SCRAP KOTBAH TANGGAL 12 Oktober 2008; Teks Roma 3, 23-8

Ngeri membayangkan apa yang terjadi dalam mengikuti berita-berita yang terjadi akhir-akhir ini. Sdr juga melihat bagaimana aksi kekerasan, anarkisme, dan tindakan kriminal lainnya dalam berita di negeri ini. Ada orang yang tega membunuh sesama dengan memotong-motong secara rapi tubuhnya, ada juga perempuan yang akan diwisuda terbunuh di kos-kosannya. Kita juga membaca bagaimana keadaan perekonomian, kejatuhan bursa saham dan nilai tukar rupiah bangsa ini terancam dan meski imbasnya mungkin tidak akan berakhir dengan krisis tetapi tetap saja membuat orang gelisah. Harga pupuk, sudah sulit didapat melonjak pula tinggi seiring dengan keadaan itu. Membayangkan semua ini banyak mungkin orang berfikir untuk mengikuti berita di media massa dan TV. Ada sekelumit perasaan, apakah semua yang terjadi belakangan merupakan fenomena yang harus diterima secara wajar pada zaman ini? Apakah sadisme, arak-arakan demonstrasi, bentrok massa antara pendukung yang satu dengan pendukung lainnya sudah mahfum? Atau apakah itu semua karena sudah menjadi tanda zaman lalu siap mengatakan bahwa itu semua sudah harus terjadi dan saya mesti menerima itu?

Firman ini secara jelas dituliskan rasul Paulus mengingatkan warga kristen yang berasal dari Yahudi dan non-Yahudi bahwa manusia itu pada dasarnya sudah berdosa. Tidak ada orang yang benar-benar luput dari tindakan dosa, meski sekecil apa pun itu dalam hidupnya. Orang yang melakukan atau secara menjelimet mengawal taurat, atau orang yang merasa dirinya benar sehingga patut menimbangi dan menghukum sesamanya, tidak ada yang benar-benar bebas dari tindakan dosa. Sebab, siapakah yang sebenarnya benar-benar dapat melakukan taurat 100%? Siapakah yang dalam minggu ini melakukan secara klop titah pertama hingga ke sepuluh dengan tidak henti?? Tidak ada. Jadi menurutnya, Taurat tidak menjadi patokan untuk mendapat keselamatan dan kehidupan kekal sebagaimana dibawa oleh Tuhan Yesus. Yang kita perlukan sebagai pendosa, adalah kasih karunia, anugerah dan pemberian sebagai anugerah dari Tuhan.

Kasih karunia dapat membawa pengharapan kepada kita akan keselamatan itu. Ia menjadi air penyejuk dimana kekeringan akan hidup dan makanan bagi kita yang kelaparan dan kehausan akan hidup yang kekal. Tapi Tuhan juga menuntut kita supaya menghidupi kasih karunia itu yang cuma-cuma, grace tidak dengan gratis. Ia memerlukan penerimaan hati dan kepercayaan. Jadi firman ini juga mengingatkan betap kita perlu menanggapi anugerah Tuhan melalui pengorbanan diri-Nya sendiri itu dengan tindakan dan perbuatan. Ini menjadi kritik teologi Minjung di Korea yang menganggap bahwa sola gratia hanya menjadi warisan kaku dari Barat yang menekankan karunia sebagai salah satu fundasi dari reformasi gereja. Jadi diperlukan sebuah aksi yang nyata atas orang yang menerima berkat dan anugerah Tuhan, yaitu melalui aksi sosial nyata membantu dan menguatkan sesama. Sola Gratia akan kehilangan maknanya, jika memang hanya diperdengarkan dan tidak dengan aksi nyata. Kita sebagai penerima belas kasih dan anugerah itu seharusnyalah menghargai pemberian itu, memaknai tenaga, kesehatan dan kemampuan yang diberikan Sang Belas kasihan untuk melakukan kehendak-Nya. Penerimaan seperti ini juga berarti bahwa tindakan dan perbuatan atas anugerah itu juga melakukan perintah Tuhan termasuk Taurat. Ia tidak meruntuhkannya, justru meneguhkan pelaksanaan Taurat.

Tentang kepercayaan atau iman. Nas yang paling bertanggungjawab dalam hal ini adalah Ibrani 11,1 “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan, dan bukti atas segala sesuatu yang tidak kita lihat”. Jadi melalui iman dibangun sebuah pandangan baru bahwa memang kebenaran Tuhan adalah kebenaran sejati. Iman sejati memandang bahwa kebenaran dan keadilan Tuhan adalah sesuatu yang bukan berdasar pada pertimbangan keadilan dan supremasi hukum di dunia, bukan berdasar pada keyakinan manusia apalagi hanya berdasar rasio. Ia menjadi kebenaran-kebenaran yang dari Tuhan sendiri, berdasar kemaha kuasaannya yang mungkin tidak akan dapat kita fahami dengan pemikiran dan akal sehat kita. Ia menjungkirbalikkan semua pemikiran dan pertimbangan manusia. Walau Ia belum dapat kita fahami, Dia mau menyatakan diri dan kita mendekatinya dan berusaha mengamininya dengan iman saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s