Guru 2008 : Pahlawan Pembangun Insan Cendikia

Dulu aku bersekolah di SD Negeri 010115 Pulau Rakyat. Sekolah ini katanya sudah termasuk warisan yang cukup lama, dan termasuk diperhitungkan pada waktu itu. bukan karena ibuku termasuk salah satu guru disitu, ada juga pak Sambot (maksudnya entahlah tapi itu julukan Pak Samosir, sang kepala sekolah saat itu), bu Hutahaean, bu Payung dan guru khusus kelas satu tentunya, bu Zainab. Entah sudah dimana dan apakah mereka masih hidup sekarang ini.
Dulu karena ibu saya adalah juga guru dan kebetulan juga seorang istri pendeta, jadilah saya bisa masuk ke kantor guru waktu istirahat. Ada juga besar kepala kalau sekarang diingat bahwa anak-anak guru lain saja tidak ada yang berani duduk di kursi kepala sekolah.
Disitu ada sebuah globe cukup besar, ada roller atau sejenisnya yang mungkin dipakai sebagai penggaris. Jadi bukan kayu, atau plastik seperti biasa yang dipakai orang. Hmm, bagaimana rasanya ya?
Tapi terus terang saja memang, saat itu melihat kepala sekolah ini semua anak takut minimal jerih juga berjumpa dengan dia. Entah karena guru yang termasuk sudah senior dan dituakan, apalagi mungkin kalau tidak salah ingat menjadi penatua di gereja kobun.
Guru-guru pada saat itu, ya sekitar tahun 1985-an mungkin saat saya masih kelas 3-4 SD sangat meyakinkan. Mereka pasti berperan besar bagi anak didik. Lagi pula saat itu anak didik sebuah sekolah atau SD belum seperti sekarang yang kebanyakan terpaksa harus disatukan unifikasi dengan sekoah lain yang terdekat karena kurangnya anak didik dan banyaknya sekolah dasar, SD Negeri dan SD Inpres yang berdekatan jaraknya.

Pernah juga ibu saya terpaksa harus mendapat tegoran karena perilaku kami anak-anaknya. Karena kami kebetulan harus tinggal di rumah dinas SD yang baru dibangun itu, jadi memang sedikit banyak ada tingkah kami yang kurang sesuai dengan pandangan mereka orang-orang tua ini. Jadilah, kadang-kadang kasihan melihat ibu saya yang harus lagi berkotbah di rumah, maksudnya kepada kami supaya jangan lagi mengulangi perbuatan yang dimaksud.

*
Seingat saya, memang guru disekolah Negeri ini cukup kompak. Ada juga beberapa guru yang berbeda agama, namun dalam ingatan kami semuanya memang cukup akrab. Mereka berusaha menampilkan peranan guru yang bisa menjadi teladan dan tiruan. Tapi memang sejak semula mungkin disitu masalahnya, kadang mereka juga datang terlambat mungkin karena alasan satu dan lain hal urusan rumah tangga, pekerjaan dll. yang paling sering pasti adalah masalah kesejahteraan mereka sendiri.
Tapi pendidikan apakah yang kuterima disana?? Seingatku memang, pelajaran menghafal-lah yang paling sering disuarakan dalam pengajaran guru-guru ini, mungkin termasuk ibu saya. Karena beliau adalah guru Matematika, mungkin. Tapi juga pelajaran menghafal yang lain, semuanya IPS, IPA, PMP, Penjas, Matematika, PSPB, akh saya lupa entah pelajaran menghafal apa lagi.

**
Tapi tidak semua !! Mereka pasti sedikit banyak dalam benak mereka mau mengajarkan juga moral kepada anak-anaknya. Lihatlah, seragam PGRI mereka dengan bangga mereka usahakan pakai minimal pada saat upacara bendera pada hari senin. Hari senin itu seingat saya, mereka semua Pak Sambot, Bu Hutahaean (yang kemudian menjadi kepsek disini pasca pak Sambot), Bu Sormin, Bu Idang, Bu Nurainun, Bu Zainab (terakhir saya dengar putrinya mengikuti jejaknya menjadi guru SLTP di Air Batu; tapi akh, saya lihat sendiri anaknya itu ditabrak truk saat antri di depan SMP itu). ada juga bu Payung, Bu Hutapea, Bu Saragih dan penjaga sekolah Pak Jamin (eh sekarang dia sudah berhenti mungkin karena usaha rumah makannya pasti jauh lebih menguntungkan daripada pekerjaan yang mentok pada golongan IIB itu). Ya mereka pasti mau memberikan tiruan dan teladan moral kepada anak didiknya. Meski dengan ilmu yang paspasan (ibu saya tamat SPG (Sekolah Pendidikan Guru) baru saja menyelesaikan pendidikan D2 maksudnya Strata Diploma Dua, itupun karena mengusul menjadi kepala Sekolah hehe…katanya dosennya saja teman-temannya sesama pegawai di dinas Asahan). Lihatlah, betapa memang mereka mau menajarkan sesuatu yang cukup berarti kepada anak-anak. Bukan saja untuk diingat, tapi juga untuk dilakoni dan menjadi pedoman hidup, itu pasti selalu mereka ucapkan saat dihunjuk menjadi pembina upacara dalam setiap pengarahannya. Hmm, betapa bangganya mereka pasti bisa berbicara dihadapan para murid dan koleganya apalagi ada pak Sambot disitu mungkin. Mungkin prestise, tapi itulah dulu kenangan yang saya ingat.
Hasilnya?? Anda tahu. Banyak juga anak didiknya yang berhasil. Mereka bisa menjadi pegawai negeri, ada pula yang berwiraswasta, ada yang menjadi pengusaha, dll. Pernah dulu ada bekas murid mereka menjadi perwira, dan rupanya pingin juga dia mengunjungi bekas sekolahnya itu. Jadi dia diarak tiap kelas memberikan sepatah kata sebagai motivasi kepada anak-anaknya. Lihatlah wajah gurunya, berbinar. Dia bilang, itulah bekas muridku dulu. Entah dia, entah guru yang lain, tapi yang pasti guru selalu berperan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa sebut Orde Baru.
Kadang-kadang payah juga mereka kelihatannya, apalagi jika menjadi guru kelas. Mereka mau sampai berlama-lama membagi dan menghitung daftar nilai anak didiknya, memberi penilaian yang harus diisi di Rapot karena besok sabtunya harus dibagi. Berharap pula dia akan ucapan terimakasih dari orang tua si anak didik, karena memang orang tua sengaja diundang untuk mengambil rapot anaknya, minimal uang capek. Pengganti tinta pulpen katanya pula, Bah… Waktu yang ditunggu mereka sebenarnya juga adalah Hari Guru tanggal 25 Nopember. Tidak tahu kenapa hari itu, mungkin ada juga peran Ki Hajar Dewantara atau pahlawan pendidik lainnya, entahlah. Disitu juga sebenarnya guru tidak terbebas, karena harus membebankan anak didik dengan uang ini dan uang itu kutipan khusus untuk Hari Guru. Kata mereka sering, masakan selama enam tahun kau kudidik tidak ada ucapan terimakasihmu kepadaku. Nyanyian kau selalu Pahlwan Tanpa Tanda Jasa, betul. Tapi punya perasaanlah. Sebenarnya saya tidak tahu bilang apa, senang atau sedih karena ibu saya adalah juga guru disitu. Apakah mereka memang pantas menjadi Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Patutkah mereka menjadi pendidik anak-anak bangsa. Layakkah mereka sebagai Guru ..

***
Ok lah. Mulai tahun 1994 katanya lagu Pahlawan Tanpa Tanda Jasa diberlakukan untuk dinyanyikan pada setiap peringatan hari guru. Lagu itu disimak dari syairnya memang menggambarkan para pendidik ini adalah Pahlawan Bangsa yang tidak menerima tanpa tanda Jasa. Sebagai Obor pula menjadi penerang dalam kegelapan, cahaya. Hmm..
Besok hari Guru apa. Sertifikasi guru masih menjadi masalah, menjelang hari Guru masih banyak guru honor dan tenaga bantu yang ketar ketir akan nasibnya. Mereka merongrong meminta agar status mereka segera ditetapkan menjadi pegawai. Setelah menjadi pegawai mau apa??
Lagi-lagi syair Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Mulai besok lirik terakhir ini (Pahlawan Tanpa Tanda Jasa) akan diganti menjadi Pahlawan Pembangun Insan Cendikia. Agak kecendikiawanan ya.. Mungkin penciptanya, Sartono tidak akan keberatan selama lagunya masih menjadi wajib dinyanyikan pada perhelatan Hari Guru. Informasi Kompas hari ini, 24 Nopember PGRI dan Ditjen Peningkatan Mutu Pendidikan & Tenaga Kependidikan Dep. Pendidikan Nasional sudah bernegoisasi dan sepakat untuk mensosialisasikan perubahan lirik itu mulai besok (25/11).
Ada apa gerangan dengan Pahlawan kita ini. Mungkin ada juga pikiran bahwa peran guru tidak lagi hanya sebagai pendidik hafalan saja, tapi sudah lebih menjurus pada pendidik moral dan pembelajaran modern. Cendikia, cendikiawan menggambarkan kepintaran, kecerdasan, kecakapan, dan keterampilan seseorang. Apakah itu berbicara, berbuat dan berfikir. Lihatlah KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) yang dikeluarkan oleh Balai Pustaka di Jakarta tahun 2003 mengartikannya sebagai : tajam pikirannya; lekas mengerti; cerdas; pandai – cepat mengerti situasi dan pandai mencari jalan keluar; cerdik – terpelajar, cerdik pandai, cerdik cendikia. (p. 206). Jadi semua gagasan pendidikan ini akan diarahkan pada pembelajaran ke manusia yang cerdik pandai.
Pernah juga mungkin terfikir bahwa gagasan pendidikan adalah bertujuan menciptakan manusia yang smart. Betul cendikia mungkin adalah bahasa Indonesia tulen. Jadi smart juga kurang lebih berarti sama dengan tujuan ini, menjadikan anak bangsa yang cendikia, terpelajar. Dia bukan hanya pandai, pintar dan cerdik, tapi juga berisi dengan moral yang luhur. Insan seperti ini akan tercipta dari para guru yang menjadi pahlawan yang siap mencetak insan Indonesia, anak-anak bangsa yang tangguh akan ilmu dan berisi pula moralnya kepada Tuhan yang Maha Esa.
Selamat Hari Guru kepada seluruh GURU di Indonesia, dan khususnya guru-guru di SD Neg 010115 Pulau Rakyat.

Advertisements

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s