Ajari hamu ma angka na ganggu roha i! Palua hamu ma nasida, rampas hamu ma nasida sian api!; Judas 1, 22-23a

Dulu waktu Op Debora masih menyetir sendiri mitsubitshinya membawa orang dan barang ke Pekan Sidamanik dari Jorlang Huluan, orang sering tertawa geli melihat tingkahnya. Memang waktu itu jalan belum terawat seperti sekarang. Di sepanjang jalan banyak semak dan dahan-dahan pohon yang bergantungan seakan bertemu ke seberangngya hendak bersalaman. Dia sering kali menundukkan kepala begitu dalam saat melewati dahan-dahan itu takut terkena sabetan dahan-dahan itu. padahal ada kaca depan mobil, jadi dia tidak mungkin kena bukan. Atau jika berpapasan dengan pejalan lain, dia setengah berbisik berkata “Awas! Awas Ne! Pinggir!”; padahal semua orang sudah meminggir karena mendengar raung mobilnya yang keras. Terlepas dari kehati-hatiannya, karena memang perlu waspada berlalu lintas, namun tingkahnya sering mengundang tawa geli. Terlalu takut dia, kata orang.

Memang, pilihan demi pilihan mesti kita ambil dalam hidup. Kadang-kadang pilihan gampang saja, tanpa berfikir panjang pun kita dapat memutuskan mana yang paling baik untuk kita. Tetapi tidak jarang pula, pihan itu sulit kalau bukan sangat sulit dan dilematis. Kita harus mempertimbangkan ini dan itu, mengingat dan menghitung kira-kira apa yang akan terjadi, dst. Kita sering galau karena ada banyak pilihan dan pilihan itu ternyata tidak gampang, dan penuh resiko. Jadilah kita bingung, sampai kadang-kadang putus asa. Kita juga sering dihadapkan pada kenyataan tidak ada pilihan. Ini juga menjadi sulit, sebab bagai kerbau dicocok hidungnya kita tidak bisa beralih ke yang lain, dan hanya mengikut saja walau itu tidak sesuai atau katakanlah seharusnya bukan pilihan kita.
Atau keadaan kita seperti anekdot Eka Darmaputera, dalam hidup yang terus menerus berkembang dan penuh pilihan. Ibarat menonton satu film di bioskop, kita masih mengantri membeli tiket dan orang-orang sudah keluar dengan beringas dan berteriak “Filmnya tidak bagus; tidak patut untuk ditonton!!” Apakah kita harus terus menunggu dalam antrian atau sebaiknya kita pergi saja pulang karena menurut orang filmnya tidak layak ditonton.

Jadi firman ini mengajak kita supaya selalu berada dalam keadan memilih dan memutuskan apa yang terbaik bagi kita. Entah darimana kesimpulan ini, tapi itulah juga sebuah pilihan bukan. Tidak ada tempat lain untuk meminta peneguhan bahwa keputusan yang kita ambil hari ini, sekarang dan waktu-waktu lainnya selain dari Tuhan. Berani mengambil keputusan yang terbaik bagi kita dan orang lain, berani (atau rela) pula menyediakan tempat bahwa Tuhan-lah yang akhirnya memutuskan segalanya yang terjadi dalam kehidupan kita. Bagaimana pun sulitnya pilihan itu, kita mesti memilih bukan.Asal dengan Tuhan kita memilih dan bertindak. Tidak ada yang terlalu berat dan terlalu beresiko di tangan Tuhan. Ia menisbikan semua yang kelihatan mustahil bagi manusia.
Tugas ini pula meminta kita menjadi pembawa damai dan penghiburan kepada orang-orang yang tetap dalam keraguan hidup, karena banyaknya pilihan hidup dan rongrongan perkembangan lingkungan dan pengaruh yang sangat cepat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s