Ai saluhut pambahenanNa hasintongan do, jala angka lapangNa hatigoran, jala tarbahensa do pajepolhon manang ise na marpangalahohon hajungkaton; Daniel 4, 37b

Bukan salah bunda mengandung, kata pepatah mesti kita akui bahwa memang setiap program dan aksi didunia ini memang tidak bisa luput dari kesalahan. Semua orang berlomba untuk meminimalisir sebuah kesalahan dan membuatnya sesedikit mungkin. Dan itulah yang dikerjakan orang sekarang ini supaya jangan ada kesalahan, dan pada akhirnya pengalaman itu menghasilkan pemikiran bagaimana supaya jangan terjadi kesalahan yang sama untuk kedua kali. Misalnya, nas hari ini tertulis dalam Almanak saya adalah Dan 4, 34b seharusnya 37b, bukan!?

Teks ini adalah bagian dari pengakuan seorang Nebukadnezar, yang adalah raja yang sangat berkuasa semasa hidupnya. Ia memerintah untuk kerajaan yang besar dan lama pula, itu tampak dalam mimpinya “sebatang pohon yang sangat besar, kuat dan dibawahnya semua makhluk di bumi berlindung dan mencari nafkah. Tapi sayang, tidak ada pohon yang terlalu besar dan terlalu kokoh untuk diperbandingkan dengan Tuhan yang maha kuasa. Karena itu pohon besar menjulang sampai ke langit itu harus ditebang, diratakan dengan tanah, dan memang sama dengan makluk yang lainnya, mencari makanan dan nafkahnya dari rumput. Apa yang tersisa adalah akar, tungkulnya dan ditambatkan ke tanah dengan tembaga dan besi.

Mimpi itu diterjemahkan oleh Beltsasar, yaitu Daniel hamba Allah yang percaya itu. Sorga, menunjuk pada langit dimana Allah berdiam dan bersemayam berkuasa dan penuh hikmat untuk mmeberikan apa yang perlu bagi seluruh ciptaan. Tidak ada yang terlalu sukar baginya, tidak ada misteri yang terlalu sulit untuk dipecahkan. Fana dan terbataslah rupanya hakikat manusia, makhluk itu. tinggallah kebenaran dan keadilan Allah tiada tara seharusnya kita hidupi. Tidak perlu menunggu direndahkan seperti Nebukadnezar yang menggangap dirinya tinggi dan berkuasa, untuk menyadari Allah ada diatas segalanya. Tidak perlu menunggu jatuh, untuk menyadari tidak ada gunanya menyombongkan diri, dan mengandalkan diri sendiri. Tidak perlu menunggu menjadi sakit terkapar menyadari bahwa kesehatan dan kebugaran tubuh itu penting, demikian juga rohani kita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s