Ayat Bulanan Ini : Almanak HKBP Oktober 2008 Asa molo dibagasan Kristus halak, na tinompa na imbaru ma i. Nunga salpu pangalaho na robi, gabe na imbaru; 2 Kor. 5,17.

Saya baru tahu bahwa memang tugas seorang kristen bukan menunggu dan menunda-nunda pekerjaannya. Membaca Niebuhr, ada 3 sikap gereja atas dunia ini mengingatkan betapa pemikiran itu memang ada sekarang, eksklusif inklusitf dan transformatif. Tapi Pdt DTA walau mengulanginya mengartikulasikannya dengan berbeda. Ini benar-benar tuntutan zaman. Benar, gereja kita harus berbenah dan dengan rendah hati mengakui keterbatasan-keterbatasan kita dalam dunia yang mengglobal dewasa ini. Kita sudah kekurangan daya raih tangan, daya jangkau kaki kita dan tidak cukup berwibawa lagi (pendetanya) untuk mengingatkan, melarang ini dan itu.
Membaca tulisan Pdt DTA Harahap “Interaksi Gereja dan Budaya Batak dan Indonesia Modern” menyadarkan saya bahwa tugas itu betapa pun kecilnya harus dimulai sekarang. Karena Tuhan juga menginginkan kita dan gereja menjadi manusia dan ciptaan yang baru setiap mengawali dan melakukan pekerjaan. Setiap waktu dan pekerjaan adalah persimpangan dalam hidup untuk mengambil keputusan akankah menjadi “baru” atau “biasa-biasa saza”.

Saya juga baru tahu, Pdt Tati di yahoo360º-nya bilang, berjabat tanganlah dengan kenyataan, artinya beritikad baik menerima kenyataan bahwa inilah aku yang dijadikan Tuhan. Inilah pekerjaan, inilah jodoh, inilah hidup yang harus kujalani, dan bahwa Tuhan selalu berusaha menciptakan sesuatu menjadi baru. Bergumul dengan kenyataan, berjuang dalam realita hidup dan memutuskan untuk menerima bahwa keadaan itu yang terbaik diberikan Tuhan pada kita. Tokh, disitu kita disuruh untuk memilih dan berinisiatif untuk menghidupi dan merangkulnya sebagai kenyataan hidup. Sebagai pelayan, kata seorang pendeta sering kita mengalami “mati kecil” apabila kita merasa tidak nyaman, kerasan dan ada kekosongan dalam hidup dan pelayanan. pelayanan memang terus berjalan, tapi ada kekosongan dan lowong dalam diri. Ada keinginan berada ditempat dan kesempatan lain. Mungkin betul kita memerlukan retreat demi penyegaran. Jadi ingat refresh, F5 haha..

Beda tipis antara kebaikan dan kebodohan dan kedunguan, istilah orang-orang. Di zaman ini kebaikan dan kemurahan hati dianggap sebagai yang dekat sekali dengan kebodohan. Karena mau berlama-lama menunggu dianggap tolol, karena mau menolong bersusah-susah dianggap tidak efisien dan efektif lagi. Tidak dapat dibayangkan jika semakin banyak orang yang meyakini ini, akan ada kesusahan besar dalam budaya tolong menolong. Tanpa menghilangkan daya kritis, budaya dan prilaku saling menopang, membantu harus dihidupkan dan terus dikumandangkan orang kristen dan gereja. Tidak ada tindakan menolong dan membantu yang terlalu remeh meski cuman dapat ucapan terimakasih, mauliated.

Mengawali bulan ini, tadi malam dan sekarang kita mendengar suara takbiran dari saudara kita muslim. Bersahut-sahutan mereka menyukuri bulan rahmat menyelesaikan bulan ramadhan lalu. Pagi ini mereka akan mengadakan sholat Ied Idul Fitri. Ada apa dengan itu!? Apa artinya itu untuk kita, ada yang berbeda. Saya baru tahu dan lihat betapa mereka sangat menghidupi kesucian bulan ramadhan. Terlepas dari tuntutan agama dan mungkin fanatisme yang mengikutinya, harus diakui bahwa ibadah itu bagi mereka sangat sakral dan betul-betul butuh pengorbanan. Lihat saja nanti, ada berapa ekor kambing dan lembu dijadikan sebagai kurban. Jadi kita ..!?
Bulan ini gereja-gereja Batak, khususnya akan mengadakan pesta gotilon. Pesta gotilon (panenan) diadakan untuk memberi ucapan syukur karena Tuhan memberikan berkat sehingga sawah masih bisa kita usahai dan memberikan hasil padi. Tanah masih memberikan kehidupan kepada kita. Tapi, masih cukup berartikah ritus ini dalam gereja dan warganya..? Cukup sakralkah perayaan ini, atau cuma sekadar memenuhi lumbung padi dan memberikan sebagian ke gereja supaya ada tambahan ke hamauliateon parhalado atau pembangunan? Semoga tidak. Sejak semula perayaan ini untuk mengingatkan kita betapa Tuhan masih memberikan kita kekuatan, kesehatan dan fikiran untuk mengelola tanah, pekerjaan kita supaya menghasilkan buah-buah baik dan menjadi bekal hidup kita.

Tentang semua ini, firman Tuhan jelas menggariskan syarat pembaruan hidup adalah “di dalam Kristus; en kristo”. Tidak ada jalan lain, kita mesti diam dan tinggal di dalam Kristus supaya menjadi ciptaan dengan daya juang, daya hidup yang terus diperbaharui. Di dalam Kristus berarti ada penyerahan diri bahwa Tuhan-lah yang seharusnya bekerja dan menguasai kita. Saya memang baru tahu. Anda.. !?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s