Ida ma, dumenggan do roha panangihon sian pelean sipotongon, jala dumenggan do marateatehon hata i, asa tabotabo sian birubiru tunggal; 1 Samuel 15, 22b

Di penghujung minggu-minggu persembahan ini, marilah kita dengan rendah hati mengakui bahwa persembahan kita tidak otomatis berhubungan dengan kedaulatan Allah untuk menerima atau tidak. Tentang pemberian sebagai persembahan kita dengan kedaulatan Allah untuk menerima atau tidak adalah urusan berbeda. Jadi kita, dengan apa yang kita bawa dan persembahkan sebenarnya bukan “umpan-pancingan” atau bahkan memaksa Tuhan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan kita.

Janganlah bicara tentang “tabotabo” kepada orang Batak. Jenis lemak dari hewan yang dipotong ini menjadi salah satu favorit; disup, direndang, diarsik dlsb. Hmm, lezat. Jadi jauh lebih lezat lagi mendengar dan menyimak firman daripada mengandalkan persembahan jenis ini untuk menyenangkan hati Tuhan. Ini berarti, bahwa Tuhan lebih bersukacita melihat orang yang dengan setia dan taat pada-Nya melalui pendengaran dan hatinya untuk firman-Nya. Persembahan “telinga dan hati” ini jauh lebih harum dan lezat untuk Tuhan; daripada korban sembelihan dan lemak-lemak domba jantan.

Dari pendengaranlah tumbuh pengenalan dan kepercayaan (Roma 10, 17). Dan pendengaran yang dimaksud adalah pendengaran yang juga menggunakan hati, tempat dimana merenung dan merenung akan firman itu. Dari situ terpancarlah kepercayaan kepada sang Illahi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s