Pidato Penerimaan Hadiah Nobel Oleh Muh Yunus-GRAMEEN

OSLO, 10 DESEMBER 2006

Pidato Penerimaan
Hadiah Nobel

PADUKA yang mulia, anggota Komite Nobel Norwegia yang terhormat, hadirin, bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian,
Grameen Bank dan saya sungguh merasa terhormat menerima penghargaan yang paling bergengsi ini. Kami tergetar dan kewalahan oleh penghargaan ini. Sejak Hadiah Nobel Perdamaian diumumkan, saya mendapat pesan yang tak terhingga banyaknya dari seluruh dunia, namun yang paling mengharukan saya adalah telepon-telepon yang saya terima hampir setiap hari dari para peminjam Grameen Bank di desa-desa terpencil Bangladesh, yang cuma ingin mengabarkan betapa bangganya mereka menerima pengakuan ini.
Sembilan perwakilan terpilih dari tujuh juta peminjam-sekaligus-pemilik Grameen Bank telah menemani saya jauh-jauh ke Oslo untuk menerima penghargaan ini. Atas nama mereka saya sampaikan terima kasih kepada Komite Nobel Norwegia yang telah memilih Grameen Bank sebagai penerima Hadiah Nobel Perdamaian tahun ini. Dengan memberi institusi mereka anugerah paling bergengsi di dunia, Anda telah memberi mereka penghormatan yang tiada taranya. Berkat hadiah Anda, Sembilan perempuan desa Bangladesh yang berbangga ini telah hadir di upacara hari ini sebagai penerima Nobel, memberikan makna yang sama sekali baru bagi Hadiah Nobel Perdamaian.
Semua peminjam Grameen Bank merayakan hari ini sebagai hari terhebat dalam hidup mereka. Bersama penduduk desa lainnya, mereka berkumpul di sekitar pesawat televisi terdekat di desadesa mereka seluruh Bangladesh untuk menonton jalannya upacara.
Penghargaan tahun ini telah memberi penghormatan tertinggi dan martabat bagi ratusan juta kaum perempuan sedunia yang berjuang setiap hari untuk mencari penghidupan dan memberi harapan akan kehidupan yang lebih baik bagi anak-anak mereka. Ini saat bersejarah bagi mereka.

Kemiskinan adalah Ancaman bagi Perdamaian

Bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian,
Dengan memberi kami penghargaan ini, Komite Nobel Norwegia telah memberi peneguhan penting pada keyakinan bahwa perdamaian secara tak terelakkan terkait dengan kemiskinan. Kemiskinan adalah ancaman bagi perdamaian.
Distribusi pendapatan dunia bisa memberi gambaran yang amat jelas. Sembilan puluh empat persen pendapatan dunia dinikmati oleh 40 persen penduduk dunia sementara 60 persen penduduk dunia sisanya hidup hanya dengan 6 persen pendapatan dunia. Separuh penduduk dunia hidup hanya dengan AS$2 sehari. Lebih dari satu miliar orang hidup dengan kurang dari AS$1 sehari. Ini bukanlah rumus untuk perdamaian.
Milenium baru dibuka dengan impian global yang megah. Para pemimpin dunia berkumpul di PBB pada tahun 2000 dan mengadopsi, antara lain, tekad bersejarah untuk mengurangi kemiskinan sampai separuhnya pada 2015. Belum pernah sepanjang sejarah umat manusia tujuan yang sedemikian jelas diemban oleh seluruh dunia dalam satu suara, tujuan yang punya ketetapan waktu dan jumlah. Lantas terjadilah peristiwa 11 September dan Perang Irak, dan sekonyong-konyong dunia tergelincir keluar dari upaya mengejar impian ini. Perhatian para pemimpin dunia beralih dari perang melawan kemiskinan menjadi perang melawan terorisme. Hingga kini lebih dari AS$530 miliar dihabiskan untuk perang di Irak oleh AS saja.
Saya yakin terorisme tidak bisa dimenangkan lewat aksi militer. Terorisme harus dikecam dengan kata-kata yang paling keras. Kita harus bersatu padu menentangnya dan menemukan segala cara untuk mengakhirinya. Kita harus mencari akar-akar penyebab terorisme untuk mengakhirinya sampai selama-lamanya. Saya percaya bahwa menyalurkan sumber daya untuk meningkatkan perikehidupan kaum miskin adalah strategi yang lebih baik ketimbang membelanjakannya buat senjata.

Kemiskinan adalah Penyangkalan Seluruh Hak Azasi Manusia

Perdamaian harus dipaharm secara manusiawi—dalam lingkup sosial, politik, dan ekonomi secara luas. Perdamaian terancam oleh tatanan ekonomi, sosial, dan politik yang tidak adil, oleh absennya demokrasi, rusaknya kualitas lingkungan hidup, dan oleh absennya hak azasi manusia.
Kemiskinan adalah absennya seluruh hak azasi manusia. Frustrasi, permusuhan, dan kemarahan yang disebabkan oleh kemiskinan akut tidak bisa memupuk perdamaian dalam masyarakat manapun. Untuk membangun perdamaian yang stabil kita harus mencari cara-cara menyediakan peluang bagi rakyat untuk bisa hidup secara layak.
Penciptaan kesempatan bagi sebagian besar masyarakat (kaum miskin) terletak di inti kerja pengabdian kami selama 30 tahun terakhir ini.

Generasi Kedua

Tiga puluh tahun sudah sejak kami mulai. Kami terus memantau putra-putri para peminjam kami untuk melihat dampak kerja kami pada hidup mereka. Kaum perempuan yang menjadi peminjam kami selalu memprioritaskan anak-anak mereka. Salah satu dari Keputusan Enambelas yang dikembangkan dan dipatuhi oleh mereka sendiri adalah keharusan menyekolahkan anak-anaknya. Grameen Bank mendorong mereka, dan tak sampai lama seluruh anak-anak itu sudah bersekolah. Banyak dari anak-anak ini berhasil mencapai peringkat satu di kelasnya. Kami ingin merayakan itu, maka kami pun memperkenalkan beasiswa untuk siswa-siswa berbakat. Grameen Bank kini memberi 30.000 beasiswa setiap tahunnya.
Banyak dari anak-anak ini menapaki jenjang pendidikan tinggi untuk menjadi dokter, insinyur, dosen, dan profesi-profesi lainnya. Kami perkenalkan kredit perkuliahan untuk mempermudah mahasiswa-mahasiswa Grameen merampungkan pendidikannya. Beberapa di antaranya kini Ph.D. Ada 13.000 mahasiswa menerima kredit ini. Lebih dari 7.000 siswa kini ditambahkan pada jumlah tersebut per tahunnya.
Kami ciptakan satu generasi baru yang akan memiliki bekal lengkap untuk membawa keluarga mereka keluar dari jerat kemiskinan. Kami ingin memutuskan keberlanjutan historis kemiskinan.

Pengemis Bisa Berbisnis

Di Bangladesh 80 persen keluarga miskin sudah terjangkau kredit mikro. Kami berharap pada tahun 2010, 100 persen keluarga miskin bisa terjangkau.
Tiga tahun lalu kami memulai program eksklusif yang berfokus pada pengemis. Bagi mereka tak diterapkan satupun aturan Grameen Bank. Pinjamannya bebas bunga; mereka bisa membayar berapa saja, kapan saja. Kami beri mereka ide untuk membawa dagangan kecil-kecilan seperti jajanan, mainan, atau barang-barang rumah tangga saat mereka pergi dari satu rumah ke rumah untuk mengemis. Ide ini berjalan. Sekarang ada 85.000 pengemis yang masuk program ini. Sekitar 5.000 orang sudah sama sekali berhenti mengemis. Rata-rata pinjaman untuk seorang pengemis sebesar AS$12.
Kami mendorong dan mendukung langkah intervensi apapun yang mungkin untuk membantu kaum miskin berjuang keluar dari kemiskinan. Kami selalu mengadvokasikan kredit mikro selain semua bentuk intervensi lainnya, dengan argumen bahwa kredit mikro membuat intervensi-intervensi itu berjalan lebih baik.

Teknologi Informasi untuk Kaum Miskin

Teknologi informasi dan komunikasi mengubah dunia dengan cepat, menciptakan dunia tanpa jarak, tanpa batas, dengan komunikasi instan. Biayanya pun makin lama semakin murah. Saya melihat peluang bagi masyarakat miskin untuk mengubah hidup mereka bila teknologi ini bisa dihadirkan pada mereka untuk memenuhi kebutuhannya.
Sebagai langkah pertama menghadirkan TI bagi kaum miskin, kami mendirikan perusahaan ponsel, Grameen Phone. Kami beri kredit dari Grameen Bank kepada kaum perempuan miskin untuk membeli ponsel guna berjualan jasa telepon di desa-desa. Kami melihat sinergi antara kredit mikro dengan TI.
Bisnis telepon ini sukses dan menjadi perusahaan idaman peminjam Grameen. Ibu-ibu penjaja jasa ponsel ini dengan cepat belajar dan berinovasi dalam bisnis telepon, yang telah menjadi cara tercepat untuk keluar dari kemiskinan dan memperoleh kedudukan sosial. Hari ini ada hampir 300.000 orang ibu-ibu ponsel yang menyediakan layanan telepon di semua desa Bangladesh. GrameenPhone punya lebih dari 10 juta pelanggan, dan merupakan perusahaan telepon genggam terbesar di negeri kami. Kenclatijumlah ibu-ibu ponsel ini baru secuil dibanding jumlah total pelanggan, mereka menghasilkan 19 persen keuntungan perusahaan. Dari Sembilan orang anggota dewan yang menghadiri upacara agung ini ada empat orang ibu-ibu ponsel.
GrameenPhone adalah perusahaan patungan yang dimiliki oleh Telenor dari Norwegia dan Grameen Telecom dari Bangladesh. Telenor memiliki 62 persen saham perusahaan, Grameen Telecom memiliki 38 persen. Kami bervisi untuk pada akhirnya bisa mengubah perusahaan ini menjadi bisnis sosial dengan memberikan mayoritas kepemilikan kepada kaum perempuan miskin anggota Grameen Bank. Kami sedang bekerja ke arah sana. Suatu hari nanti GrameenPhone akan menjadi contoh lain perusahaan besar yang dimiliki oleh kaum miskin.
Ekonomi Pasar

Kapitalisme berpusat pada pasar bebas. Konon semakin bebas pasar, semakin baiklah kapitalisme menuntaskan masalah apa, bagaimana, dan untuk siapa. Ada juga klaim yang menyatakan bahwa pencarian individual atas keuntungan pribadi akan memberi hasil optimal secara kolektif.
Saya mendukung penguatan pasar. Pada saat yang sama, saya sangat tidak senang melihat keterbatasan konseptual yang dikenakan pada para pelaku pasar. Hal ini bermula dari asumsi bahwa pengusaha itu adalah manusia satu dimensi yang membaktikan satu misi saja dalam kehidupan bisnisnya: memaksimalkan laba. Tafsiran akan kapitalisme macam ini mengisolir si pengusaha dari segenap dimensi politik, emosional, sosial, spiritual, dan lingkungan dari hidup mereka. Hal ini barangkali dilakukan sebagai simplifikasi yang masuk akal, namun melucuti hakikat terdalam dari hidup manusia.
Manusia adalah makhluk menakjubkan yang dikaruniai dengan kualitas dan kapabilitas manusiawi yang tiada berbatas. Konstruksi teoretis kita harus memberi tempat bagi mekarnya kualitas-kualitas itu, bukan malah mengasumsikannya tidak ada.
Banyak permasalahan dunia timbul karena sempitnya kerangka para pemain pasar bebas ini. Dunia belum kunjung menangani masalah mengikis kemiskinan yang diderita oleh separuh penduduknya. Layanan kesehatan tetap tak terjangkau oleh mayoritas penduduk dunia. Negara terkaya dengan pasar yang paling bebas justru gagal menyediakan layanan kesehatan bagi seperlima penduduknya.
Kita terus terpesona oleh keberhasilan pasar bebas sampai-sampai tak berani meragukan asumsi terdasar kita. Lebih parah lagi, kita bekerja ekstra keras untuk mengubah diri kita menjadi semirip mungkin makhluk satu dimensi sebagaimana yang dikonseptualkan dalam teori, agar memungkinkan mekanisme pasar bebas berfungsi dengan mulus.
Dengan merumuskan “kewirausahaan” secara lebih luas kita bisa mengubah watak kapitalisme secara radikal, dan mengatasi banyak masalah sosial-ekonomi yang tak tertangani dalam lingkup pasar. Anggaplah seorang pengusaha, alih-alih cuma memiliki satu sumber motivasi (seperti memaksimalkan laba), kini punya dua sumber motivasi, yang keduanya terpisah namun sama-sama mendesak: a) maksimalisasi laba dan b) berbuat baik pada masyarakat dan dunia.
Tiap jenis motivasi akan membuahkan jenis bisnis yang berbeda. Mari kita sebut bisnis jenis pertama itu sebagai bisnis berorientasi laba, dan bisnis jenis kedua sebagai bisnis sosial.
Bisnis sosial akan menjadi semacam bisnis baru yang diperkenalkan di pasar dengan tujuan menghasilkan perbedaan di dunia ini. Para investor dalam bisnis sosial bisa memperoleh kembali investasi mereka, namun tidak akan memperoleh dividen apa-apa dari perusahaan. Laba akan diolah kembali oleh perusahaan untuk memperluas jangkauannya dan memperbaiki kualitas produk atau jasanya. Bisnis sosial akan menjadi perusahaan non-dividen yang tidak merugi.
Begitu bisnis sosial diakui dalam hukum, banyak perusahaan yang sudah berjalan akan unjuk diri menciptakan bisnis-bisnis sosial selain aktivitas dasar mereka. Banyak aktivis dari sektor nonprofit juga akan merasa ini sebagai opsi yang atraktif. Tidak seperti sektor non-profit di mana orang perlu mengumpulkan donasi agar aktivitas bisa terus berjalan, bisnis sosial ini akan swadaya dan menghasilkan surplus untuk berekspansi karena ini bukan perusahaan yang merugi. Bisnis sosial akan memasuki pasar uang jenis barunya sendiri, untuk menggalang modal.
Kaum muda seluruh dunia, terutama di negara-negara kaya, akan merasa konsep bisnis sosial ini sangat memikat karena memberi mereka tantangan untuk membuat perubahan dengan memakai bakat kreatif mereka. Banyak anak muda saat ini merasa frustrasi karena tidak bisa melihat tantangan berharga yang menyemangati mereka di dunia kapitalis yang ada sekarang. Sosialisme memberi mereka impian untuk diperjuangkan. Anak muda bermimpi menciptakan dunia sempurna mereka sendiri.
Hampir seluruh masalah-masalah sosial-ekonomi dunia akan ditangani lewat bisnis-bisnis sosial. Tantangannya adalah membuat model-model bisnis inovatif dan menerapkannya untuk menghasilkan hasil-hasil sosial yang dikehendaki dengan biaya efektif dan efisien. Layanan kesehatan bagi kaum miskin, jasa finansial bagi kaum miskin, teknologi informasi bagi kaum miskin, pendidikan dan pelatihan kaum miskin, pemasaran untuk kaum miskin, energi terbarukan—semua ini wilayah yang menggairahkan bagi bisnis sosial.
Bisnis sosial ini penting karena menangani keperluan yang sangat vital dari umat manusia. Ini bisa mengubah hidup 60 persen terbawah penduduk dunia dan menolong mereka keluar dari kemiskinan.

Bisnis Sosial Grameen

Bahkan perusahaan-perusahaan berorientasi laba bisa dirancang sebagai bisnis sosial dengan memberikan mayoritas kepemilikan atau malah kepemilikan penuh kepada kaum miskin. Inilah tipe kedua bisnis sosial. Grameen Bank masuk dalam kategori bisnis sosial yang kedua ini.
Kaum miskin bisa memperoleh saham dari perusahaan-perusahaan ini sebagai pemberian dari donor, atau mereka bisa membeli saham itu dengan uangnya sendiri. Peminjam dengan dana mereka sendiri memberi saham Grameen Bank, yang tidak bisa dipindahtangankan kepada yang bukan-peminjam. Sekelompok tim profesional yang penuh komitmen menjalankan operasi bank keseharian.
Donor bilateral dan multilateral bisa dengan mudah menciptakan bisnis sosial jenis ini. Ketika donor memberi kredit atau hibah untuk membangun jembatan di negara penerima, mereka bisa mendirikan “perusahaan jembatan” yang dimiliki oleh kaum miskin setempat. Manajemen perusahaan yang berkomitmen akan diserahi tanggung jawab menjalankan perusahaan. Laba perusahaan akan masuk ke kaum miskin setempat sebagai dividen, dan dipakai membangun lebih banyak jembatan. Banyak proyek infrastruktur seperti jalan, jalan tol, bandara, dermaga, pabrik-pabrik peralatan bisa dibangun dengan cara ini.
Grameen telah menciptakan dunia bisnis sosial tipe pertama. Yang sate adalah pabrik yoghurt, memproduksi yoghurt yang diperkaya untuk memberi asupan gizi bagi anak-anak kurang gizi, sebagai sebuah perusahaan patungan dengan Danone. Perusahaan ini akan terus berkembang sampai semua anak-anak gizi buruk di Bangladesh mendapat yoghurt. Lainnya adalah jaringan rumah sakit mata. Tiaptiap rumah sakit menjalankan 10.000 operasi katarak tiap, tahunnya dengan harga berbeda-beda antara yang kaya dan yang miskin.

Bursa Saham Sosial

Untuk mengubungkan investor dengan bisnis sosial, kita perlu menciptakan bursa saham sosial di mana hanya saham-saham bisnis sosial yang diperdagangkan. Seorang investor mendatangi bursa saham ini dengan tujuan jelas menemukan sebuah bisnis sosial dengan misi sesuai keinginannya. Barangsiapa cuma ingin mendulang uang ia bisa datang ke bursa saham konvensional yang sudah ada.
Untuk memungkinkan bursa saham sosial berkinerja secara layak, kita perlu mendirikan badan-badan pemeringkat, standarisasi terminologi, definisi, perangkat pengukur dampak, format pelaporan, dan berkala-berkala finansial baru seperti The Social Wall Street Joumal. Sekolah-sekolah bisnis akan menawarkan kursus-kursus dan gelar manajemen bisnis bidang bisnis sosial untuk melatih manajer-manajer muda cara mengelola perusahaan bisnis sosial dengan cara yang paling efisien, dan yang paling penting, mengilhami mereka untuk sendirinya menjadi usahawan sosial.

Peran Bisnis Sosial dalam Globalisasi

Saya mendukung globalisasi dan meyakininya bisa membawa lebih banyak manfaat bagi kaum miskin ketimbang alternatifnya. Tapi harus globalisasi dalam bentuknya yang benar. Bagi saga, globalisasi ibarat jalan tol seratus lajur yang malang melintang di sekujur dunia. Kalau jalan tol ini bebas buat semua, lajur-lajurnya akan diserobot oleh truk-truk raksasa dari negara-negara yang perekonomiannya kuat. Becak Bangladesh akan terdepak keluar dari jalan tol. Guna meraih globalisasi yang sama-sama menguntungkan semua pihak kita harus punya aturan lalu lintas, polantas, dan otoritas lalu lintas untuk jalan tol global ini. Aturan main yang kuat dapat semua harus diganti dengan aturan main yang menjamin bahwa kaum termiskin mendapat tempat dan bagian dari aksi, tanpa didepak keluar oleh yang kuat. Globalisasi tidak boleh menjadi imperialisme finansial.
Bisnis-bisnis sosial multinasional yang kuat bisa diciptakan untuk memetik manfaat globalisasi bagi kaum miskin dan negara miskin. Bisnis-bisnis sosial akan memberi kepemilikan kepada kaum miskin, atau menjaga laba tetap berada dalam negara-negara miskin, karena menumpuk dividen bukanlah tujuan mereka. Investasi asing langsung oleh bisnis-bisnis sosial luar negeri akan menjadi berita menggembirakan bagi negara-negara penerimanya. Membangun perekonomian yang kuat di negara-negara miskin dengan melindungi kepentingan nasional mereka dari perusahaan-perusahaan penjarah akan menjadi bidang minat utama bisnis-bisnis sosial.

Kita ciptakan Apa yang Kita Mau

Kita dapatkan apa yang kita mau, atau apa yang tidak kita tolak. Kita mengamini fakta bahwa akan selalu ada orang miskin di sekitar kita, dan bahwa kemiskinan adalah takdir manusia. Justru inilah sebabnya mengapa orang miskin terus ada di sekitar kita. Bila kita meyakini sungguh-sungguh bahwa kemiskinan itu sama sekali tidak bisa kita terima, dan bahwa kemiskinan tidak boleh ada dalam masyarakat beradab, kita pun akan membangun lembaga-lembaga yang sesuai serta kebijakan-kebijakan yang menciptakan dunia yang bebas dari kemiskinan.
Kita ingin pergi ke bulan, maka pergilah kita ke sana. Kita bisa mencapai apa yang memang ingin kita capai. Bila kita tidak mencapai sesuatu, itu karena pemikiran kita belum tertuju penuh padanya. Kita ciptakan apa yang kita mau.
Apa yang kita inginkan dan cara kita meraihnya bergantung pada pola pikir kita. Sungguh sulit mengubah pola pikir begitu sudah terbentuk. Kita ciptakan dunia seturut pola pikir kita. Kita perlu menciptakan cara untuk mengubah perspektif kita terus menerus dan menata ulang pola pikir kita begitu ada ilmu baru yang berkembang. Kita bisa menata ulang dunia bila kita menata ulang pola pikir kita.

Kita Bisa Museumkan Kemiskinan

Saya yakin kita bisa menciptakan dunia yang bebas-kemiskinan karena kemiskinan tidak dibikin oleh rakyat miskin. Kemiskinan diciptakan dan dilestarikan oleh sistem sosial-ekonomi yang kita rancang sendiri; pranata-pranata dan konsep-konsep yang menyusun sistem itu; kebijakan-kebijakan yang kita terapkan.
Kemiskinan tercipta karena kita membangun kerangka teoretis berdasarkan asumsi-asumsi yang merendahkan kapasitas manusia, dengan merancang konsep-konsep yang terlampau sempit (seperti konsep bisnis, kelayakan kredit, kewirausahaan, lapangan kerja) atau mengembangkan lembaga-lembaga yang belum matang (seperti lembaga-lembaga keuangan yang tidak mengikutsertakan kaum miskin). Kemiskinan disebabkan oleh kegagalan pada tataran konseptual, dan bukan kurangnya kapabilitas di pihak rakyat.
Saya percaya sepenuh hati bahwa kita bisa menciptakan dunia yang bebas-kemiskinan bila secara kolektif kita mempercayainya. Dalam dunia yang bebas-kemiskinan, tempat satu-satunya Anda bisa melihat kemiskinan adalah di museum-museum kemiskinan. Ketika anak-anak sekolah berkunjung ke museum-museum kemiskinan itu, mereka akan ngeri melihat kesengsaraan dan kehinadinaan yang harus dilalui sebagian umat manusia. Mereka akan menyalahkan leluhurnya karena mentolerir kondisi yang tidak manusiawi yang sudah berlangsung begitu lama atas begitu banyak orang ini.
Seorang manusia lahir di dunia ini dengan bekal penuh bukan hanya untuk mengurusi dirinya sendiri saja, tetapi juga turut menyumbangkan upaya untuk memperluas kesejahteraan dunia secara keseluruhan. Ada yang punya peluang untuk menggali potensi mereka sampai takaran tertentu, tapi banyak lainnya yang tak pernah mendapat kesempatan apapun seumur hidupnya untuk menguak bakat-bakat menakjubkan yang hadir bersama kelahirannya. Mereka mati tanpa pernah tergali dan dunia tak pernah merasakan kreativitas dan sumbangsih mereka.
Grameen telah memberi saya keyakinan tak tergoyahkan mengenai kreativitas manusia. Hal ini telah membuat saya meyakini bahwa manusia tidaklah terlahir untuk menderita sengsara akibat kelaparan dan kemiskinan.
Bagi saya orang miskin itu seperti pohon bonsai. Manakala Anda menanam bibit terbaik dari pohon tertinggi dalam pot kembang, Anda pun mendapat replika dari pohon tertinggi itu, namun tingginya hanya sekian inci. Tak ada yang salah dengan bibit yang Anda tanam, hanya lahannya saja yang sama sekali tidak memadai. Orang miskin itu orang bonsai. Tak ada yang salah dengan bibitnya. Sederhana saja, masyarakat tak pernah memberi mereka lahan untuk bertumbuh kembang. Yang diperlukan untuk membuat masyarakat miskin keluar dari kemiskinan adalah menciptakan lingkungan yang memberdayakan mereka. Begitu kaum miskin bisa melejitkan energi dan kreativitas mereka, kemiskinan akan lenyap dengan cepat.
Mari kita bergandeng tanga untuk memberi setiap makhluk manusia kesempatan yang adil untuk melejitkan energi dan kreativitas mereka.

Bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian,
Akan saya sudahi dengan menyatakan penghormatan saya yang mendalam kepada Komite Nobel Norwegia karena mengakui bahwa masyarakat miskin, khususnya kaum perempuan miskin, punya potensi sekaligus hak untuk menjalam hidup dengan layak, dan bahwa kredit mikro, bisa turut melejitkan potensi itu.
Saya percaya bahwa penghargaan yang Anda berikan pada kami ini akan mengilhami lebih banyak lagi inisiatif-inisiatif berani di seluruh dunia untuk membuat gebrakan bersejarah dalam mengakhiri kemiskinan global.
Terima kasih banyak.

Dikutip dari : BANK KAUM MISKIN, Kisah Yunus dan Grameen Bank Memerangi Kemiskinan, (Terjemahan Irfan Nst; Jkt.: Marjin Kiri, 2007), p.261-75

Anda juga bisa membaca versi pdf, disini

Advertisements

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s