Manang ise tongtong marholong ni roha, i ma aleale, alai tartuluk di hagogotan pe ianggo dongan situtu; Poda 17,17

Saya hampir selalu yakin bahwa aleale (huh, apa artinya ya kira-kira, mungkin lebih baik sahabat) tidak akan pernah sama dengan dongan (yang diterjemahkan LAI dengan saudara, lebih tepat). Aleale tidak akan pernah mengeluh bersahabat dan rela memberikan waktunya sebagai saudara dalam kesusahan dan kegembiraan. Disini ditempat kami, saya tahu mereka berteman tapi pertemanan mereka tidak bersahabat; raut mukanya, sikap dan pembicaraanya bagi saya betul-betul tidak menunjukkan persahabatan. Mungkin lebih baik ada ditempat lain daripada pertemanan yang dipaksakan cukup intens. Dan saya lagi-lagi yakin bukan itu maksud penulis wejangan amsal ini. Untunglah ditambahkan kata “situtu”, benar-benar, asli lho, untuk menunjukkan saudara sejati bukan hanya karena hubungan darah, karena ompung marahahamaranggi, marga, apalagi hanya dongan minum (tuak maksudnya, di lapo). Tapi aleale adalah orang tempat meminjam tangan, hati dan kepala. Yang rela meminjamkan tenaganya, waktunya dan fikirannya kapan saja, dan tidak segan-segan selalu meminjamkan cangkulnya untuk dipakai kapan saja.

Dan saya juga hampir selalu pasrah bahwa orang dapat dikenali dari sahabat-sahabatnya. Lingkungan dan orang-orang dengan siapa kita bergaul membentuk dan menjadi ciri kita sendiri. Orang-orang di kampung ini juga sudah tahu, tidak ada kawan yang sejati, selama itu adalah kepentingan-kesusahan sejati titik berangkatnya. Tidak lagi bersahabat lagi dengan keluarga batihnya – namun berfamili, tak bersahabat dengan tetangga – meski hombar balok, dan lagi tidak bersahabat dengan rekannya – biarpun dia rekan kerja, partner, atau satu kumpulan koor, tidak pula bersahabat dengan kenyataan – meski itu mesti dia hidupi.

Jadi dimana kan kucari sahabat dan saudara sejati. Aku akan mencarinya mulai dari diriku sendiri; dari lubuk hati sendiri, mencari tempat dan relung-relung yang ada bahwa disana tinggal diam persahabatan sejati, ada di ranah saudara situtu. Aku akan berdamai dan bersahabat dengan diri sendiri, dan tentu saja menjadikan Tuhan sebagai tolok ukur persahabatan sejatiku. Sesudah itu aku yakin bahwa ada orang, pribadi yang menjadi saudara melebihi saudara kandung, teman melebihi teman karib, aleale yang melebihi kenyataan yang mesti kuhadapi. Itu saja. Anda juga `kan punya aleale..!?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s