Pasahat hamu ma dagingmuna bahen pelean na mangolu, na badia, na hinalomohon ni Debata; i ma hadaulaton ni na marroha; Rom 12, 1

Bagi Rasul Paulus, persembahan adalah perwujudan dari persekutuan dan tanggung jawab bersama pembangunan tubuh Kristus. Karena itu, janganlah pemberian itu didorong hanya karena rasa segan kepada seseorang. Jangan hanya karena kebiasaan tanpa kesadaran. Jangan hanya karena ada kewajiban yang harus ditaati. “Pada hari pertama dari tiap-tiap minggu hendaklah kamu masing-masing-sesuai dengan apa yang kamu peroleh, menyisihkan sesuatu dan menyimpannya di rumah, supaya jangan pengumpulan itu baru diadakan, kalau aku datang” (1 Kor 16:2). Seperti Tuhan memberkati Anda secara teratur, dengan teratur pula hendaklah Anda menyatakan rasa syukur kepada-Nya!
Sebagian besar pekerjaan Paulus, di samping mengabarkan Injil dan mendirikan Gereja Tuhan, adalah mendidik anggota-anggota Gereja di dalam hal persembahan. “Bantulah dalam kekurangan orang-orang kudus,” demikian tulisnya dalam Roma 12: 13, dan yang diulang-ulangnya dalam surat-suratnya yang lain. Itu adalah kewajibanmu!
Kepada jemaat Makedonia ia mengatakan : Kamu telah mendapatkan berkat rohani dari Yerusalem, kini nyatakanlah syukurmu dengan mengirimkan berkat-berkat jasmani bagi jemaat yang sedang kelaparan itu! Rasul Paulus menekankan persembahan yang diberikan dengan kerelaan dan kesukaan. Tetapi la pun mengingatkan bahwa yang menabur sedikit akan menuai sedikit, dan yang menabur banyak akan menuai banyak Pula. Karena itu ia tidak hanya mengatakan: Berikanlah kepada Tuhan sebanyak yang kamu rela, tetapi berikanlah dengan rela seberapa yang kamu mampu.

Jemaat itu adalah satu tubuh, satu keluarga besar. Karena itu, kalau anggota-anggota tubuh itu yang ticlak mau bertanggung jawab atas kehidupan anggota-anggota lain dari tubuh itu—juga dalam hal persembahan, maka orang itu perlu dicela. “Tetapi jika ada seorang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak beriman” (1 Tim 5:8).
Besar kecilnya persembahan kita memang tidak menjadi ukuran besar-kecilnya iman dan rasa syukur kita kepada Tuhan. Tetapi sebaliknya, besar kecilnya iman dan rasa syukur kita kepada Tuhan, akan tampak melalui apa yang kita persembahkan kepada-Nya!
Ada sebuah sajak yang berbunyi:

Love so amazing, so divine demand my soul, my life
—and six pence
.

Atau dalam terjemahan bebasnya:

Wahai kasih yang begitu ajaib, begitu dahi yang mengikat seluruh jiwa, seluruh hidupku. —tapi hanya sepuluh perak dari kantongku.

Bukankah itu yang sering terjadi?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s