini. Undangan natal harus segera selesai disebarkan dan kemudian yang ada take in list-nya harus segera diingatkan. Rapat untuk natal terus berjalan, terus juga latihan-latihan, dan tiap hari yang melelahkan. Sekarang partai-partai dan orang-orangnya juga sibuk, lobi kanan kiri, rapat konsolidasi dan konsolisasa haha.. untuk membuat strategi Pilkada legislatif April 2009 yad. Kirim sms, tanya perkembangan, menghadiri undangan-undangan dan lain-lain. Kata orang disini, banyak beredar kalender 2009 sekaligus dengan kartu nama sang calon. Begitu banyak calon, begitu banyak partai, sampai-sampai mungkin masyarakat bingung sebanyak itukah calon dan partai politik sekarang. Kata orang disini, wah sekarang banyak yang gila caleg, jangan-jangan nanti setelah pilkada legislatif banyak juga caleg gila. Jadi bukan gila caleg, tapi caleg yang gila. Mana mungkin mereka semuanya menang..

Tapi di kampung ini lain lagi. Biasanya disini akan banyak anak rantau akhir tahun begini yang pulang kampung, dengan segala urusan merepotkan dan ingin segera pulang secepatnya segera setelah selesai. Ada yang mau kawin, tapi tak bawa surat pengantar dan tak jelas pula alasannya kenapa mesti minta dikawinkan secepat-cepatanya. Tak ada hari kosong tanpa Natal, pesta, ulaon dlsb. Ada yang membawa anaknya tardidi, sidi, pesta dlsb. Sekaligus. Repot, tak ada hari-hari lagi disini orang untuk pergi bekerja ke ladang. Semuanya tersita untuk natal, pesta, dan pesta, dlsb.

Di penghujung minggu-minggu advent ini renungan ini mengingatkan betapa pada akhirnya sampai pula kita ke kriteria yang ditetapkan Allah. Siapakah yang patut dan benar-benar layak mendaki dan naik ke gunung Allah. Criteria ini penting, sebab bukan manusia itu membuat dan menakarnya. Ia adalah takaran dan ketentuan dari Allah sendiri. Siapakah yang pada akhirnya dapat berdiri dan didirikan Allah di gunung kemuliaan Allah, dimana Allah sendiri sudi bersemayam disitu. Syaratnya adalah mereka yang “bersih tangannya dan murni (pula) hatinya”. Orang yang dengan tidak lelah memperjuangkan dan mendirikan keadilan. Orang yang berusaha sekuat tenaganya untuk hidup biar miskin dan kekurangan didalam kebenaran dari TUHAN. Orang yang tidak akan kacau biar badai mengamuk dan tetap bertahan dengan panggilan TUHAN. Orang yang tak jerih mematut-matut diri dihadapan cermin firman Allah, dan hanya itu cerminnya; sebab firman Allah baginya adalah tongkat di jalan yang licin dan penuh rintangan dan itu pula menjadi suluh saat jalanan gelap dan seperti tiada berujung (105, 119). Orang yang murni, tulus dan bersih hatinya dari pengaruh-pengaruh dunia yang memabukkan sekaligus kelihatannya lebih menggiurkan dan menawarkan banyak glamor dan keindahan dunia.

Bah, siapa lagi. Mungkinkah orang yang terus ngeblog, tiap hari pula; biar tak ada yang membaca, hehe.. Mereka yang terus menerus menyuarakan dan melakukan keadilan dan kebenaran mesti tak dipandang orang. Gereja yang terus menerus menyuarakan kebenaran Allah, di kala baik dan sukacita serta di masa-masa sulit (2 Tim.4, 2).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s