Jala Ibana manguhum sogot portibi on marhitehite hatigoran, pagostangonNa ma uhum tu angka bangso; Psalmen 9, 9

Jika sampai hari ini ada sekitar seperempat penduduk negeri ini terutama kaum ibu, mungkin maksudnya termasuk istri saya lelah menanti-nanti kebenaran siapa sih sebenarnya yang bersalah dalam kasus kekerasan dan penganiayaan si agung itu? Mungkinkah si zalianty itu yang wajahnya mungkin agak innocent merencanakan dan menyelenggarakan kriminalitas terencana itu? Kalau saya sih, bah mana kuikuti itu semua. Tapi mungkin banyak orang menjadi simpati kepada si selebritis dan sebagian lagi yakin dan berusaha meyakinkan diri bahwa memang si peminjam uang itu pandai bersandiwara, dan seterusnya, dan seterusnya. Waktu akan menjawab, kata salah satu syair Ari Lasso. Bah betul itu, pengadilan manusia di dunia ini, bahkan mahkamah yang namanya Mahkaman Internasional mungkin harus membuktikan fakta demi fakta, asumsi demi asumsi, dan menyingkap kebenaran untuk ahirnya memberikan hukuman seberat-beratnya, kalau tidak menghukum yang bersalah yang diusahakan setimpal dengan perbuatannya.

Itulah pengadilan di dunia ini. Namanya juga pengadilan, pengadil, adil; jadi yang mau dicari adalah adil menurut kemanusiaan. Kalau ada orang yang mencuri ayam atau mencuri hidu, seperti di kampong kami ini, tau hidu kan? Gendon, pasti dia harus mendembani orang-orang tua sekampung, sudah itu harus minta maaf pula lagi. Seberat-beratnya hukuman kepada pencuri ayam pasti berbeda hukumannya dengan sang koruptor milyaran rupiah uang Negara bukan!?

Itulah hukum dunia ini, sekarang masalah pengadilan dan keadilan dari Allah. Bukan adilmu, bukan adilku, bukan pula adilnya KUHP dlsb. Tapi keadilan Allah. Manakah keadilan Allah sebenarnya yang dapat terpahami manusia. Ia mencipta, memelihara dan menyelematkan segala ciptaan-Nya. Ia pula yang memberikan diri-Nya sendiri menjadi korban persembahan supaya manusia itu bisa berdamai dengan diri-Nya, dengan Dia. Keadilan yang terkadang tidak akan dapat terselami dan terhitung manusia karena akalnya saja tetapi mesti dengan percayanya (71, 15). Keadilan dan kebenaran-Nya menjadi anugerah bagi umat dan bangsa-bangsa di dunia. Kebenaran dan keadilan dari Allah menyejukkan dan menyelamatkan orang percaya kepada-Nya sehingga, itu menjawab pertanyaan-pertanyaan kebenaran kemanusiaan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s