50% dan 100% : Tentang Membangun TRUST di CUM HKBP 1

Di lingkungan Sumatera Timur yang masyarakatnya mayoritas adalah Batak, memang ada kesulitan dalam menerapkan prinsip perlunya kejujuran yang dimulai dari orang perorang. Ada istilah, disini tumagon ma jawa i nidonganan, lebih baik berhubungan dengan orang jawa, karena kira-kira artinya mereka secara umum lebih jujur dan kesannya apa adanya.
Kepercayaan yang mesti dimulai hari ini bukan berarti asal-asalan. Asal percaya, asal ada bukti. Namun kepercayaan terutama dari sebuah lembaga, misalnya unit pelayanan HKBP perlu juga dikembangkan sejak dini. Pimpinannya memang harus menjadi pengambil keputusan dalam keikutsertaan lembaga atau unit itu sebagai penyandang dan penyimpan dana di CUM HKBP.
Saling percaya, masihaposan diantara para pelayan juga menjadi satu perhatian penting. Mungkin karena banyaknya jumlah pelayan HKBP kini, ditambah lagi jamaknya pemikiran dan gagasan yang memberangkatkannya dan kepentingan masing-masing kepercayaan kepada sesama juga menjadi sulit. Karena itu kepercayaan ini mungkin diawali dengan pendekatan struktural masih menjadi pilihan; karena bagaimana mungkin pimpinannya saja tidak peduli dan concern dengan CUM HKBP apalagi para anggota dan satffnya.

2. Hari Esok Juga
Nilai kejujuran ini harus dimulai juga diantara para pengurus dan pelaksana (pengelola) hariannya di CUM HKBP. Sudah menjadi rahasia umum yang paling banyak dipermasalahkan orang saat memasuki wilayah keanggotaan di sebuah koperasi dan credit union adalah kepercayaan terhadap para pengurusnya. Kapabilitas individu dari kepengurusan masih menjadi nomor berikut dalam pandangan seseorang. Percaya dapat diawali dari kenal atau tidak, jujur atau tidak. Karena biasanya jika si anggota tidak jujur hal itu gampang saja terlihat dan kentara, misalnya anggota yang tidak membayar simpanan wajibnya tiap bulan, atau yang tidak membayar angsuran dari pinjaman berjalannya.
Tapi kalau pengurus yang bermasalah, atau uang ditilep oleh pengurus siapa anggota yang tahu kalau bukan kepengurusan sendiri yang memberitahukannya. Meski ada team pengawas, audit bisa-bisa saja pengurus mengecoh dari pembukuannya.
Karena itu, sistem akuntansi pembukuan CUM HKBP memang sengaja diciptakan untuk menutup pembukuan secara harian, mingguan atau bulanan. Jadi keadaan keuangan tidak didapat dengan mesti mengumpulkan buku yang ada pada beberapa orang pengurus, namun didapat dengan satu pembukuan yang ada pada managerial dan sama untuk semua, gampang dibaca dan transparan serta akuntabilitasnya dapat dijamin.
Usaha ini termamsuk menciptakan nasabah atau anggota emosional adalah salah satu prinsip lainnya yang mestinya dapat diwujudkan dalam lembaga keuangan ini. Kita berhutang pada lembaga keuangan syariah, BMT dan lain-lain yang bernafaskan islamiah. Mereka bisa membangun sebuah pandangan syariah menjadi fanatisme positif, dengan mengedepankan wawasan anti riba. Bukan tidak mungkin CUM HKBP melalui gereja bisa mengembangkan these baru, perlu adanya kepedulian khusus tentang pelayanan gereja dan menghapuskan apatisme atas apa saja yang menjadi pelayanan gereja. GKPI misalnya berhasil menjemaatkan “Sabas na mar-gekape-i i”, atau HKBP dengan yel yel tahun Marturia, “Boan Sadanari”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s